Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Satlantas Terus Evaluasi Pelaksaan E-Tilang

Usai Kendaraan  Pribadi, Bidik Truk Besar 

15 Februari 2019, 12: 28: 51 WIB | editor : Perdana

Satlantas Terus Evaluasi Pelaksaan E-Tilang

SOLO – Dua hari pelaksanaan sistem tilang elektronik (e-tilang) atau electronic traffic law enforcement (E-TLE) dinilai belum memberikan dampak signifikan dalam menekan tindak pelanggaran lalu lintas. Meski satu sisi ini merupakan sebuah terobosan baru, namun kelemahannya masih fokus pada satu titik di mana CCTV tersebut terpasang. Sementara masih ada pelanggaran lebih berat di luar area CCTV tidak ditindak.

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Surakarta Budi Yulianto mengatakan, seharusnya tetap ada sistem mobile, mengingat pelanggaran lalu lintas bisa terjadi di titik manapun. “Kalau untuk satu titik tersebut mungkin masyarakat sudah paham.  Tapi bagaimana lokasi yang tidak terpantau CCTV?” tanyanya.

Budi menuturkan, saat ini dia juga sedang membuat terobosan untuk mendukung penerapan tilang elektronik ini. Yaitu dengan membuat sebuah aplikasi berbasis android agar nantinya bisa digunakan para anggota di lapangan guna memotret dan mendeteksi pelanggaran di luar radius CCTV.

Budi juga menilai bahwa saat ini pelanggaran kasat mata yang ditindak masih sebatas pelanggaran markah dan rambu, serta tidak digunakannya kelengkapan keselamatan berkendara. Padahal, masih ada pelanggaran kasat mata lain. Dia mencontohkan pelanggaran kendaraan angkutan barang yang tidak sesuai rute.

“Contohnya di Simpang Empat Sekarpace, truk-truk di atas 14 ton itu lewat Jalan Hos Cokrominoto, di mana (angkutan berat) tidak diperbolehkan lewat situ, namun mereka nekat memotong arus. Termasuk di Jalan RE Martadinata. Padahal dampaknya sangat besar. Satu bisa menimbulkan kemacetan, dampak lain infrastruktur jalan cepat rusak,” ujarnya.

Selain pelanggaran angkutan berat, ada pula pelanggaran yang dilakukan oleh kendaraan angkutan umum. Di mana dengan alasan mengejar setoran mereka ugal-ugalan di jalan yang itu mengancam keselamatan pengguna jalan lain. “Seperti yang terjadi di kawasan Viaduk Gilingan. Kadang malah mengambil lajur sebelahnya untuk menerobos kemacetan,” tuturnya.

Sedangkan yang ketiga dan masih menjadi pekerjaan rumah adalah terkait balik nama kendaraan. Sebab ketika menjual kendaraan memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sehingga kendaraan tersebut masih tercatat pemilik lama. 

“Kalau saran dari saya, sebelum proses balik nama selesai, masyarakat bisa dibuatkan surat kepemilikan baru yang bersifat sementara. Selain itu, nama pemilik yang baru yang tersimpan di database. Jadi nanti kalau ada pelanggaran yang dikirimi surat konfirmasi adalah pemilik baru, bukan yang lama,” ujarnya.

Meski begitu, lanjut Budi, sistem e-tilang yang sudah diberlakukan merupakan suatu terobosan yang inovatif di bidang penindakan pelanggaran lalu lintas. Sebab, sebelumnya belum ada sistem seperti ini. 

“Sebenarnya sistem ini sudah pernah dibahas pada tahun lalu. Namun, karena saat itu dari sisi infrastruktur maupun SDM belum siap baru diberlakukan tahun ini, dan itu menurut saya sudah bagus,” katanya.

Dengan sistem ini, polisi ingin mengubah stigma dari masyarakat, di mana untuk tertib lalu lintas tidak harus menunggu ada petugas yang berjaga di persimpangan jalan. Dengan sistem ini membuat masyarakat sadar pentingnya taat pada aturan berlalu lintas.

Ke depan Budi berharap aparat kepolisian semakin berinovasi dengan teknologi ini. Bahkan kalau bisa ditingkatkan menggunakan teknologi automatic number plate  recognition (ANPR). Di mana database kendaraan yang melanggar akan langsung keluar saat tersorot kamera.

“Karena sistem ini masih konvensional, masih melibatkan petugas untuk melihat satu-satu, kalau ada 66 titik sangat besar sekali. Mungkin teknologi ini baru digunakan oleh kepolisian luar negeri, namun bukan berarti Polri tidak bisa, secara dana dan SDM kepolisian kita tidak kalah,” ungkapnya.

Terpisah, Kanit Regident Satlantas Polresta Surakarta AKP Suryo Wibowo menuturkan, saat ini masih terus dilakukan evaluasi terkait sistem e-tilang. Dari hasil pantauan, sudah ada lima kendaraan yang melanggar aturan. “Dari pantauan kemarin (Rabu) pelanggaran paling banyak terjadi antara jam 13.00 sampai sore hari,” katanya.

Namun pelanggaran masih bisa ditoleransi, misal hanya satu ban yang melewati batas markah traffic light. Yang ditindak yang berpotensi menimbulkan lakalantas. Namun secara umum, dari pantauan, masyarakat bisa lebih tertib dalam berlalu lintas. “Mereka sudah sadar tanpa ada petugas yang berjaga,” ucapnya.

Disinggung soal penindakan terhadap angkutan barang dan angkutan umum, Suryo menuturkan pada masa uji coba ini memang fokus dari anggota adalah pelanggaran yang dilakukan kendaraan pribadi. “Namun bukan berarti kendaraan berat dan orang tidak kami tindak. Nanti menunggu hasil evaluasi ke depan, akan kita tindak juga,” tutur Suryo.

Terkait sarana dan prasaran jalan, lanjut Suryo, pihaknya juga sudah koordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Surakarta untuk melengkapi hal tersebut. Terutama di jalan-jalan yang sarana dan prasarananya mulai tidak terlihat. 

“Sejauh ini dari dishub siap, apalagi tujuan sistem ini baik untuk menciptakan kamseltibcar lantas yang kondusif,” ujar Suryo. (atn/bun)

Pelanggaran Kendaraan Besar Lolos CCTV

1. Sering memotong arus (memakan badan jalan) 

2. Menerobos  traffic light  

3. Sopir ugal-ugalan dalam mengemudikan bus/angkutan berat

4. Menutup badan jalan sehingga menghalangi kendaraan yang akan belok kiri

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia