Senin, 18 Feb 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

Dongkrak Wisatawan, Pemprov Jateng Genjot Event Kreatif

04 Februari 2019, 18: 48: 53 WIB | editor : Bayu Wicaksono

Taman Balekambang Kota Solo.

Taman Balekambang Kota Solo. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SEMARANG – Mengelola pariwisata tidak bisa hanya dilakukan dengan cara-cara konvensional. Tapi butuh inovasi agar menarik pengunjung. Salah satunya dengan gencar menggelar event-event menarik di objek-objek wisata.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah, Sinoeng Nugroho Rachmadi mengatakan, event pariwisata memang terbukti menjadi magnet bagi para wisatawan. Ia mencontohkan pada 2017 lalu, kunjungan wisatawan di Taman Balekambang Solo lebih banyak dibanding kunjungan ke Candi Prambanan.

“Pada 2017, kunjungan wisatawan di Taman Balekambang Solo mencapai 2,5 juta, sementara Candi Prambanan hanya 910 ribu. Bahkan jumlah pengunjung Taman Balekambang hampir menyaingi Candi Borobudur yang hanya 2,9 juta kunjungan,” kata Sinoeng, Senin (4/2).

Padahal, lanjut Sinoeng, Taman Balekambang hanya destinasi wisata biasa saja. Namun karena banyak event yang sering digelar, wisatawan akhirnya tertarik datang ke sana daripada ke Candi Prambanan.

“Event yang rutin digelar di Taman Balekambang adalah Sendratari Ramayana. Selain itu, setiap hari libur juga pasti ada event di taman itu sehingga menarik banyak kunjungan wisatawan,” terangnya.

Berkaca dari data tersebut, pihaknya akan mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru agar  kunjungan wisatawan ke Jawa Tengah semakin terdongkrak. Salah satunya dengan mendorong pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

“Siapapun yang memiliki ide atau event yang potensial pasti akan kami dukung. Selain itu, kami juga akan memaksimalkan industri kreatif dan promosi wisata dengan sosial media dan mengajak anak muda sebagai pelaku dan penikmat wisata untuk terlibat,” paparnya.

Disinggung mengenai target kunjungan wisatawan, tahun  ini ditargetkan 1,2 juta wisatawan asing datang ke Jawa Tengah. Sementara untuk wisatawan lokal, ditargetkan sebanyak 40 juta lebih.

“Kami optimistis target itu akan tercapai. Kami sudah siapkan sejumlah event, baik dari kabupaten/kota, Pemprov Jateng dan event nasional,” tegasnya.

Soal penurunan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2018 sebanyak 13,37 persen dibanding 2017, Sinung mengatakan jika hal itu dikarenakan beberapa faktor. Pertama, karena pada Februari 2018 Bandara Adi Soemarmo Solo tidak melayani penerbangan internasional lagi. Selain itu, banyaknya event internasional di Jogjakarta yang tidak digelar pada 2018 juga berdampak ke Jateng.

“Belum lagi banyaknya bencana alam i di Indonesia juga cukup berpengaruh. Lalu ada revitalisasi di Kota Lama juga belum selesai. Ini memberikan dampak signifikan, mengingat Kota Lama memiliki daya tarik cukup besar,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta Disporapar Jawa Tengah untuk menggenjot gelaran event berskala internasional di Jawa Tengah. Sebab menurutnya, event merupakan cara paling ampuh untuk menarik wisatawan berkunjung ke Jawa Tengah, khususnya wisman.

“Perbanyak event, promosi juga harus terus ditingkatkan. Promosi ini harus menyeluruh. Tidak hanya mengajak wiswan ke Prambanan dan Borobudur, mereka bisa diajak piknik ke banyak tempat wisata di Jateng. Kan kita punya banyak destinasi wisata yang menarik,” kata dia.

Minimal lanjut Ganjar, karena pelabuhan dan bandaranya ada di Semarang, maka daerah di sekitar Semarang juga harus ditawarkan. Apalagi, transportasi saat ini sudah baik, bisa juga wisatawan asing diajak berkeliling Jawa Tengah.

“Dengan adanya tol, sekarang Semarang-Solo kan hanya satu jam, maka bisa saja wisman itu digeret ke Solo, Kabupaten Semarang, Jepara, Kudus, Pekalongan atau kota lainnya. Kalau ini dilakukan, maka pariwisata Jateng yang lain juga akan terdongkrak,” terangnya.

(rs/bay/bay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia