Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Cegah terorisme, Pantang Masuk Pondok dan Kampus

29 Januari 2019, 14: 48: 19 WIB | editor : Perdana

SOSIALISASI: Sekretaris BNPT Marsma TNI, Asep Adang Supriyadi saat memberikan kualiah umum di Unsa.

SOSIALISASI: Sekretaris BNPT Marsma TNI, Asep Adang Supriyadi saat memberikan kualiah umum di Unsa. (DAFIR FIRMANSYAH/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Timur menjadi target wilayah operasi dan pencegahan terorisme oleh Badan Penanggulangan Terorisme Nasional (BNPT). Kegiatan akan diawali di Bima, Sulawesi Tengah dengan mengadakan sosialisasi dan kunjungan ke berbagai pondok pesantren.

“Kami juga hadir di Jawa Timur, tepatnya di Lamongan, desa di mana tempat lahir Amrozi perakit bom dalam peristiwa Bom Bali,” ungkap Marsekal Muda (Marsma) Tentara Nasional Indonesia (TNI), Asep Adang Supriyadi selaku Sekretaris Utama BNPT dalam kuliah umum di Universitas Surakarta (Unsa), kemarin.

Asep mengaku BNPT tengah gencar mengadakan sosialisasi di tingkat universitas dan di daerah-daerah yang berpotensi menjadi tempat penyebaran paham radikalisme. Harapannya, mahasiswa mampu menangkal dan menanggulangi terorisme.

”Radikalisme adalah paham anti Pancasila, anti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan intoleran. Mereka yang salah tafsir agama dan menganut paham radikalisme tersebut akan mudah dicuci otaknya untuk dijadikan pelaku teroris dan melakukan aksi bom bunuh diri,” jelasnya dalam kuliah umum bertajuk Ancaman dan Tantangan dalam Pencegahan Paham Radikal Teroris di Indonesia ini.

Asep menyebut paham radikalisme disebarkan melalui berbagai cara. Biasanya dengan media offline dan online. Melalui media offline, para teroris bertemu langsung dengan penyebar paham radikalisme. Sedangkan dalam media online, para teroris biasanya dibawa ke luar negeri untuk dilatih menembak dan cara membunuh.

”Selain orang dewasa, ajaran terorisme juga dikenalkan kepada anak-anak. Ideologinya sudah rendah, ditambah melalui media sosial. Inilah cara kerja mereka,” sambungnya.

Definisi teroris, lanjut Asep, bertujuan menggetarkan dan menebar ketakutan dengan tujuan politik. Teroris dibagi menjadi empat, pertama adalah inti yang merupakan para penyebar paham dan mencetak teroris. Kedua, militan merupakan prajurit yang siap melakukan aksi bom bunuh diri dan sudah dicuci otaknya. Ketiga, pendukung yang siap menjual hartanya untuk biaya berlatih membuat bom. Terakhir, simpatisan adalah mereka yang intoleran.

”Untuk itu BNPT memiliki peran dan tugas untuk merumuskan, menyusun, menetapkan, mengkoordinasi, dan melaksanakan kebijakan, strategi, dan program nasional di bidang penanggulangan terorisme. Mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Terorisme,” pungkasnya. (mg11/mg12/aya/nik)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia