Kamis, 18 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Nasional

33 Provinsi Laporkan Kasus DBD, ACT Tergerak Bantu Pencegahan

28 Januari 2019, 15: 39: 44 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Kegiatan fogging yang dilakukan ACT untuk mencegah demam berdarah.

Kegiatan fogging yang dilakukan ACT untuk mencegah demam berdarah. (ISTIMEWA)

Share this      

JAKARTA - Potensi cuaca ekstrem dan hujan lebat terjadi hampir merata di seluruh wilayah Indonesia. Tidak hanya membawa kemungkinan bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin kencang dan tanah longsor, puncak musim hujan pun berimbas pada meningkatnya risiko Demam Berdarah Dengue (DBD).

Melansir laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tentang kasus DBD di awal tahun 2019, sejumlah wilayah di Indonesia sudah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD. Wilayah tersebut meliputi Provinsi Sulawesi Utara, Kabupaten Kapuas di Kalimantan Tengah, juga Kabupaten Manggarai Barat dan Kota Kupang di Nusa Tenggara Timur.

Bahkan, data lain dari Kemenkes menyatakan, ada sebanyak 372 kabupaten atau kota yang telah melapor mendeteksi kasus DBD. Ratusan wilayah tersebut tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Sejak awal Januari 2019 Kemenkes menerima laporan dari sejumlah daerah. Ada sebanyak 11.224 orang yang terjangkit DBD. Dari jumlah tersebut, 110 orang dilaporkan meninggal dunia.

Cek Kesehatan untuk masyarakat dari ACT.

Cek Kesehatan untuk masyarakat dari ACT. (ISTIMEWA)

Tentang status KLB DBD, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Siti Nadia Tarmizi menjelaskan, suatu daerah bisa menjadi KLB DBD jika terjadi percepatan pertambahan dan penyebaran kasus baru DBD dalam rentang bulan tertentu.

“Percepatan itu menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih dari kasus DBD di suatu daerah,” jelas Siti Nadia.

Waspada KLB DBD meluas

Menyikapi KLB DBD yang terus meluas, Supervisor Program Medis Aksi Cepat Tanggap (ACT), dr. Muhammad Riedha memberikan cara pencegahan penyebaran nyamuk yang praktis dapat dilakukan masyarakat.

“Hal pertama dapat dimulai dengan membersihkan dan menguras bak mandi, perabot rumah tangga atau apapun yang berpotensi menimbulkan genangan air. Genangan air ini yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” tuturnya.

Kemudian dr Riedha juga menyampaikan tentang pentingnya penggunaan kasa atau kawat nyamuk di jendela atau ventilasi rumah. “Cara ini pun berguna untuk menghalangi masuknya nyamuk yang berasal dari luar rumah,” jelasnya.

Selagi menghadapi puncak musim penghujan, dr. Riedha mengingatkan untuk terus menjaga agar KLB DBD tak meluas, dimulai dari lingkungan keluarga terdekat.

“Sebaran nyamuk dengue ini akan semakin banyak ketika musim penghujan datang. Banyaknya area lembab dan genangan menjadi lahan subur kembang biak nyamuk. Prinsipnya, perkembangan nyamuk dengue ini mengikuti curah hujan juga kelembaban. Cara pencegahan berkembangnya nyamuk dengue bisa dimulai dari lingkungan rumah,” pungkasnya.

Sementara itu Septi Endrasmoro, Kepala Cabang ACT Solo juga mewanti-wanti kepada masyarakat di Eks Karesidenan Surakarta untuk selalu waspada terhadap cuaca ekstrem saat ini.

“Beberapa hari yang lalu, hujan lebat dan angin puting beliung terjadi di kecamatan Tawangsari dan kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo. Melihat kejadian seperti itu masyarakat untuk saat ini tetap harus berhati-hati. Karena tidak hanya di Solo saja, beberapa daerah lain juga waspada terhadap cuaca ekstrem saat ini dan dihimbau untuk meningkatkan keamanan” tuturnnya. (*)

(rs/bay/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia