Kamis, 20 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Dr. Oen Solo Baru Kenalkan Terapi Cuci Darah Termodern

29 Januari 2019, 13: 37: 56 WIB | editor : Perdana

GAMBLANG: Seminar mengupas terapi terbaru gangguan ginjal di RS Dr. Oen Solo Baru.

GAMBLANG: Seminar mengupas terapi terbaru gangguan ginjal di RS Dr. Oen Solo Baru. (RS DR. OEN SOLO BARU FOR RADAR SOLO)

Share this      

SOLO BARU – Ginjal merupakan salah satu organ dalam tubuh yang mempunyai peran vital di antaranya mengeluarkan zat – zat sisa metabolisme  tubuh kita. Meskipun begitu masih banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa setiap saat akan selalu ada penyakit yang dapat merusak ginjal.

Ini terungkap pada seminar yang digelar Rumah Sakit (RS) Dr. Oen Solo Baru bekerja sama dengan Indonesia Kidney Care Club (IKCC) yang merupakan organisasi nonprofit dan independen beranggotakan pasien-pasien yang menderita gangguan ginjal dan masyarakat yang sadar terhadap kesehatan ginjal.

Pembicara dalam seminar bertema Penatalaksanaan Pasien Hemodialisis dengan Gejala Inflamasi dan Malnutrisi yakni DR. Dr. Agung Susanto, dokter spesialis penyakit dalam RS Dr. Oen Solo Baru. 

Dalam paparannya, Agung menjelaskan, hemodialisis merupakan salah satu jenis terapi pasien gagal ginjal tahap akhir yang banyak dijalani penderita di Indonesia. Hemodialisis digunakan menggantikan sebagian fungsi ginjal. 

Walau tidak sesempurna fungsi asli ginjal, hemodialisis dapat membantu menormalkan kembali keseimbangan cairan, membuang sisa metabolisme tubuh, menyeimbangkan asam-basa-elekterolit dalam tubuh, dan membantu mengendalikan tekanan darah.

Hemodialisis dengan membran low-flux yang dikenal dengan istilah HD konvensional adalah contoh yang paling baik untuk proses difusi. Namun demikian HD dengan membran low-flux mempunyai keterbatasan dengan proses konveksi, sehingga translokasi dengan BM menengah  maupun tinggi tidak terjadi dengan baik. 

Sebaliknya Hemofiltrasi (HF) dengan membran high-flux mempunyai tingkat ultrafiltrasi dan konveksi yang paling tinggi untuk molekul dengan BM sedang dan berat. 

“Salah satu akibat penyakit gagal ginjal kronik adalah disfungsi biologis dan klinis yang berujung pada inflamasi serta berujung pada kerusakan molekul ginjal. Inflamasi merupakan penyebab utama dalam proses terjadinya progesitivitas aterosklerosis atau pengkerakan dalam pembuluh darah,” bebernya.

Terapi inflamasi salah satunya dapat dilakukan melalui HemodiaFiltration with Endogeneous Reinfusion (HFR), ada pula menyebut dengan istilah HER atau HDF.

Dengan menggabungkan proses difusi (HD) dan konveksi (HF) dalam satu sesi terapi terpadu, lanjut Agung, maka akan terjadi gabungan antara peningkatan proses konveksi, yaitu penjernihan molekul dengan BM tinggi tanpa mengorbankan proses difusi (dialisis), yakni penjernihan molekul dengan BM rendah.

HFR adalah teknik hemodialisis yang menggabungkan hemodialisis dan hemofiltrasi. HFR merupakan proses penjernihan darah dari sisa metabolisme dengan menggabungkan proses difusi dan konveksi melalui membran semipermiabel tipe high-flux.

Terapi menggunakan HFR telah tersedia di unit hemodialisis RS Dr. Oen Solo Baru dan saat ini satu-satunya di wilayah Jawa Tengah. Ini merupakan salah satu wujud peningkatan pelayanan kesehatan kepada pasien. Diharapkan teknologi yang dihadirkan dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien HD. (rls/wa

(rs/it/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia