Sabtu, 25 May 2019
radarsolo
icon featured
Features

Kisah Pemburu Kelabang, Bertaruh Nyawa Demi Rupiah

25 Januari 2019, 07: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Alvi Andika memperlihatkan kelabang hasil buruannya.

Alvi Andika memperlihatkan kelabang hasil buruannya. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

PARA pemburu serangga berbahaya ini bukan kebal racun. Namun demi menyambung hidup mereka siap memburu si kaki seribu itu dengan segala risikonya.

Beberapa orang harus mencari uang dengan cara yang tidak lazim. Bahkan menjurus ke situasi yang berbahaya. Asalkan mendapat uang halal mereka siap dengan risiko tersengat racun hewan berbahaya tersebut.

Saat ini di Sragen terdapat sekitar 50 orang yang menjadi pemburu serangga jenis kelabang. Mereka setiap hari menyetor hasil buruannya ke pengepul untuk dikirim ke wilayah Kuwu, Kabupaten Grobogan. Salah satu diantaranya yakni Alvi Andika, 23, warga Dusun Teguhan, Desa Tempelrejo, Kecamatan Mondokan, Sragen.

Awalnya hanya ikut-ikutan, namun saat ini menjadi pekerjaan kesehariannya. Dia sudah sangat hafal dengan sifat kelabang, tempat persembunyiannya hingga menanggung risiko disengat hewan beracun itu.

Dia mengaku sudah 8 tahun menjalani profesi sebagai pemburu kelabang. Sejak usia 15 tahun dia mulai belajar menangkap kelabang dengan menyusuri kebun dan hutan. Bukan berarti dia tidak takut, namun demi menyambung hidup risiko tersebut diabaikan.

”Saya bukannya kebal, juga pernah tersengat. Rasanya nyeri sampai dua jam, tapi bengkaknya hingga berhari hari,” ujarnya sembari memainkan kelabang yang berhasil ditangkapnya.

Pria yang akrab disapa Dika ini menyampaikan tetap menggunakan alat untuk mendapatkan kelabang. Dia menggunakan pengais, jepit dan gunting untuk memotong sengat kelabang.

”Kalau sudah seperti ini, dipotong capitnya, pakai gunting,” jelasnya sembari memeragakan aksinya.

Dia mengaku masih tergolong junior untuk mencari kelabang meski sudah 8 tahun bergelut dengan hewan melata itu. Pihaknya menjelaskan masih banyak yang lebih senior dalam mencari kelabang ini. Tidak hanya di sekitar Sragen saja, Dika juga mencari kelabang hingga ke berbagai daerah, seperti Karanganyar, Purwodadi, Boyolali, Wonogiri, Klaten, Ngawi, Madiun dan Ponorogo.

Soal alasan dia menekuni pekerjaan ekstrem tersebut karena demi membiayai hidup sehari-hari dan kebutuhan ekonomi kedua orang tuanya. Dia sendiri memilih bertahan di Sragen sebagai pemburu kelabang daripada merantau.

”Sudah bosan bekerja merantau ke luar kota. Selain itu, harus menjaga keluarga yang berada di desa,” ungkapnya.

Dia bisa mendapatkan uang yang cukup lumayan dari memburu kelabang. Harga per ekor turun naik tergantung kondisi. Satu ekor kelabang saat ini dihargai oleh pengepul sebesar Rp 2.200. Namun jika sedang bagus, bisa sampai Rp 3.000 per ekor.

Selain risiko disengat racun, Dika mengakui saat ini semakin sulit mencari keberadaan hewan kelabang di alam liar. Dia sendiri dalam sekali berburu setidaknya bisa mendapatkan 50 ekor.

”Biasanya banyak sembunyi seperti di guguran daun jati, atau daerah yang tanahnya merah,” terangnya.

Sementara itu, pengepul kelabang Suwito, 50, warga Teguhan,Tempelrejo, Kecamatan Mondokan, mengatakan bahwa kelabang yang telah terkumpul dari  para pemburu, setiap tiga atau empat  hari dikirim ke Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan. Dia sendiri sudah 2 tahun terakhir menjadi pengepul kelabang.

”Sekali kirim belasan ribu kelabang. Saya setorkan ke bos saya di Grobogan. Kalau masalah kelabang ini buat apa saya juga kurang tahu. Informasinya untuk campuran ramuan obat di Tiongkok dan Korea,” jelasnya. (din/bun)

(rs/din/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia