Jumat, 06 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Pemkot Anggarkan Rp 4,5 M untuk Gamelan

26 Januari 2019, 16: 59: 40 WIB | editor : Perdana

URI-URI BUDAYA: Seremonial penyerahan gamelan utnuk sejumlah sekolah dan kantor kelurahan.

URI-URI BUDAYA: Seremonial penyerahan gamelan utnuk sejumlah sekolah dan kantor kelurahan. (ARYADI ARMI SYAH PUTRA/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Guna memastikan kesenian tradisional tidak punah, Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo mewajibkan seluruh SMP menerapkan ekstrakurikuler karawitan.

Demikian disampaikan Rudy dalam agenda Mider Praja di SMPN 26 Surakarta, Jumat (25/1). Wali kota menilai generasi muda kurang mendapatkan akses memelajari kesenian tradisional. Sebab itu, pemkot mencoba mendekatkan gamelan kepada murid dengan melakukan pengadaan setiap tahun.

"Sama saja kita membangun karakter bangsa. Anak-anak ini harus bisa karawitan. Nanti akan jadi ekstrakurikuler wajib di sekolah," katanya.

Sebelum benar-benar mewajibkan ekstrakurikuler itu, pemkot akan memberikan setiap SMP seperangkat gamelan. Kemarin, dua sekolah mendapatkan jatah gamelan. Yakni, SMPN 26 dan SMPN 4 Surakarta. Gamelan juga diberikan kepada Kelurahan Mangkubumen, Kelurahan Sumber, dan Kelurahan Tegalharjo. "Nanti kalau kelurahan semua sudah dapat, ganti kita berikan ke SMP,” terangnya.

Tahun ini, pemkot akan menganggarkan dana senilai Rp 4,5 miliar di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) 2019 untuk pengadaan sepuluh perangkat gamelan yang akan diberikan kepada SMPN berprestasi.

“Biar sekolah yang lain tidak iri. Untuk tahun ini akan ada sepuluh (perangkat gamelan, Red)) lagi yang akan kami berikan. Nanti biar dianggarkan di APBD-P,” jelas dia.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Surakarta  Kinkin Sultanul Hakim menambahkan, selain dianggarkan lewat APBD, pemkot juga akan mengajukan anggaran ke Kementerian Pedidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk pengadaan gamelan. 

Menurutnya, keberadaan gamelan di sekolah, khususnya SMP, penting untuk mengenalkan para murid terhadap budaya bangsa serta menjaganya tetap lestari.

“Apalagi kan di SMP masih ada mata pelajaran kesenian. Jadi bisa dimasukkan di situ. Selain itu, tentunya bisa digunakan untuk ekstrakurikuler karawitan. Yang jelas, baik di kelurahan maupun yang di sekolah kami juga memantau pemanfaatannya,” ujarnya. (irw/wa)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia