Minggu, 26 May 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Pardiyo, 20 Tahun Tekuni Tambal Ban Online 24 Jam di Pelosok Wonogiri

13 Februari 2019, 16: 38: 18 WIB | editor : Perdana

CINTA PROFESI: Pardiyo dengan motor butut yang sudah dimodifikasi layani tambal ban online.

CINTA PROFESI: Pardiyo dengan motor butut yang sudah dimodifikasi layani tambal ban online. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Menjalani profesi sebagai tukang tambal ban sejak remaja tidak membuat Pardiyo, warga Desa Rompak, Kecamatan Jatisrono, Wonogiri ini menyerah. Berbekal motor bututnya, pemuda berusia 40 tahun ini melayani panggilan tambal ban 24 jam di daerah pelosok Wonogiri timur. Seperti apa suka dukanya? 

IWAN KAWUL, Jatisrono

MENGALAMI ban bocor di tengah perjalanan mungkin menjadi momen paling menjengkelkan. Apalagi jika terjadi pada malam hari, hujan gerimis dan jauh dari pusat kota. Namun, jika hal itu terjadi di wilayah Wonogiri bagian timur tidak perlu khawatir. Ada Pardiyo, tukang tambal ban yang bisa dipanggil untuk menambal ban sepeda motor yang bocor. “Saya sudah 20 tahun lebih menjalani profesi ini, sejak saya masih remaja,” kata Pardiyo. 

Ya, sejak remaja Pardiyo menjalani profesi ini untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari bersama adiknya, yang kini berprofesi sebagai tambal ban juga. Kedua orang tuanya sudah lama tiada, sehingga kini tinggal dia dan adiknya saja. “Awalnya dapat modal dari Program PNPM, lalu buka bengkel tambal ban,” katanya. 

Lambat laun, tambal ban yang ditekuninya dia ubah menjadi tambal ban keliling untuk menjangkau warga yang mengalami ban bocor dengan jemput bola. Diubahnya sepeda motor butut Honda Astrea 700 miliknya menjadi motor roda tiga, dilengkapi kompresor dan perlengkapan tambal ban. 

“Setelah dapat bantuan dari PNPM, saya dapat bantuan lagi, dikasih modal dari donatur, lalu motor saya buat jadi roda tiga, sampai saat ini saya keliling,” katanya. 

Meski mengaku tambal ban keliling panggilan 24 jam, tapi tidak semua pelanggan bisa dilayani. Pardiyo hanya beroperasi di tiga kecamatan seperti Jatisrono, Slogohimo dam Purwantoro. Rata-rata daerah ini memiliki medan naik turun.  “Kalau di wilayah pegunungan saya tidak berani, motornya tidak kuat menanjak,” katanya. 

Masalah penghasilan, menjalani profesi tambal ban memang tidak menjanjikan bisa membuat dia kaya raya. Tapi, rasa bahagia bisa membantu orang yang kesusahan mengalami ban bocor menjadi satu motivasi untuk menjalani profesi itu. 

“Kadang sehari dapat Rp 20 ribu, Rp 50 ribu, kadang juga blong tidak dapat apa-apa. Seperti saat ini, hampir dua pekan tidak dapat order tambal ban,” ujarnya terkekeh sembari mengobrol di depan warung kelontong. 

Ke depan, jika ada rezeki atau ada dermawan, dirinya ingin memiliki motor roda tiga asli, bukan modifikasi. Supaya kuat menanjak dan tidak gampang mogok. Bukan saja tambal ban, Pardiyo juga ingin menambah usahanya melayani servis luar seperti ganti kampas rem, rantai dan lainnya. 

“Saya juga ingin menambah cucian keliling, jadi setelah motor ditambal atau motor diservis bisa langsung dicuci,” harapnya. (*/bun)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia