Selasa, 18 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Pendeta Konghucu: Tahun ini Baik Buka Usaha, tapi Tak Boleh Serakah

04 Februari 2019, 17: 42: 59 WIB | editor : Perdana

Pendeta Konghucu: Tahun ini Baik Buka Usaha, tapi Tak Boleh Serakah

IMLEK bagi warga Tionghoa bukan hanya sekadar pergantian tahun. Namun ada kepercayaan mereka terhadap shio. Pada Imlek kali ini merupakan pergantian dari Shio Anjing Tanah ke Babi Tanah, di mana shio ini memiliki makna tersendiri bagi warga Tionghoa. 

Menurut Pendeta Muda Konghucu, Ws Adjie Chandra bahwa pada tahun Babi Tanah ini merupakan tahun yang baik dalam membuka usaha. Namun tidak boleh terlalu serakah karena bisa berdampak positif.  

“Sebuah prediksi itu bukan ramalan. Tentu ada baik buruknya, soal bagaimana kedepannya semua dikembalikan pada pelakunya masing-masing,” jelas Adjie Chandra.

Orang yang paling bertanggung jawab untuk segala urusan ibadah di Litang Gerbang Kebajikan di Jl Yap Tjwan Bing No 15 Kelurahan Purwodiningratan, Kecamatan Jebres, Solo ini mengaku banyak dimintai pandangan soal apa yang baik dilakukan jelang pergantian tahun Imlek. 

Meski tidak mempelajari ilmu itu secara khusus, pria yang akan segera berusia 61 tahun pada 13 Februari besok itu siap memberikan sedikit ulasan berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya selama ini. 

“Masukan dan saran kerap diminta umat untuk menanyakan peruntungan ke depan. Walau saya tidak mempelajarinya dengan cukup dalam, paling tidak saya bisa memberikan rambu-rambu dan prediksi soal apa yang baik dilakukan pada tahun depan,” jelas dia.

Ia membenarkan bahwa menjelang pergantian tahun banyak umatnya yang menanyakan soal prediksi setahun ke depan. Tentu saja dalam penerawangannya selalu mengacu pada Cap Ji Shio (12 Lambang Binatang) dan lima unsur yang berlaku. 

“Shio itu adalah 12 binatang. Dalam tradisi Tionghoia ada 12 binatang yang dijadikan simbol untuk kehidupan. Dimulai dari tikus hingga babi. Jadi setiap 12 tahun sekali akan kembali ke awal dan terus berputar seperti biasanya,” ujarnya. 

Dalam cerita legenda, ketika Tuhan mendefinisi sifat manusia itu dipakailah binatang-binatang itu. Dua belas hewan ini memiliki ciri dan sifatnya masing-masing. Ada sisi positif dan sisi negatif. Kemudian ada lima unsur seperti api, air, tanah, logam, dan kayu. Ini pun tiap tahun berubah.

Ia pun membuka sebuah buku yang memiliki gambar 12 lambang binatang itu. Perlahan dirinya mulai menunjuk gambar Babi yang juga merupakan shio di tahun 2019 ini. Menurut dia, babi memiliki dua sisi yang baik dan buruk. Segi positifnya babi merupakan lambang kemakmuran. Maka akan sangat baik jika memulai sebuah upaya di tahun ini. segi negatifnya. Babi merupakan hewan pemalas dan rakus. Maka harus hati-hati jika tetap bertahan dalam kemalsan atau terlalu serakah dalam mengupayakan keuntungan. 

“Secara umum tahun ini diharapkan masyarakat akan dilimpahi dengan berbagai kemakmuran,” jelas dia.

Sementara unsur tanah, sambung Adjie Chandra merupakan tempat manusia hidup. Oleh sebab itu segi positifnya akan banyak kemakmuran di negeri Indonesia pada tahun 2019. Namun jika hal itu tidak diupayakan, tanah mampu berbalik kepada hal menakutkan karena tanah adalah tempat kita berpulang di mana dapat diartikan sebagai sebuah kuburan. 

“Karena tahun ini tahun politik, semua pihak boleh berupaya semaksimal mungkin namun tujuannya harus untuk kemakmuran rakyat. Jika tidak, rakyatlah yang akan sengsara. Maka para pejabat harus mendasari kebijakan yang diambil untuk kepentingan masyarakat luas bukan kepentingan salah satu golongan,” tutur dia. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia