Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Tiga Pekan, Masuk 40 Aduan Sarang Tawon

24 Januari 2019, 16: 31: 32 WIB | editor : Perdana

Tiga Pekan, Masuk 40 Aduan Sarang Tawon

SOLO – Belum genap sebulan, di awal 2019 ini, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Surakarta sudah menerima puluhan permintaan pemusnahan sarang tawon Ndas atau Vespa Affinis dari masyarakat. Adanya beberapa kasus kematian akibat disengat tawon di beberapa daerah membuat warga tidak mau ambil risiko memusnahkan sendiri sarang tawon.

Kepala Dinas Damkar Surakarta Gatot Sutanto menuturkan, hingga saat ini saja, pihaknya sudah menerima 40 laporan permintaan pemusnahan sarang tawon di Kota Bengawan. “Kami baru bisa memusnahkan 30 sarang tawon, sisanya akan kami kerjakan berikutnya,” katanya.

Pemusnahan sarang tawon, kata Gatot, rutin dilakukan oleh anggotanya hampir setiap hari. Pihaknya membagi beberapa tim yang khusus untuk tugas berbahaya ini.  “Pembagian tim ini agar tidak mengganggu tim damkar lain jika sewaktu-waktu terjadi peristiwa kebakaran. Sehari bisa dua sampai tiga titik (pemusnahan sarang tawon),” jelas Gatot. 

Pada musim penghujan ini, lanjut Gatot, tidak menutup kemungkinan permintaan pemusnahan sarang tawon akan meningkat. Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Damkar Kota Solo, dalam dua bulan terakhir pesanan pemusnahan sarang tawon memang meningkat drastis.

Banyaknya penanganan sarang tawon ini membuat damkar sempat mengalami kerepotan untuk mengakomodasi permintaan masyarakat. Bukan karena kekurangan personel, melainkan kurangnya bahan hingga peralatan dalam melakukan tugas tambahan tersebut. 

“Jujur kami akui, untuk bahan memusnahkan sarang tawon seperti foam dan perangkatnya kami kekurangan,” tuturnya.

Dari sisi penggunaan perangkat keamanan, Gatot mengungkapkan juga masih sangat terbatas. Sehingga masyarakat diminta bersabar untuk penanganan pemusnahan sarang tawon. “Kami hanya memiliki beberapa perangkat saja. Itupun harus bergantian. Sehingga masyarakat diminta untuk bersabar menanti giliran,” katanya.

Tak hanya itu, Gatot mengaku, personel damkar yang paham dalam pemberatasan sarang serangga ini juga masih minim.  “Memang selama ini bisa dikatakan sukses dalam pemberantasan sarang tawon. Namun, personel di lapangan butuh juga pengetahuan tentang perilaku serangga itu,” jelasnya.

Untuk itu,  ke depan pihaknya menginginkan supaya dalam penanganan pemusnahan sarang tawon tiap personel mengerti betul tentang perilaku dan cara penanganan yang efektif. Dengan demikian keselamatan petugas juga terjaga.

Gatot juga berpesan kepada masyarakat agar tidak segan meminta bantuan ke damkar dalam menangani sarang tawon. Mengingat, dari beberapa kasus yang terjadi serangga tawon ini masuk dalam kategori berbahaya.

“Sudah ada kasus serangan tawon yang mengakibatkan kematian. Maka dari itu, kami mengimbau kepada masyarakat untuk waspada dan tidak segan meminta bantuan untuk memusnahkan sarang tawon. Jangan ditangani sendiri,” tegas Gatot. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia