Rabu, 24 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Features

Jefri Amriansyah, Kepala Program YCKB Sembuh dari Kecanduan 

Pakai Ganja Sejak SD, SMP Isap Sabu

03 Februari 2019, 11: 25: 59 WIB | editor : Perdana

Jefri Amriansyah, Kepala Program YCKB Sembuh dari Kecanduan 

Masa-masa kelam masih tergambar jelas di benak Jefri Amriansyah. Tapi, sekarang, Kepala program Yayasan Cahaya Kusuma (YCKB) ini lebih banyak bersyukur karena sembuh dari kecanduan sabu-sabu. Padahal dirinya sudah 15 tahun menjadi budak narkoba.

A. Christian, Solo

DARI pengalamannya itu, Jefri banyak memberikan dukungan agar pecandu memiliki tekad kuat kembali hidup normal. “Saya mengakui salah pergaulan. Sebelum mengenal narkoba, pintu gerbangnya adalah rokok dan miras (minuman keras, Red). Setelah itu, saya dikenalkan ganja,” paparnya ditemui di kantor YCKB Jalan Kalingga Kampung Banyuanyar, Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari. 

Pengaruh buruk tersebut datang dari para kurir ganja yang meracuni anak usia sekolah dasar (SD). Modusnya, dengan menawarkan ganja secara gratis. Setelah kecanduan, si anak diminta untuk membeli. “Dulu nggak pakai ganja sehari saja bawaanya lemas,” jelas pria asal Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.

Masuk SMP, anak kedua dari tiga bersaudara ini dikenalkan dengan sabu-sabu. Modusnya sama seperti sebelumnya. “Semangat sekolah supaya dapat uang saku. Nah uang sakunya itu saya belikan sabu. Orang tua dan guru tidak tahu kalau saya pakai sabu. Nyabunya ramai-ramai di rumah teman. Ya istilahnya kami pesta-lah. Jadi belinya urunan,” beber dia.

Kecanduan sabu bertahan hingga lulus SMA. Jefri kemudian ke Bogor untuk kuliah. Di Kota Hujan dia menggila. Selain sabu, pria 26 tahun ini juga menenggak pil inex, putau, heroin, serta kokain. 

Setiap hari, Jefri mengonsumsi 0,5 gram sabu. Berat lebih ketika dia mendapatkan kiriman uang lebih dari orang tuanya. Jatah uang mingguan senilai Rp 1,5 juta lenyap begitu saja. “Itu juga kurang sebenarnya. Kalau sudah begitu, biasanya saya menipu, pinjam uang, sampai gadaikan barang,” kenang dia.

Ujung-ujungnya, dia ditangkap polisi pada akhir 2016. Ternyata namanya masuk daftar pencarian orang (DPO). Tapi, karena tidak cukup bukti, Jefri dibebaskan. Berurusan dengan polisi dan sempat ditahan membuatnya tersadar.

Kala itu Jefri takut orang tuanya bakal marah besar dan kecewa karena buah hatinya menjadi pecandu. “Awal 2017 saya dimasukkan panti rehabilitasi di Palembang. Delapan bulan saya direhabilitasi. Setelah itu, saya tidak mau lagi mengenal narkoba,” tegasnya. 

Cukup lama dipanti membuat Jefri mengenal dekat para konselor yang ternyata juga mantan pecandu. Dari situ, dia juga bertekad menjadi konselor juga. “Untuk menebus dosa,” ujarnya singkat.

Pemilik yayasan tempat Jefri direhabilitasi sebelumnya berencana membuka cabang baru di Jateng, tidak lain adalah YCAB. Jefri ditawari bergabung. “Mungkin ini yang namanya hikmah dari Allah. Jalan saya untuk bertobat. Kalau dulu jangankan ingat dosa, Salat saja tidak pernah. Waktu Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha semua Salat Id, saya malah pakai sabu,” ungkap dia.

Saat ini, kondisi fisik Jefri jauh lebih sehat dibandingkan ketika masih berpredikat pecandu. Tubuhnya sangat kurus, bagian bawah mata menghitam, wajah pun pucat karena jarang tidur. “Seperti tengkorak hidup,” pungkasnya. (*/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia