Rabu, 22 May 2019
radarsolo
icon featured
Features

Mengenal Triyanto, Relawan Mandiri yang Siap Terjun ke Medan Bencana

31 Januari 2019, 14: 46: 17 WIB | editor : Perdana

PANGGILAN JIWA: Triyanto dan mobil pribadinya yang disulap menjadi kendaraan multifungsi.

PANGGILAN JIWA: Triyanto dan mobil pribadinya yang disulap menjadi kendaraan multifungsi. (IRAWAN WIBISONO/RADAR SOLO)

Mengabdi tak selalu ikut institusi. Seperti Triyanto, yang mengabdi menjadi relawan independen. Dia bahkan menggunakan uang pribadi untuk ikut terjun membantu korban bencana di seluruh negeri. Bagaimana bisa?

IRAWAN WIBISONO, Solo

MOBIL pikap berwarna oranye terparkir di depan jajaran truk pemadam kebakaran di Kantor Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Solo, Rabu siang. Di atap kabin pikap, sebuah lampu sirine merah terpasang. Sementara, pada body samping mobil keluaran 2007 itu tertulis Tanggap Bencana Relawan Sahabat Muslim (RSM). Di tutup bak belakangnya keterangan RESCUE terpampang. 

Adalah Triyanto, sang empunya mobil. Dia bukanlah anggota tim SAR. Namun, mobil itu telah membawanya menyelamatkan nyawa di berbagai lokasi bencana di eks Karesidenan Surakarta.

Lewat kocek pribadi, pria 38 tahun itu menjadi sukarelawan tanggap bencana. Jalan hidup menjadi sukarelawan bagi Triyanto merupakan panggilan hati. Ia telah terbang ke Palestina, Myanmar, Aceh, Lombok, dan Palu sebagai tim penyelamat. Mayoritas dengan biaya sendiri, termasuk kelengkapan alat pelindung diri (APD).

 “Branding mobil ini berangkat dari keinginan menyediakan armada bagi sukarelawan. Saat genting, kendaraan menjadi penting, tapi kadang tidak tersedia,” kata dia.

Warga Dusun Jurangkambil RT 02/RW 04, Desa Jeruksawit, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar itu bahkan membeli chainsaw (gergaji mesin), genset, alkon, hingga motor trail sendiri. Seluruh piranti itu diletakkan di bak mobil pikap. 

“Jika dinilai rupiah mungkin sampai seratusan juta. Itu belum termasuk biaya membangun kantor RSM. Seluruhnya saya baktikan untuk masyarakat,” ucap dia.

Tak terhitung berapa jumlah bencana yang dilalui Triyanto. Mulai peristiwa kecil seperti kebakaran bengkel di lingkungan sekitar, sampai gempa Palu yang menelan korban ribuan jiwa. Ia urung surut dan tetap sedia selagi dibutuhkan.

“Satu kejadian yang membuat saya menangis sakit sekali justru bukan kejadian besar, tapi kecelakaan air di daerah Gawok, Sukoharjo,” ujarnya.

Peristiwa itu menelan dua korban jiwa meninggal karena tenggelam setelah mengejar seekor bebek yang lepas dari rombongan. Mereka berenang di sungai dan diduga kram lalu tenggelam. “Saya semalaman di pinggir kali mengecek sekeliling menggunakan lampu sorot. Penyesalan saya adalah nilai bebek yang tak seberapa harus dibayar dengan dua nyawa,” kisah Tri. Tanpa dibayar, dia berkomitmen mengabdikan jiwa dan raganya untuk menjadi relawan. (*/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia