Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

4 Ton Kue Keranjang Ludes dalam Sekejap

04 Februari 2019, 12: 59: 13 WIB | editor : Perdana

JADI MAGNET: Masyarakat dari berbagai etnis berebut kue keranjang yang disebar panitia di Grebeg Sudiro dalam rangkaian perayaan Imlek 2019.

JADI MAGNET: Masyarakat dari berbagai etnis berebut kue keranjang yang disebar panitia di Grebeg Sudiro dalam rangkaian perayaan Imlek 2019. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Seperti tahun-tahun sebelumnya, agenda Grebeg Sudiro masih menjadi magnet. Terbukti, ribuan masyarakat tumpah ruah di Jalan Urip Sumoharjo, tepatnya di kawasan Pasar Gede Solo, Minggu (3/2). Kue kerancang 4 ton ludes dalam sekejap.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Solo kawasan Pasar Gede  sekejap berubah menjadi lautan manusia kemarin. Ribuan warga rela berdesak-desakan, bahkan hujan yang sempat mengguyur tidak menyurutkan warga untuk menyaksikan acara akulturasi kebudayaan ini. 

Warga yang berada di barisan belakang mencoba mendorong barisan di depannya. Hal tersebut membuat petugas yang menjadi pagar betis harus bekerja ekstra agar lintasan peserta benar-benar steril.

“Untuk peserta tahun ini lebih tertib dari tahun lalu. Di mana mereka sudah menaati aturan untuk yang akan perform di depan panggung utama dibatasi cuma dua menit. Namun untuk desak-desakan selalu sama dari tahun ke tahun,” ujar Ketua Panitia Grebeg Sudiro, Angga Indriawan kemarin.

Meski begitu, Angga menuturkan penyelenggaraan event budaya yang sudah memasuki tahun ke-12 ini lebih sukses dibandingkan tahun sebelumnya. Perserta kirab sendiri ada sekitar 54 kelompok. Mulai dari warga Kelurahan Sudiroprajan sendiri, hingga instansi negeri dan swasta di eks Karesidenan Surakarta.

“Tapi rutenya memang lebih pendek karena ada pembangunan Jalan Jensud. Selain itu agar acara ini cepat selesai sehingga jalan cepat kita buka untuk akses kendaraan,” katanya.

Tidak hanya sajian kirab semata, sedikitnya 4 ribu atau setara dengan 4 ton kue keranjang juga disebar di tengah-tengah masyarakat. Ada yang dilempar dari lantai dua pasar buah ada juga yang dipasang di dua jodang utama. Tidak hanya jodang kue kerangjang, gunungan buah-buahan, sayur mayur dan makan asli Purwodiningratan lain juga ludes dalam hitungan menit karena menjadi rebutan warga.

Sementara itu, start kirab dilepas langsung oleh Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo. Sebanyak 1.500 peserta berjalan kaki dari panggung kehormatan di depan Pasar Gede menuju Jalan Jenderal Sudirman, Mayor Kusmanto, Kapten Mulyadi, Jalan Juanda, Urip Sumorhardjo dan kembali ke Pasar Gede.

Mengacu pada tema grebeg tahun ini, Rudy mengatakan benar-benar terwakili oleh keberagamaan peserta kirab. Mulai dari seni pertunjukan tradisi reog, barongsai dan liong hingga beragam kostum yang dikenakan peserta. Seperti kostum dewa-dewi mitologi Tionghoa dan baju adat Nusantara hingga kostum aneka hantu. Ada pula peserta yang mengenakan kostum berbentuk gajah yang disambut antusias penonton cilik.

“Merajut kebhinekaan mungkin bukan pekerjaan yang mudah, tetapi tidak sulit juga untuk melakukannya. Perlu ada sinergitas dalam menjaga kemajemukan. Untungnya warga Solo sudah  bisa menjalankan hal tersebut. kalau tidak mana mungkin Solo menduduki posisi pertama sebagai kota layak huni,” papar Walikota.

Dengan adanya event budaya ini, lanjut Rudy, menjadi salah satu bukti nyata akulturasi antara kebudayaan Tionghoa dan Jawa dapat berjalan selaras. “Dengan budaya kita bisa menyatukan masyarakat. Tidak kenal tua muda suku ras agama mereka berkumpul untuk menyaksikan acara yang telah terselenggara sukses,” ujar wali kota. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia