Rabu, 24 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Features

Mengenal Elizabeth Sudira, Pemilik Album Rindu Solo 

Inspirasi Datang dari Kehangatan Keluarga

11 Februari 2019, 18: 56: 43 WIB | editor : Perdana

PERCAYA DIRI: Elizabeth Sudiro menyanyikan Rindu Solo di halaman balai kota akhir pekan.

PERCAYA DIRI: Elizabeth Sudiro menyanyikan Rindu Solo di halaman balai kota akhir pekan. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Akhir pekan kemarin merupakan hari spesial bagi Elizabeth Sudira, 28. Pemkot menggelar acara khusus untuk lanching album Rindu Solo karya Eliz-sapaan akrabnya. 

SILVESTER KURNIAWAN, Solo

“TERIMA kasih lho sudah menyempatkan datang. Jadi ini lagu yang waktu itu,” ujar Eliz membuka perbincangan di halaman balai kota.

Lagu waktu itu? Kalimat perempuan kelahiran 19 Januari itu mendorong koran ini menggali memori. Ternyata, lagu Rindu Solo itu pernah dibawakan Eliz pada 29 September 2018 pada agenda Solo City Jazz.

“Kebetulan saat itu ada orang pemerintahan yang lihat. Kemudian ditawari untuk mempromosikan bersama. Katanya lagunya sangat ikonik,” jelasnya.

Sambil merapikan riasannya, Eliz mengungkapkan bahwa ide membuat album tersebut muncul secara tiba-tiba. Dia ingin membuat lagu tentang Kota Solo yang easy listening dan bisa dinikmati semua usia.

Tapi, karena banyak kesibukan, keinginan tersebut sempat terpendam. “Pas mau tidur, saya terngiang sebuah kalimat. Lalu saya asal rekam saja pakai voice note,” kata dia.

Esok harinya, rekaman kembali diputar beberapa kali. Dia pun optimistis bait lagu tersebut layak digarap secara profesional. Liz pun segera koordinasi bersama band-nya, The Ranger untuk menanyakan apakah lagunya bisa dibawakan saat manggung di Solo City Jazz. 

Di sela latihan bersama The Ranger mencari aransemen yang pas untuk Rindu Solo, dari balik studio tempatnya berlatih muncul seorang arranger musik nasional asal Kota Bengawan, Tommy Widodo. Tommy menawarkan kerja sama. 

“Katanya semalam dia (Tommy,Red) ngobrol dengan teman dan katanya Solo perlu punya lagu tentang Solo. Dan kok pas banget beliaunya dengar saya pas latihan lagu ini. Pas ditawari untuk digarap lebih profesional lagi, saya langsung mau,” bebernya.

Hingga akhirnya, Liz pun mampu membawakan tembang karyanya di depan publik Kota Bengawan dengan elok. Sepenggal lirik andalan pun muncul. Dari situlah, dapat dimengerti alasan single ini di beri judul Rindu Solo. “Sederhanamu buat ku jatuh hati... Slalu ingin pulang ke Solo,” lantun Eliz dari atas panggung.

“Sebenarnya Solo punya beberapa lagu yang menggambarkan ciri khasnya. Seperti Stasiun Balapan dan Terminal Tirtonadi ciptaan mas Didi Kempot. Saya merasa beruntung bisa mendapat apresiasi seperti ini,” kata dia.

Yang semakin membuat Liz bangga, bersamaan dengan launching Rindu Solo di balai kota, seluruh radio lokal di Kota Bengawan serentak memutar lagu yang sama. “Saya cukup percaya diri kalau proyek yang digarap bersama Tommy Widodo dan Andre Nunno bisa diterima banyak orang,” terangnya.

Jika dicermati, Rindu Solo menggambarkan anak perempuan yang selalu rindu dengan hangatnya Kota Bengawan. “Kalau boleh jujur, malam ide itu muncul karena malam sebelumnya saya tidur bareng ibu dan ayah. Dan saat saya lihat punggung ayah, saya pikir ke mana pun saya pergi akan tetap merindukan kehangatan seperti ini,” jelas putri sulung pasangan Ari Budiharjo dan Yuni Ariyani.(Ves)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia