Senin, 18 Feb 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Suka Duka Pengemudi Taksi, Ada Kisah Horor hingga Pelecehan

11 Februari 2019, 21: 13: 01 WIB | editor : Perdana

HANDA DEE, Driver Taksi Online

HANDA DEE, Driver Taksi Online (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

SEMUA pekerjaan pasti ada risikonya. Termasuk menjadi sopir taksi. Mulai dari yang menyenangkan hingga mencekam. Itu dialami salah seorang driver taksi online perempuan Handa Dee, 30.

“Kejadiannya waktu masih awal menjadi driver online. Dini hari, saya dapat order penumpang yang baru saja keluar dari salah satu tempat hiburan malam. Saat masuk mobil, saya langsung mencium bau alcohol. Dari situ mulai tidak nyaman,” katanya.

Berusaha tetap profesional, Handa mengimbangi semua obrolan penumpang dengan ramah. Tapi, di tengah perjalanan, si penumpang meminta diantarkan ke lokasi lain.

“Awalnya dari kafe minta diantar ke terminal. Sudah hampir sampai (terminal, Red) minta pindah lagi diantar ke Kartasura. Saya makin tidak tenang,” kenang dia.

Si penumpang pun mulai melakukan gerakan yang membuat Handa semakin tidak nyaman. Seperti duduk condong ke jok Handa. Meski takut, perempuan murah senyum ini tegas meminta si penumpang menghentikan gerakan tersebut karena mengganggu konsentrasi mengemudi.

Di tengah situasi itu, Handa memanfaatkan prosedur keselamatan yang sudah dipelajarinya dari komunitas driver taksi online. Sang ketua komunitas segera melakukan panggilan telepon dengan dalih dari manajemen aplikasi mengonfirmasi perubahan rute. “Setelah ada telepon itu, penumpangnya jadi lebih anteng,” jelasnya.

Selama perjalanan, telepon dari kawan dirver lain dibiarkan tetap tersambung. Itu agar cepat memberikan respons ketika Handa mengalami kondisi gawat.

“Driver perempuan memang lebih rawan kena pelecehan seksual. Kalau saya diam, pasti akan lebih parah. Makanya saya lawan saja sekalian. Eh kok ternyata penumpangnya malah bisa manut. Jadi malam itu saya terbebas dari suasana yang cukup tidak mengenakkan,” paparnya. 

Handa berpesan kepada driver taksi perempuan lainnya, untuk tidak berdiam diri ketika mendapat perlakuan tidak sopan dari penumpang. “Kalau masih memiliki keberanian melawan, silakan lawan. Tapi jika tidak, segera minta tolong kawan lainnya,” tegasnya.

Berbeda dengan Handa, driver lainnya, Arif Wibisono, 35, mengalami kisah horor. Dia mendapatkan penumpang tidak kasat mata. “Empat kali saya alami kejadian horor,” ucapnya.

Kisah pertama, dirinya mendapat penumpang dari Terminal Tirtonadi menuju Slogohimo, Wonogiri. Setelah menyelesaikan pengantaran, dirinya balik Solo dengan kecepatan sedikit lebih lambat karena jalan yang dilalui kawasan perkebunan lebat.

Dari kaca spion, Arif melihat semacam ada kain putih menempel di bagian belakang mobilnya. Setelah diamati, ternyata menyerupai pocong. “Saya sampai berhenti dan memeriksa bagian belakang mobil. Tapi nggak ada apa-apa. Nggak lama, nongol lagi. Saya tancap gas dan akhirnya hilang setelah masuk perkampungan,” ungkap dia.

Kejadian kedua dan ketiga hampir mirip. Arif menaikkan penumpang yang baru pulang dari salah satu kafe. Titik dropping di sekitar tempat pemakaman umum (TPU) Bonoloyo.

“Saya yakin masuk perkampungan. Setelah penumpang turun, mobil tidak bisa di-gas. Ternyata rodanya naik ke atas kijing,” jelasnya. Untuk membantu Arif, 16 driver taksi konvensional menuju lokasi.

Yang terbaru, Arif mendapatkan tiga penumpang remaja putri dari Kampung Batik Laweyan saat larut malam. Awalnya tak ada yang aneh. Sebab, saat ditelepon, si penumpang sempat menjawab. Tapi, beda cerita setelah penumpang masuk mobil.

“Selama perjalanan mereka hanya diam. Saat ditanya itu hanya menjawab tujuannya. Setelah sampai lokasi tujuan,  saya tengok dari kaca spion, mereka sudah menghilang,” terangnya. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia