Selasa, 17 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Siswa ADHA Pindah, Lokasi Dirahasiakan

08 Februari 2019, 12: 34: 17 WIB | editor : Perdana

Etty Retnowati, Kepala Dinas Pendidikan Surakarta

Etty Retnowati, Kepala Dinas Pendidikan Surakarta

Share this      

SOLO - Anak dengan HIV/AIDS (ADHA) di SDN Purwotomo, Laweyan akhirnya tidak melanjutkan belajar di sekolah tersebut. Mereka harus pindah ke tempat lain lantaran mendapat tekanan dari komite sekolah setempat.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta Etty Retnowati mengatakan, terdapat 14 ADHA yang saat ini sedang mencari sekolah baru. Sebenarnya pemkot ingin memberi tenggat waktu hingga selesai pergantian semester. Namun komite sekolah tidak memberi kesempatan lagi kepada anak-anak tersebut. “Katanya orang tuanya nggak mau. Alternatif sekolahnya rahasia,” katanya, Kamis (7/2).

Merahasiakan lokasi sekolah untuk ADHA dipilih sebagai salah satu solusi agar tidak ada penolakan serupa. Menurut Etty, sebagian besar orang tua siswa di Solo belum memiliki kesadaran untuk menerima ADHA di tengah-tengah mereka. Itu terjadi akibat kurangnya pengetahuan soal HIV/AIDS.

“Kalau dikasih tahu lokasinya, kasihan anak-anaknya. Edukasi kepada orang tua siswa sudah dilakukan tapi tetap nggak bisa. Mereka tetap nggak mau menerima,” imbuhnya.

Etty ingin seluruh masyarakat bijak dalam melihat persoalan ADHA. Mereka adalah manusia biasa yang memiliki hak sebagaimana masyarakat pada umumnya. Dia menegaskan kembali bahwa HIV/AIDS tidak dapat menular dengan bersentuhan kulit. Penularan hanya dapat dilakukan jika melakukan hubungan badan atau lewat jarum suntik.  

Sementara itu Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo memiliki pandangan lain soal kepindahan 14 siswa ADHA. Dia ingin kepindahan siswa tersebut diinformasikan kepada kepala sekolah terkait. Hal itu sebagai bentuk tanggung jawab negara terhadap ADHA.

“Sebaiknya dikasih tahu. Kalau enggak malah nanti berisiko. Ini juga sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat. Kalau nggak dijelaskan begini masyarakat sampai kapanpun tidak akan paham,” katanya.

Masyarakat pada umumnya, lanjut Rudy,  belum mengerti dengan baik bagaimana HIV/AIDS. Penyakit tersebut tidak bisa menular. Dia juga menekankan bahwa penularan tidak dapat terjadi dengan bersentuhan kulit secara langsung dengan ADHA.

“Anak-anak itu (ADHA) juga mendapat pengawasan dan pemeriksaan kesehatan secara rutin dari pemkot. Kalau setiap pindah sekolah, ada anak terkena AIDS diprotes, artinya mereka dikucilkan. Itu nggak boleh terjadi,” tegasnya. (irw/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia