Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Ketika Imlek Mulai Menjadi Magnet Wisata

Jejak Akulturasi makin Membumi

04 Februari 2019, 15: 19: 05 WIB | editor : Perdana

Ketika Imlek Mulai Menjadi Magnet Wisata

SOLO - Perayaan Imlek dari tahun ke tahun di Kota Bengawan menjadi magnet wisata baru. Bukan hanya kalangan warga Tionghoa saja, namun masyarakat umum dari berbagai daerah pun penasaran datang untuk menyaksikan kemeriahan tradisi ini. Apa makna Imlek tahun ini?

GEMERLAP lampion di sekitar Pasar Gede Solo semakin menambah keindahan Kota Solo pada malam hari. Tidak heran masyarakat pun banyak yang berdatangan ke tempat ini. Selain bisa menikmati aneka kuliner ala Tionghoa dan tradisional lainnya, mereka juga bisa berfoto ria di bawah lampion yang bergantungan.

Tidak hanya warga Tionghoa, masyarakat lokal pun banyak yang hadir di sekitar lokasi tersebut. Bahkan, event ini dijadikan momen wisata tahunan yang tidak terlewatkan untuk dinikmati. “Ini saya ajak anak-anak ke sini untuk melihat kemeriahan jelang Imlek, sekaligus mengenalkan mereka akan kebudayaan Tionghoa,” ujar Andi Respati, warga Bekasi, Jawa Barat ditemui koran ini di lokasi.

 Warga lainnya asal Wonogiri, Radyawati juga mengakui takjub dengan pemandangan di sekitar Pasar Gede pada malam hari. Kemeriahan pesta lampion ini semakin meneguhkan bahwa Imlek bukan hanya eksklusif untuk warga Tionghoa tapi juga bisa dinikmati semua elemen masyarakat.

“Awalnya memang penasaran ketika melihat foto-foto kemeriahan lampion yang diunggah di sosmed, akhirnya datang ke sini langsung. Sudah dua tahun ini saya selalu ke sini,” ujarnya. 

Tokoh Tionghoa asal Kota Bengawan, Sumartono Hadinoto, 63, membenarkan hal itu. Dirinya tak ingin ada pengkotak-kotakan golongan. Sebab, Imlek di Solo terbentuk dari kearifan lokal masyarakat majemuk yang mampu hidup berdampingan dengan berbagai perbendaan.  

“Warga keturunan Tionghoa merayakan Imlek, tidak berarti itu tidak boleh dinikmati orang lain. Ini seperti dengan perayaan kumpul keluarga yang dilakukan umat Islam saat Idul Fitri dan umat Kristiani ketika Natal, yang juga dirasakan oleh semua masyarakat walau tidak menganut kepercayaan yang sama,” jelas dia Minggu (3/2).

Imlek sendiri dapat dimaknai dalam dua hal yang berbeda. Yang pertama sebagai ritual keagamaan, dan kedua sebagai produk kebudayaan yang bisa dirasakan setiap orang. Di ranah ritual keagamaan, warga keturunan Tionghoa biasa sembahyang leluhur, baik di rumah ibadah maupun di rumah masing-masing. Itu semua karena pengaruh dari perkembangan agama dan kepercayaan dewasa ini, mengingat tidak semua orang Tionghoa beragama Konghucu, Budha, atau Tao.

 Sehari menjelang tahun baru Imlek pada 4 Februari, masyarakat melakukan sembahyang di rumah selain di tempat ibadah. Sore harinya, kerabat akan datang ke rumah saudara yang paling tua. “Namun seiring berjalannya waktu tidak saklek seperti itu, mengingat ada juga karena kesepakatan kegiatan itu dilakukan bergilir untuk bercengkrama dan makan bersama dengan keluarga besar,” jelas dia.

Bagi yang sudah menganut kepercayaan lain, sambung dia, tradisi menyambut tahun baru Imlek biasanya diwarnai dengan kegiatan kumpul bersama keluarga untuk makan bersama. Biasanya dimasak oleh pemilik rumah. 

Namun ada juga keluarga yang ikut menyiapkan dengan membawa masakan masing-masing. Makanan yang khas ada dua, jenis makanan yang disantap bersama atau jenis makanan yang akan dipersembahkan atau didoakan. Nah, kebanyakan makanan yang tidak dijual di berbagai restoran Tionghoa. Misalnya sup kembang tahu, rebung, dan lainnya. Tapi kalau sesaji, seperti ikan, ayam, dan babi atau daging lain bagi yang tidak suka. 

“Ikan itu gesit artinya tidak boleh malas. Ayam, sejak kecil bisa cari makan sendiri. Maknanya agar bisa mencari makan (rezeki) sendiri,” bebernya. 

Kemudian babi atau daging lain. Babi simbol kemakmuran. Babi selalu gemuk karena doyan makan. Walau ada watak yang tidak baik. Kepercayaan ini mencari hal positif untuk diyakini. Biasanya dilengkapi dengan berbagai kue, seperti kue wajik selalu lengket agar persaudaraan lebih erat. Kue kura-kura agar umur panjang, dan lainnya.

Kemudian pada hari tahun baru, keluarga berkumpul untuk mendatangi kerabat yang paling tua. Dengan mengenakan pakaian baru sebagai lambang untuk menyongsong masa depan. Di rumah masing-masing itu juga ada sungkeman, kemudian diteruskan dengan pemberian amplop berisi uang (angpao). Angpao dibagikan kepada mereka yang belum menikah. Namun ada juga yang diberikan pada mereka yang sudah menikah juga, tergantung masing-masing personalnya. 

“Puncaknya saat Cap Go Meh. Lontong Cap Go Meh itu khas karena hanya ada saat Imlek sebagai perpaduan masakan khas Solo dengan tambahan bahan lainnya,” jelas Sumartono.

Ia melihat berbagai produk budaya itu sebagai kelebihan Kota Bengawan yang sangat plural dan majemuk namun mampu berjalan selaras antar kehidupan masyarakatnya. Karena itu dirinya mengajak masyarakat untuk dapat melihat potensi itu dengan cara dapat menikmati kemeriahan secara bersama-sama. 

“Saya merasakan Imlek di Kota Bengawan hanya sampai kelas 3 SD. Setelah itu semua kebudayaan Tionghoa tidur cukup lama dalam sejarah Indonesia hingga kemudian dalam kepemimpinan Presiden Abdurahaman Wahid alias Gus Dur diberi kebebasan untuk merayakan kembali,” ujarnya. 

Hari ini kemudian ditegaskan saat kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri dengan menjadikan tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional. 

“Generasi di atas saya itu ikut memikirkan Indonesia. Generasi saya sudah takut untuk berpikir sosial. Dan generasi anak cucu saya sudah merasakan kemajemukan yang sangat baik. Maka harus kita jaga. Sebab sejarah Kota Solo tak pernah terjadi konflik antargolongan. Maka kita harus ikut menjaga yang baik ini agar tetap selaras,” jelas pria yang pernah dinobatkan sebagai tokoh perdamaian dunia ini.

Menurut Sumartono, Solo menjadi kota wisata Imlek. Bukan hanya Imleknya, yang paling penting adalah upaya menjalin tali silaturahmi dengan sesama warga lainnya. Di sisi lain branding untuk kepariwisataan Kota Solo sebagai kota wisata. Dan dalam dua tahun ini Solo sudah masuk menjadi lima kota besar yang mampu menyelenggarakan Imlek dengan baik sebagai simbol kebhinekaan. 

“Indonesia ini terdiri dari banyak suku dan kebudayaan. Jika itu dipelihara akan sangat bermanfaat untuk generasi muda masa depan. Bahkan tak menutup kemungkinan terjadinya akulturasi budaya sehingga muncul kebudayaan baru yang menjadi nilai lebih bagi Indonesia. Seperti Imlek di Kota Bengawan di mana menjadi milik seluruh masyarakat dan bentuk dari kontribusi nyata seluruh warga Kota Bengawan,” jelas dia.

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo mendukung penuh penyelenggaraan perayaan Imlek di Kota Bengawan. Dirinya yakin kegiatan semacam ini dapat menguatkan persatuan dan kesatuan antar berbagai elemen masyarakat. Hal ini terlihat dari banyaknya partisipasi masyarakat dan manfaat yang juga dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat. 

“Kalau dari manfaatnya secara umu jelas memberikan kesempatan bagi banyak orang untuk ikut mencari untuk. Baik dari pedagang maupun pengelola parkir. Dari sisi budaya jelas menguatkan dan memunculkan kreativitas warga solo dalam penyelenggaraan event budaya,” kata Rudy.

Ia berharap tahun depan pelaksanaannya dapat lebih baik. Tentunya dengan tema yang sama dan bertujuan untuk meningkatkan kesatuan dan persatuan antarwarga melalui sebuah kegiatan budaya yang bisa dirasakan banyak pihak. 

“Dari tahun ke tahun semakin maju, kualitasnya makin baik. Dan masyarakat lebih banyak lagi karena banyak kegiatan yang makin kreatif. Kemajemukan ini harus dijaga bersama agar menghasilkan toleransi yang makin baik,” beber Rudy. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia