Jumat, 15 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Melongok Kirab Gunungan Lumpia Duleg Khas Delanggu

04 Februari 2019, 18: 01: 44 WIB | editor : Perdana

Melongok Kirab Gunungan Lumpia Duleg Khas Delanggu

Warga Dusun Lemburejo, RW II, Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, Klaten punya tradisi unik. Yakni Kirab Lumpia Duleg. Siapa sangka, kuliner khas Delanggu ini berawal dari kegagalan tokoh desa setempat yang ingin meniru lumpia Semarang.

ANGGA PURENDA, Klaten

GANG sempit di Dusun Lemburejo, RW II, Desa Gatak tampak disesaki warga yang hendak menyaksikan cethik geni, Minggu (3/2). Prosesi ini sebagai awal dari kirab gunung lumpia duleg yang menempuh jarak 500 meter mengelilingi kampung setempat. Tampak warga menggunakan baju tradisional mengiringi gunung lumpia duleg setinggi satu meter itu.

Perjalanan kirab gunungan lumpia duleg pun melintasi sejumlah tempat ibadah yang ada di kampung setempat. Mulai dari melintasi masjid yang disambut dengan musik hadroh dimainkan warga. Begitu juga saat melewati Gereja Kristen Jawa (GKJ) juga disambut dengan puji-pujian para umat. Terakhir juga melintasi Pura yang disambut dengan doa dari para umat Hindu di Dusun Lemburejo sendiri.

Tampak warga begitu bersukacita atas dikirabnya lumpia duleg yang baru pertama kaliny dikirab mengelilingi kampung. Guna semakin menegaskan sebagai asal mula lumpia duleg didirikan sebuah tugu. Berbentuk tangan yang sedang membawa lumpia duleg dibungkus dengan daun pisang.

”Awal mula ada rencana kita menggelar kirab lumpia duleg saat akan mendirikan tugunya yang bersumber dana desa itu. Lantas ada ide dari warga lainnya untuk peresmiannya dilakukan dengan mengadakan acara kirab ini. Kita namai cethik geni atau mematik api sebagai awal dari kegiatan masak-memasak,” jelas Seno Guntoro, inisiator kirab kepada Jawa Pos Radar Solo.

Lumpia duleg sendiri pertaa kali dibuat almarhum Mbah Karto Purno yang merupakan warga Dusun Lemburejo. Dia sebelumnya bekerja sebagai pekerja pembuat lumpia khas Semarang. Tetapi setelah memutuskan pulang ke Semarang mencoba membuat lumpia sendiri.

Sebenarnya Mbah Purno sudah berulangkali mencoba untuk membuat adonan kulit lumpia tapi selalu saja gagal. Hingga akhirnya menggunakan pati onggok yang menjadikan lumpia kenyal. Pati onggok sendiri merupakan sisa pengilingan tepung tapioka yang berasal dari singkong. Siapa sangka dari produk gagal itu justru diminati konsumen hingga saat ini.

”Kalau dulunya berisikan potongan daun papaya, wortel dan toge. Mungkin karena ingin lebih praktis akhirnya hanya beisikan toge saja. Tapi tetap saja ada penikmatnya sehingga lumpia duleg eksis hingga saat ini,” ungkapnya.

Pada awal kemunculan lumpia duleg hanya diproduksi ketika ada acara berskala besar seperti perayaan hari-hari keagamaan, pagelaran wayang kulit hingga lomba pacuan kuda. Tetapi seiring permintaan konsumen yang semakin meningkat menjadikan lumpia duleg diproduksi setiap hari sejak 1980-an. Mereka menjajakan di sekitar Kecamatan Delanggu dengan bandrol harga Rp 1.000 sudah mendapatkan 5 biji.

“Saat ini tinggal menyisakan 15 perajin lumpia duleg yang memproduksi setiap harinya. Kami ada gagasan guna melestarikan kuliner khas ini ingin dibuatkan peraturan desa (Perdes) sekalian. Setiap ada hajatan di diwajibkan menyajikan lumpia duleg ini,” ucapnya.

Salah seorang perajin yang masih eksis hingga saat ini adalah Daliyem, 70, atau warga mengenalnya Mbah Sidal. Ia merupakan generasi ketiga di kampung yang menjadi perajin lumpia duleg dan berjualan dengan berjalan kaki menggendong tenggok.

“Usah lumpia duleg ini sudah turun temurun dari keluarga saya. Tapi sayang dari anak-anak saya tidak ada meneruskan. Saya harap siapa saja khususnya anak muda bisa tetap melestarikan lumpia duleg ini,” ucapnya.

Setiap harinya Mbah Sidal membuat 600 biji lumpia duleg yang dijajakan di sekitar Stasiun Delanggu. Dirinya pun mampu mengantongi pendapatan kotor hingga Rp 150 setiap harinya. Hanya saja dirinya belum mampu menerima pesanan dalam partai besar karena hanya seorang diri saja. (*/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia