Sabtu, 25 May 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

Ganjar Minta Korban Banjir Tetap Tangguh

31 Januari 2019, 11: 41: 00 WIB | editor : Bayu Wicaksono

Gubernur Ganjar Pranowo berinteraksi dengan korban banjir Batang, Rabu (30/1).

Gubernur Ganjar Pranowo berinteraksi dengan korban banjir Batang, Rabu (30/1).

SEMARANG – Korban bencana diminta tidak menyerah menghadapi situasi yang mereka alami. Warga diminta saling bahu membahu serta tidak hanya tergantung pada bantuan pemerintah.

Hal ini dikatakan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mengunjungi korban bencana banjir di Batang dan Pekalongan, Rabu kemarin (30/1). Didampingi Bupati Batang Wihaji, Kepala BPBD Jateng Sudaryanto, Ganjar mendengarkan satu persatu keluhan para korban banjir di Karangasem Utara, Batang.

“Banjirnya dalam pak. Kemarin-kemarin tinggi air sampai sedada. Basah semua pak, tidak ada yang bisa diselamatkan. Ini kasurnya basar, tidak bisa untuk tidur Pak,” kata Surti, 60, warga setempat yang menjadi korban banjir.

Menanggapi hal itu, Ganjar mengatakan jika prioritas paling utama adalah kebutuhan pokok. Dia ingin memastikan seluruh korban bencana tidak kekurangan bahan pangan hingga tidak bisa makan.

“Kasur mengko sek, nek teles ya dijemur, nek rusak tuku neh. Sing penting saiki kabeh do sehat, iso mangan kabeh. (Kasur nanti dulu, kalau basah dijemur, rusak beli lagi, yang penting sekarang semua sehat dan bisa makan semuanya),” ujar Ganjar.

Saat perbincangan itu, tiba-tiba ada seorang perempuan yang nyeletuk kepada Ganjar dan mengaku belum makan. Saat ditanya apakah sudah masak atau belum, perempuan bernama Wakini, 35, itu mengatakan belum masak karena tidak punya beras.

“Sing jujur, nduwe beras tenan ora? Ojo ngapusi (yang jujur, punya beras beneran tidak, jangan berbohong),” tanya Ganjar. “Benar pak, berasnya hanyut kena banjir,” jawab Wakini.

Mendengar jawaban itu, Ganjar tak langsung percaya. Untuk memastikan ucapan Wakini benar, dia lantas mengajak Wakini ke rumahnya. Sesampainya di rumah Wakini, Ganjar langsung masuk ke bagian dapur dan mendapati ada nasi goreng yang masih hangat di atas pengorengan.

“Lha ini ada nasi goreng, kok bilang ndak punya nasi untuk dimakan, kok bilang belum makan? Ini kan masih bisa dimakan untuk keluarga. Tolong jujur, jangan mendramatisasi saat bencana seperti ini,” pinta Ganjar.

Pada kesempatan itu, Ganjar meminta betul agar masyarakat dapat bersikap jujur meski dalam kondisi tertimpa bencana. Dengan kejujuran, masyarakat akan tangguh menghadapi bencana dan tidak hanya duduk manis berpangku tangan mengharapkan bantuan datang.

“Saya minta masyarakat bisa bersama-sama saling bantu dan bergotong-royong. Selama ada yang bisa dimanfaatkan, tidak boleh mengatakan tidak ada,” ujarnya.

Tak hanya dengan tangan kosong, di lokasi tersebut Ganjar juga memberikan sejumlah bantuan seperti mi instan, sarung, selimut dan kebutuhan lainnya. Ganjar juga memberikan uang tunai kepada kepala desa untuk digunakan membeli beras dan dibagi kepada warga yang benar-benar membutuhkan.

Sementara di Pekalongan, putusnya jembatan Kali Keruh di Kabupaten Pekalongan sempat viral dan menjadi pembicaraan warganet beberapa waktu lalu. Kisah Atik Dyat Prastuti, seorang guru honorer asal Desa Loragung, Kacamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan rela mempertaruhkan nyawanya melintasi jembatan putus itu untuk bisa mengajar di SDN 02 Cawet, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang.

Ternyata tidak hanya Atik, kisah serupa juga dialami guru honorer lainnya yang bernama Dwi Sholihati yang mengajar di SDN 02 Medayu. Sama seperti Atik, setiap hari Dwi juga harus melakukan hal serupa untuk melintasi jembatan Kali Keruh ketika berangkat mengajar.

Sejak putus pada 2018 lalu, jembatan Kali Keruh Pekalongan memang tidak bisa dilewati kendaraan. Padahal, jembatan itu menjadi akses satu-satunya warga di desa tersebut. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan warga untuk melintasi jembatan itu adalah nekat berjalan kaki di reruntuhan jembatan yang ambruk untuk dapat mencapai sisi sungai yang lainnya.

Caranya, warga memasang tangga setinggi 15 meter pada sisa penyangga jembatan. Kemudian turun menuju badan jembatan yang ambrol dan berada di bawah, lalu berjalan menapaki reruntuhan jembatan dan batu-batuan, kemudian menaiki tangga lagi pada sisi tiang penyangga di seberangnya.

“Setiap hari ya harus melintasi jembatan ini, tidak ada akses jalan lain antara rumah saya ke sekolah. Kami berharap segera diperbaiki. Paling tidak ada jembatan darurat,” kata Dwi Sholihati, Rabu (30/1).

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang pada hari itu meninjau lokasi jembatan tersebut, langsung mengambil langkah cepat. Dia langsung memerintahkan dinas terkait termasuk kepada Pemkab Pekalongan segera membuatkan jembatan bailey, jembatan darurat yang terbuat dari besi.

“Saya minta jembatan darurat segera dibuat. Dengan jembatan darurat itu, maka masyarakat akan nyaman saat melintasi jembatan,” kata dia.

Ganjar juga akan mempercepat pembangunan jembatan utama Kali Keruh Pekalongan itu. Dia memastikan bahwa pembangunan jembatan yang ambrol diterjang banjir itu akan dilakukan tahun ini.  Anggaran Rp17 miliar sudah disiapkan untuk membangun kembali jembatan penghubung Pekalongan-Pemalang tersebut.

(rs/bay/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia