Senin, 20 May 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan
UMS BICARA

Kemacetan di Simpang Empat, Bagaimana Solusinya?

12 Februari 2019, 13: 55: 46 WIB | editor : Perdana

Kemacetan di Simpang Empat, Bagaimana Solusinya?

BELUM lama ini saya menulis tentang problem jalan tol dan alternatif solusinya. Masih terkait jalan raya, kali ini saya menyoroti problem bottle neck atau kemacetan di sekitar simpang empat.

Mirip dengan gerbang tol, simpang empat juga berpotensi menimbulkan kemacetan lalu lintas. Bagaimana agar problem ini bisa diminimalkan?

Alhamdulillah, saya pernah mengenyam pendidikan di negara maju, tepatnya di University of Waterloo Ontario Kanada. Analisis yang akan saya kemukakan dalam tulisan ini bukan karena saya mengambil program studi terkait transportasi di University of Waterloo, tetapi berdasarkan pengalaman saya selama tinggal di Kanada, semacam mengambil best practices.   

Untuk kasus simpang empat, kendaraan berhenti guna memberikan kesempatan kendaraan lain melintas di simpang empat adalah hal yang wajar, selama waktu tunggunya dalam batas toleransi. Jika terlalu lama, dipastikan pengendara akan mengeluh, dan problem pun muncul. 

Di Indonesia, untuk kepadatan arus lalu lintas yang relatif sama dari berbagai arah (4 arah untuk kasus simpang empat), desain simpang empat dibuat secara simetris kanan-kiri-depan-sisi menghadap, dengan pengaturan durasi antrian melintas yang seragam. Satu siklus terdiri dari empat antrean melintas.

Misal, jika setiap arah diberi waktu selama 1 menit untuk melintas, kendaraan yang berhenti pertama karena lampu merah menyala akan menunggu tiga menit lagi untuk bisa melintas. Jika kepadatan tinggi, suatu kendaraan yang posisinya di belakang bisa menunggu bersiklus-siklus antrian melintas (1 siklus = 4 menit).  

Perbedaan yang paling mencolok desain simpang empat di Indonesia dan Kanada, khususnya jalan-jalan baru, adalah pengaturan siklus antrean melintas; di Kanada praktis hanya ada 2 antrian. Perbedaan siklus antrean melintas ini otomatis memengaruhi arsitektur simpang empat; komparasi keduanya ditampilkan dalam gambar berikut (tanpa skala):

Catatan: Jalur crossing Desain B dibuat menjorok ke dalam agar tidak menghalangi jalur lurus

Siklus antrean melintas simpang empat di Kanada (desain B) diatur sebagai berikut: pada saat pergantian antrean melintas, kendaraan yang pertama jalan adalah kendaraan berhadapan yang saling crossing, kemudian kendaraan berhadapan saling lurus (saling crossing berhenti), diakhiri dengan sisa kendaraan saling crossing (saling lurus berhenti). 

Seberapa efektif desain B mengatasi kemacetan di simpang empat? Mari kita simulasikan secara sederhana menggunakan beberapa basis perhitungan berikut: 1 siklus 2 menit; desain A 1 siklus 4 antrean, per antrean 30 detik; desain B 1 siklus 2 antrean, per antrean 1 menit terdiri dari (misal) 7,5 detik saling crossing awal, 45 detik saling lurus, 7,5 detik saling crossing akhir; kecepatan melintas 10 detik pertama (kecepatan awal, vo) 5 kendaraan, dan seterusnya ada percepatan melintas sebesar a = 0,01 kendaraan/detik2.

Basis perhitungan terakhir logis karena jelas ada perbedaan kecepatan melintas untuk kondisi mula-mula kendaraan diam dan jarak antar mobil sangat berdekatan, dengan kondisi mula-mula kendaraan bergerak dan space lebih longgar. Berdasarkan basis perhitungan yang digunakan, hasil simulasi 1 siklus 2 menit dan 4 menit ditampilkan dalam tabel berikut:

 Terlihat semakin lama durasi siklus, desain B bisa melintaskan kendaraan lebih banyak. Dengan siklus 4 menit, desain B menaikkan jumlah kendaraan melintas sampai 20,83% lebih banyak dari desain A. Jumlah maksimal masih bisa diperoleh dengan mengatur durasi crossing awal, lurus, dan crossing akhir.

Ini membuktikan desain B lebih potensial meminimasi kemacetan, dan tentu saja lebih nyaman bagi pengendara karena waktu tunggunya lebih singkat.

Tidaklah sulit mengondisikan simpang empat di Indonesia dengan desain B, baik yang existing lebih-lebih jalan baru. Desain B hanya memerlukan space lebih luas di sekitar simpang empat, dengan masing-masing arah sepanjang tidak lebih dari 100 meter.

Akhirnya, idiom berikut mungkin tepat untuk mendorong perubahan desain simpang empat di Indonesia…. jika ada yang lebih nyaman, mengapa memilih yang tidak nyaman. Wassalaam..…

Oleh: Muhammad Mujiburohman, Staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta 

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia