Senin, 16 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Kisah Sholeh, Bayi Terkecil dan Termahal yang Ditangani RSUD Wonogiri

30 Januari 2019, 19: 00: 23 WIB | editor : Perdana

DILEPAS: Sholeh ketika akan diserahkan kepada keluarga di RSUD Wonogiri, Senin (28/1).

DILEPAS: Sholeh ketika akan diserahkan kepada keluarga di RSUD Wonogiri, Senin (28/1). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

Sholeh, bayi empat bulan yang ditelantarkan ibunya di RSUD dr Soediran Mangun Sumarso Wonogiri meninggalkan kenangan tersendiri bagi dokter dan perawat yang menangani selama empat bulan di rumah sakit ini. Bagaimana kisahnya? 

IWAN KAWUL, Wonogiri 

SENIN siang kemarin (28/1) di RSUD dr Soediran Mangun Sumarso Wonogiri sejumlah perawat di ruang Asoka yang khusus untuk merawat bayi tampak sibuk mempersiapkan kepulangan Sholeh, bayi laki-laki yang sejak 6 Oktober 2018 lalu di rawat di ruang itu. 

“Hari ini akan kami serahkan ke Dinsos (Dinas Sosial) Wonogiri, lalu akan diteruskan Dinsos Purworejo,” kata Direktur RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri Setyorini sesaat sebelum prosesi serah terima Sholeh Senin lalu. 

Ada raut wajah tidak tega dan enggan melepaskan bayi malang itu dari perawatan RSUD. Setyorini sampai terbata saat mempertanyakan kepada Dinas Sosial Purworejo sesaat sebelum serah terima bayi yang semula hanya memiliki berat badan 750 gram itu. 

“Maaf sebelumnya, ini nanti di Purworejo yang merawat siapa ya? Kami ini sebenarnya eman-eman mau melepaskan. Kami sudah berupaya maksimal untuk membuat bayi ini bisa sampai sekarang. Maaf, kebanyakan bayi dengan berat segitu tidak selamat. Cucu saya saja tidak selamat,” ujar Setyorini terbata. 

Bagaimana tidak sedih melepas Sholeh, selama 114 hari bayi yang ditinggal sang ibu entah ke mana rimbanya ini dirawat dengan baik oleh dokter dan perawat seperti mereka merawat anak sendiri. 

Sholeh adalah bayi istimewa. Karena merupakan bayi terkecil yang pernah ditangani RSUD Wonogiri dan selamat. Berat badannya pun tumbuh menjadi 2,6 kilogram dari berat badan semula yang hanya 750 gram. 

“Sudah empat bulan kami rawat, kami minta nanti Dinas Sosial Purworejo juga turut memantau tumbuh kembangnya, karena bayi dengan riwayat prematur butuh perawatan khusus. Minimal sampai Sholeh usia 2 tahun,” ujar Setyorini.

Sri Mulyani, kepala Ruang NICU/PICU RSUD juga terkenang akan pertama kali merawat Sholeh. Kali pertama diterima bayi premature ini mempunyai riwayat tidak segera menangis. Bayi lantas dirawat menggunakan ventilator selama tiga hari.  “Masuk NICU/PICU itu sangat lemah, lalu dirawat di ventilator selama tiga hari,” kata Sri Mulyani. 

NICU memang menjadi tempat pertama untuk para bayi yang terlahir dalam kondisi prematur atau membutuhkan perawatan khusus. Bayi yang memiliki kebutuhan khusus tentu membutuhkan perawatan yang tak kalah khusus pula. 

Di ruangan ini, kondisi kesehatan Sholeh diperiksa secara intensif. Tim dokter dan perawat terus memantau dan mencatat setiap perkembangan kondisi bayi, memprediksi kemungkinan yang akan terjadi, serta menentukan prosedur perawatannya. 

“Setelah lepas ventilator lalu dilakukan pemulihan kondisi dengan tujuan peningkatan berat badan. Kondisinya terus membaik hingga pada 21 Desember 2018 dinyatakan pulang oleh dokter,” kata Sri Mulyani. 

Selama dirawat setelah dinyatakan pulang oleh dokter, perawat dan dokter iuran untuk membelikan susu dan segala keperluan bayi. Karena para perawat dan dokter tahu bahwa orang tua bayi ini tidak diketahui di mana rimbanya. 

“Kami iuran untuk beli susu. Sholeh ini termasuk bayi kesayangan di ruang NICU/PICU. Kita namakan Sholeh agar nantinya jadi anak saleh, berbakti sama orang tuanya,” tambah Setyorini. (*/bun)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia