Senin, 18 Feb 2019
radarsolo
icon featured
Features
Laku di Moscow, tapi Sulit Cari Penjahit

Manfaatkan Lurik untuk Bahan Aksesori Perempuan

10 Februari 2019, 10: 20: 59 WIB | editor : Perdana

SEDANG TREN: Liem dengan aneka aksesori yang memanfaatkan kain lurik.

SEDANG TREN: Liem dengan aneka aksesori yang memanfaatkan kain lurik. (A.CHRISTIAN/RADAR SOLO)

BUKAN hanya cantik untuk produk fashion, kain lurik juga bisa dijadikan material utama aksesori perempuan. Yang menjadi tantangan, belum banyak tenaga terampil mampu menjahit lurik menjadi dompet, tas, dan lainnya.

A.CHRISTIAN, SOLO

PELUANG bisnis aksesori perempuan ditangkap Liem Lie Bien. Usahanya itu sudah dirintis sepuluh tahun silam. “Sebelum lurik, masih pakai kain biasa. Terus saya beri motif bordir dan sablon. Ada juga yang saya lukis menggunakan cat tekstil. Namun yang namanya fashion, apalagi aksesori wanita perkembangannya pesat. Kita harus melek soal itu," bebernya ditemui di stan pameran.

Setelah mencari reverensi di internet, motif yang digandrungi kaum hawa saat ini adalah lurik. "Saya sempat kaget juga, kok bisa lurik. Padahal lurik itu motif lawas,” kata dia.

Dari sisi motif, lurik memiliki kesamaan di bagian depan maupun belakang. Itu memudahkan proses pemotongan untuk dijahit menjadi kemeja, rok, jarit, kebaya, dan lainnya.

Namun, Liem enggan ikut arus. Dia memilih menjadik lurik sebagai bahan aksesori perempuan. “Belum ada yang fokus membuatnya. Kebetulan, basic saya (perajin, Red) aksesori. Ya sudah saya garap saja,” jelasnya.

Bisa ditebak, produk aksesori berbahan lurik buatan Liem cukup diminati. Di awali dari membuat tas, kemudian merambah jenis lainnya. Meski begitu, bukan berarti tanpa hambatan. Selain modal dan pemasaran, dia terkendala mendapatkan tenaga terampil. 

“Jangan dikira gampang. Jahit aksesori beda sama jahit baju. Tidak rapi sedikit saja, pasti hasilnya jelek, dan itu kelihatan," terang warga Griya Aahsani Kavling A5, Kampung Genengan, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres.

Pernah suatu ketika Liem bekerja sama dengan penjahit dan dimintanya membuat dompet. Sayangnya, hasil akhir tidak seperti harapan. "Harus saya bongkar kemudian dirapikan lagi. Jadi rugi tho. Dari situ sekarang semua proses saya kerjakan sendiri," katanya.

Selain rajin mengikuti pameran, demi mendongkrak penjualan, Liem tidak pernah absen buka stan di night market Ngarsopuro. Dia juga memiliki beberapa reseller. "Reseller saya bukan toko, tapi mahasiswi. Mereka saya ajarkan menghasilkan uang walau masih kuliah," ucapnya.

Cara lainnya, aksesori perempuan berbahan kain lurik dipasarkan secara online. Liem juga terbantu salah seorang temannya yang bersedia menjualkan produk tersebut ke Moscow.

“Ternyata orang sana pada suka. Jadi kebanggan tersendiri juga, lurik asli Indonesia diminati oleh orang luar negeri," tutur Liem.

Guna mengembangkan sayap, dalam waktu dekat, dia ikut memeriahkan pameran Inacraft. Untuk itu, Liem menyiapkan bahan dan model premium. (wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia