Selasa, 10 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Melihat Tradisi Ciswak di Kalangan Tionghoa Solo

04 Februari 2019, 15: 48: 55 WIB | editor : Perdana

Melihat Tradisi Ciswak di Kalangan Tionghoa Solo

Tradisi tolak balak atau ruwatan tidak hanya dikenal dalam kebudayaan Jawa . Bagi masyarakat Tionghoa tradisi macam itu juga menjadi ritual rutin ketika berlangsung pergantian tahun baru Imlek. Namanya Po Un atau Ciswak. Seperti apa tradisi ini bertahan hingga saat ini?

DI Kota Bengawan, ada sejumlah rumah ibadah yang biasa menggelar tradisi ciswak. Baik di Litang (rumah ibadah Konghucu), Vihara (rumah ibadah umat Budha), maupun di Kelenteng (rumah ibadah penganut ajaran Tri Dharma seperti Konghucu, Budha, dan Tao).  

Namun ada yang berbeda pada tahun ini. Tradisi ciswak dipusatkan di Kelenteng Tien Kok Sie yang berada di selatan Pasar Gede Harjonagoro, yang masih berada diteritorial Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Solo. 

“Biasanya digelar lebih awal, sebelum tahun baru Imlek. Kebetulan semua kegiatan tahun ini dipusatkan di sini. Pesertanya lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya,” jelas pengurus Kelenteng Tien Kok Sie, Sumantri Dana Waluya ditemui Jawa Pos Radar Solo, Minggu (3/2).

Ciswak di kelenteng ini sudah digelar 27 Januari  lalu. Ribuan warga Tionghoa berkumpul di klenteng setempat untuk mengikuti tradisi tolak balak ini. Tidak hanya para orang tua, namun juga banyak pasangan anak-anak muda. Peribadatan dipimpin oleh seorang bante (pemimpin peribadatan agama Budha) dengan mendoakan ratusan peserta ciswak. 

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pelepasan ribuan burung pipit dan bibit ikan sebagai simbol pelestarian makluk hidup yang dipercaya mampu membersihkan kesalahan-kesalahan di masa lampau tiap peserta. Kemudian satu persatu peserta didoakan sembari dipangkas sedikit rambutnya kemudian disiram dengan air kembang setaman sebagai lambang kemurnian untuk memulai kembali aktivitas di tahun depan. 

“Alasan ciswak dilakukan sebelum pergantian tahun agar saat tahun baru nanti kita sudah bersih dari segala kesalahan masa lampau,” jelas Sumantri.

Secara garis besar, kata Sumantri, ciswak tidak berbeda dengan tradisi selametan yang kerap dilakukan orang Jawa atau suku lainnya di Indonesia sebagai simbol tolak balak atau buang sial. Misalnya, tata cara pembacaan doa-doa oleh seorang Bante. Di Jawa, para ulama atau sesepuh adat setempat juga merapal doa atau mantra sebelum melakukan sebuah ritual peribadatan. “Tidak berbeda dengan upacara selametan dengan berbagai sesaji saat Suro dan lainnya,” jelas dia.

Kemudian, tata cara potong rambut dan penyiraman dengan air bunga, pada tradisi Jawa, potong rambut juga dilakukan sebagai salah satu syarat untuk meninggalkan perbuatan buruk pada masa lalu. Yang kemudian disempurnakan dengan menyiram peserta dengan air bunga.

“Air bunga yang dipakai adalah air dengan racikan kembang setaman. Kembang setaman di mana lagi didapat kalau tidak dari pengetahuan masyarakat Jawa. Tentu di lain daerah berbeda tradisinya, tapi itu yang kami lakukan di Solo ini,” kata Sumantri.

Kemudian pelepasan burung dan ikan, tak jauh berbeda dengan sejumlah syarat yang diberikan saat seseorang menggelar selametan. Tentu saja hal yang dipersyaratkan berbeda. Namun pelepasan burung dan bibit ikan di Sungai Bengawan Solo merupakan simbol untuk melestarikan dan meyeimbangkan kehidupan. Artinya, melepaskan makhluk hidup agar dosa-dosa mendapat pengampunan. 

“Ada perhitungan tertentu untuk melihat shio itu dan pantangannya. Untuk itulah dilakukan ruwatan. Terutama bagi yang Jiong (shio-shio yang berlawanan). Namun tidak menutup kemungkinan keikutsertaan peserta lainnya meski tidak jiong. Bahkan sekalipun tidak menganut Tri Dharma juga diperkenankan untuk mengikuti ciswak,” tutup Sumantri.

Ketua Vihara Cetya Siti Garba, Djunaedi Kartolo menambahkan bahwa ciswak bisa dilakukan sebelum atau sesudah tahun baru Imlek. Tentunya tergantung kebiasaan masing-masing rumah ibadah. Maka tidak dipermasalahkan soal kapan ritual itu dilakukan. Yang jelas, setiap peserta hanya perlu memahami bahwa hidup itu adalah karma. Ada karma baik dan karma buruk, pada waktu tertentu, karma-karma ini bisa matang. Maka perlu dilakukan ciswak. 

“Bagi masyarakat Tionghoa ada kepercayaan soal pertentangan unsur atau shio. Dan berpotensi mendapatkan kemalangan. Maka perlu dilakukan ciswak. Bisa dikatakan ritual untuk memohon pengampunan akan karma buruk, atau tolak bala tergantung pemahaman masing-masing. Namun ini perlu dikembalikan pada personal masing-masing,” jelas Djunaedi.

Kalau berdasarkan urutan shio, yang jiong dengan babi adalah shio kera,  macan, dan ular. Maka syaratya pun berbeda-beda, tapi intinya untuk kebaikan di masa depan. Karena masa depan tidak ada yang tahu, maka ada baiknya jika Ciswak tahunan ini digelar. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia