Rabu, 24 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Solo

1.506 Warga Positif Mengidap TBC

25 Januari 2019, 16: 09: 08 WIB | editor : Perdana

GENCAR: Sosialisasi pencegahan TBC di CFD Jalan Slamet Riyadi. Pengobatan penyakit ini butuh kesabaran.

GENCAR: Sosialisasi pencegahan TBC di CFD Jalan Slamet Riyadi. Pengobatan penyakit ini butuh kesabaran. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta memberikan perhatian khusus terhadap kasus tuberculosis (TBC). Pada 2017, tim khusus penanggulangan dan pendampingan penderita TBC memeriksa sebanyak 1.665 warga. Dari jumlah tersebut, 723 warga dinyatakan positif TBC, 12 di antaranya berstatus multidrug resistant tuberculosis (MDR TB). 

Setahun berikutnya, pemkot menangani sebanyak 1.868 warga dengan temuan positif TBC sebanyak 783 orang, 17 di antaranya MDR. “Tahun ini  kita menargetkan memeriksa 1.140 orang. Kita harus temukan sebanyak-banyaknya penderita TBC hingga 2025. Setelah itu, kita fokus penanganan dan pengobatan, sehingga pada 2030 Solo dapat bebas TBC,” beber Sekretaris DKK Surakarta Purwanti, Kamis (24/1). 

Guna mewujudkan target tersebut, pemkot membentuk tim khusus beranggotakan 12 orang yang konsisten memantau dan memberikan pelayanan terhadap penderita TBC. 

Penderita TBC, lanjut Purwanti, harus selalu mendapat pendampingan. Mengingat pola pengobatan yang diberikan tidak seperti penyakit lainnya. Penderita TBC wajib mengonsumsi obat selama enam bulan secara rutin tanpa jeda. Jika sekali saja mereka berhenti, maka kembali dihitung dari awal.

Penderita yang berulangkali memutus pengobatan di tengah jalan berpotensi terkena MDR. Sebuah situasi di mana TBC memiliki kekebalan berlipat dari sebelumnya.

“Kalau sudah MDR, pengobatannya jadi dua tahun minum obat tanpa jeda. Makanya, kita melakukan pemeriksaan itu agar tidak ada penderita TBC. Kalau ada yang TBC, harapannya tidak sampai MDR. Karena penanganan MDR sangat menguras energi. Satu lagi risikonya, yang memberikan pengobatan bisa saja tertular,” papar dia.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan DKK Surakarta Evi Setyowati Pertiwi menambahkan, penderita TBC harus melaksanakan pengobatan hingga tuntas selama enam bulan dan dua tahun untuk pasien MDR.

Mayoritas pasien TBC merasa bosan meminum obat yang diberikan pendamping. Kasus lain, penderita TBC merasa sudah sembuh tanpa ada keterangan resmi dari dokter.

“Kalau badannya sudah enak, merasa sembuh. Padahal belum ada enam bulan. Sembuh itu harus dari dokter, jangan diangan-angan sendiri,” tegasnya.

Selain merugikan diri sendiri, lanjut Evi, penderita TBC juga berpotensi menularkan penyakitnya ke orang di sekitarnya. Seorang penderita dapat menularkan penyakit ke sepuluh orang di sekitarnya. Jika ditemukan TBC pada seorang anak, dapat dipastikan orang tuanya juga positif TBC.

“Untuk itu, kami meminta jika ada keluarga yang didapati batuk tidak wajar, segera diperiksa,” ungkapnya. (irw/wa)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia