Senin, 18 Feb 2019
radarsolo
icon featured
Features

Prasasti Peninggalan Belanda Ditemukan di Pos Damkar

12 Februari 2019, 14: 13: 11 WIB | editor : Perdana

JEJAK SEJARAH: Petugas damkar menunjukkan meja marmer yang ada tulisan dalam bahasa Belanda.

JEJAK SEJARAH: Petugas damkar menunjukkan meja marmer yang ada tulisan dalam bahasa Belanda. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Matias Andri, 46, tidak menyangka kalau meja yang setiap hari dia lihat itu ternyata memiliki nilai sejarah. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Surakarta ini baru sadar setelah Minggu malam lalu (10/2), tanpa sengaja dia menemukan ada tulisan Belanda di balik meja dari lempengan batu tersebut. Bagaimana ceritanya?

A. CHRISTIAN, Solo

MATIAS malam itu sontak terkejut begitu mengangkat meja berbentuk lempengan dari batu marmer tersebut dia melihat ada sesuatu yang aneh. Setelah diperiksa ternyata di balik benda berukuran 1x1,5 meter dengan ketebalan 7 centimeter  itu ada tulisan asing. Bunyinya:  Deza ingang werd opgeridht in 1930 huldeblijk der Europee sche ingezetenen aan Z.H Pakoe Boewono X Soesoehoenan van Soerakarta bij Hoogstdezzelfs 64 sten verjaardag op 3 Januari 1929.

“Jadi awalnya dikira teman-teman itu marmer biasa. Karena di sini (markas damkar) dulu katanya kuburan China. Makanya batu lempengan itu sempat dijadikan meja piket,” tutur Andri kemarin.

Tiga hari sebelum menemukan tulisan tersebut, dia sempat memiliki firasat untuk memindahkan lempengan marmer tersebut ke kantor damkar yang sudah selesai dibangun. Karena kebetulan Minggu malam dia mendapat tugas piket jaga, dengan dibantu rekan-rekannya dia lantas memindahkan meja tersebut ke bagian depan.

“Karena berat, kami pindah lempengan itu dengan digotong ramai-ramai. Saat itu kami baru ngeh kalau ada tulisan di balik marmer itu. Karena selama ini posisinya terpasang terbalik, tulisannya ada di bawah,” ujar warga Kelurahan Mangkubumen, Kecamatan Banjarsari ini.

Karena saat ditemukan kondisi prasasti tersebut kotor oleh debu yang menempel bertahun-tahun, maka dia berinisiatif membersihkan bagian marmer yang terdapat tulisannya. Benar saja, saat dibersihkan muncul tulisan tersebut.

“Kok tulisan Belanda, dengan tahun sudah lama (1929). Saya tidak mengerti bahasa Belanda, saya translate pakai google, tapi tidak jelas artinya. Yang terdeteksi lewat google kalau itu pintu masuk didirikan tahun tersebut sebagai kewajiban pendidik Eropa untuk Sunan PB X dari Surakarta di meja tinggi,” ujarnya.

Sejak kapan benda tersebut mengetahui, dia menuturkan sejak 4 tahun bertugas di Markas Damkar Pedaringan benda tersebut sudah berada di lokasi awal. Dia mencari infomasi petugas damkar lama yang saat ini sudah pensiun, dan mendapat jawaban yang sama. Benda tersebut sudah ada di sana sejak Markas Damkar Pedaringan berdiri pada 2001 silam.

“Jadi intinya petugas di sini tidak ada yang ngeh. Tahunya ini ya meja. Biasanya sama teman-teman yang piket jadi alas buat makan, menaruh barang, main catur, dan lain-lain waktu masih di pos damkar yang lama,” tutur Andri.

Lalu akan diapakan benda tersebut, Andri menuturkan belum mengetahui tindakan ke depannya. Namun  dia sudah melaporkan temuan tersebut ke atasannya. Dia juga sudah melaporkan temuan tersebut ke Gusti Puger. “Namun sampai saat ini belum ada respons. Sementara kami taruh dulu ke kantor sambil menunggu petunjuk pimpinan,” ujarnya.

Jawa Pos Radar Solo mencoba menghubungi Sri Margana, salah satu Pakar Sejarah Universitas Gadjah Mada yang memahami bahasa Belanda. Dari konteks bahasa, prasasti tersebut bertuliskan: Pintu ini dibuat tahun 1930 oleh penduduk Eropa sebagai penghargaan kepada Yang Mulia Susuhunan Pakubuwana X pada ulang tahunnya yang ke 64 pada tanggal 3 Januari 1929 . “Jadi kalau sekarang seperti kartu ucapan ulang tahun,” ujarnya.

Namun seharusnya prasasti tersebut diletakkan di pintu, misal seperti gerbang dan sebagainya. Atau kemungkinan dulu di lokasi tersebut dulu merupakan permukiman Belanda atau benteng, lalu sekarang sudah rusak atau dibongkar kemudian prasasti tersebut diambil. “Namun untuk mengetahui hal tersebut butuh penelitian lebih mendalam,” ujarnya.

Pakar sejarah lainnya, Heri Priyatmoko menuturkan, ada beberapa arti pada prasasti tersebut. Pertama, sebagai bentuk penghormatan Paku Buwana X sebagai kaisar Jawa yang memiliki kawasan itu. Artinya, kaum Eropa yang bercokol di Solo, sekalipun menempati posisi teratas dalam struktur sosial masih menghormati penguasa setempat.

Kedua, sebagai tetenger atau penanda unsur ruang kota, yakni jalan masuk. Jalan ini tentu menghubungkan dua kawasan kota dan daerah, menimbang Pedaringan tempo dulu adalah area periperi atau pinggiran. “Jadi titik yang menyambungkan Solo dengan daerah luar,” ujarnya.

Heri mengaku tidak heran kalau prasasti tersebut ditemukan di kawasan Pedaringan. Mengingat kawasan itu adalah pintu masuk menuju Solo. Dia memprediksi prasasti tersebut masih satu paket dengan Tugu Cembengan sebagai batas administrasi Kota Solo di sisi timur-utara.

“Mungkin di situ dulu ada gerbang masuk ke Solo atau bagaimana saya juga kurang tahu, kemungkinan seperti itu. Tentu (gerbang) tak jauh dari tugu tersebut. Bukti menguatkan penanda batas daerah,” bebernya. (*/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia