Rabu, 22 May 2019
radarsolo
icon featured
Features

Ajari Bahasa Inggris, Mahasiswa Asing di Solo Rela Dibayar Layangan

28 Januari 2019, 07: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Mahasiswa asing berbaur bersama dengan anak-anak di Kampung Joho Manahan.

Mahasiswa asing berbaur bersama dengan anak-anak di Kampung Joho Manahan. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

EMPAT mahasiswa asing menjadi pusat perhatian sejumlah anak-anak Kampung Joho RT 07 RW 10, Kelurahan Manahan, Kecamatan Banjarsari, Minggu kemarin (27/1). Sambil terbata-bata, mereka saling berinteraksi dan bertukar informasi dengan sejumlah anak dengan menggunakan bahasa Inggris. Menariknya, mereka rela dibayar ala kadarnya oleh anak-anak.

Joho Kampung Hepi. Begitulah warga menyebut kampung mereka di selatan Jalan Samratulangi itu. Sejak 2018, kampung yang satu ini memang kerap jadi pusat perhatian sejak mulai menghiasi tembok-tembok kampung mereka dengan berbagai mural warna-warni. Lama-kelamaan, pola hidup masyarakat setempat pun makin terarah untuk memunculkan kearifan lokal yang telah lama hilang tergerus hiruk-pikuk masyarakat kota berkembang yang makin acuh dengan lingkungan sosialnya.  

Saat itulah warga Kampung Joho sepakat untuk menghidupkan lagi berbagai kearifan lokal seperti kegiatan dolanan bocah, potensi wilayah, serta berbagai agenda kegiatan yang guyub rukun antarwarga. 

Salah satu program andalannya, adalah Joho Car Free Day. Seperti Solo Car Free Day, Joho Car Free Day juga membebaskan kendaraan bermotor melintas di akses kampung tiap Minggu Pagi. Sebab, jalan kampung yang kecil itu bakal disulap untuk jadi arema bermain dan aktivitas bagi anak-anak kampung setempat dalam berbagai kegiatan menarik. Inilah yang membuat empat warga asing itu begitu heran melihat keakraban yang tak pernah mereka temui di kota asal masing-masing.

“Di tempat saya, jarang sekali melihat anak-anak bermain bersama seperti ini dalam satu waktu. Pemandangan seperti ini sangat berbeda jauh dari di negara saya,” ujar You Jiarong,19 asal mahasiswa asal Tiongkok yang baru dua hari ini tiba di Indonesia.

Di Negeri Tirai Bambu sana, sambung dia, anak-anak jarang sekali bermain bersama di luar rumah. Semuanya disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Bahkan orang-orang pun hanya diam dan menghabiskan waktu di dalam rumah jika memiliki waktu longgar. Oleh sebab itu dirinya sangat senang bisa berkegiatan bersama dengan anak-anak seperti di Kampung Joho itu.

“Anak-anaknya sangat ramah dan tidak malu. Tapi rata-rata sudah bisa menggunakam Bahasa Inggris walau pengucapannya belum benar,” kelakar gadis yang akrab disapa Vally itu.

Sejak pertama Vally dan tiga kawannya dikenalkan pada anak-anak Kampung Joho, keramahan warga pun langsung dapat empat mahasiswa asing ini rasakan. Anak-anak pun kompak saat dikumpulkan di depan pos kamling setempat untuk belajar berbagai kata dan merangkai kalimat sambil mengucap salam dalam bahasa Inggris.

“Agak susah ngomong sama kakak-kakaknya kalau pakai bahasa Inggris. Tapi kalau diajak omong Jawa malah jadi lucu,” gurau Salma Anzaleta, 10.

Siswa Kelas 5 SD Al Islam 1 Solo ini sebenarnya cukup fasih melafalkan sejumlah kata dan kalimat dalam bahasa Inggris mengingat pelajaran serupa pun telah ia dapat sejak duduk di taman kanak-kanak dulu. Tapi, bicara dengan orang asing dari luar negeri, itu soal lain. Makanya Zalma sangat senang bisa berbincang langsung untuk melatih rasa percaya dirinya.

“Awalnya agak malu, tapi lama-lama jadi terbiasa. Soalnya kakaknya ramah-ramah,” ujar Salma.

Usai sesi belajar bahasa Inggris, para mahasiswa asing ini diajak menarikan tarian kreasi dari kampung setempat. Namanya, Tari Bregodi Joho Hepi. Meski terlihat kikuk, empat mahasiswa asing itupun mampu mengimbangi gerak anak-anak kampung setempat untuk menyelesaikan tari yang di klaim asli Kampung Joho itu.

“Agak sedikit sulit tariannya. Tapi sangat bagus,” ucap Janet uwizewye, 20. 

Mahasiswi asal Kanada ini mengaku sebenarnya tak begitu berbeda jauh antara tradisi yang ada di negara asalnya dan di Indonesia. Hanya saja, kegiatan tradisional di Indonesia lebih banyak digelar, sementara di Kanada sana hanya kegiatan berskala besar yang banyak dilakukan.

“Saya merasa diterima disini. Masyarakatnya ramah dan baik,” ujar Janet.

Usai menari bersama, giliran anak-anak setempat yang unjuk gigi. Mereka pamer keterampilan dalam pembuatan berbagai dolanan tradisional. Layang-layang salah satu jenis dolanan yang mereka ajarkan pada mahasiswa asing kala itu. “Tadi buat layang-layang. Terus nanti dikasih ke kakak-kakaknya,” kata Abdul Jalali Al Hafis, 6. 

Waktu berjalan dengan begitu cepat. Tak terasa berbagai kegiatan yang dilakukan itu tiba di penghujung kegiatan. Sebelum beranjak pulang. Warga Kampung Joho mengajak sejumlah mahasiswa asing itu untuk Goyang Maumere bersama. Dan kemudian ditutup dengan penyerahan bingkisan berupa layang-layang bergambar. Kreasi anak-anak kampung Joho. 

“Ini untuk melatih anak-anak Kampung Joho menggunakan bahasa asing langsung pada penutur aslinya. Jadi pengalaman ini yang sangat baik buat mereka. Sementara mahasiswa asing juga belajar kearifan lokal dari warga di sini,” tutur tokoh setempat, Ipung Kurniawan Yunianto. (ves/bun)

(rs/ves/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia