Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Bappenas Pastikan PLTSa Beroperasi 

Bakal Adopsi Teknologi Gasifikasi

15 Februari 2019, 13: 44: 01 WIB | editor : Perdana

ENERGI ALTERNATIF: Menteri PPN/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (dua dari kanan) didampingi Wali Kota Rudy (tiga dari kanan) mendapatkan penjelasan tentang cara kerja PLTSa Putri Cempo.

ENERGI ALTERNATIF: Menteri PPN/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (dua dari kanan) didampingi Wali Kota Rudy (tiga dari kanan) mendapatkan penjelasan tentang cara kerja PLTSa Putri Cempo. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Sejumlah tantangan harus dihadapi dalam merealisasikan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo. Namun, pemkot mendapat angin segar dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang melihat langsung lokasi kemarin (14/2).

Menteri PPN/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro berjanji mengupayakan mekanisme subsidi atau support dari pemerintah pusat untuk PLTSa Putri Cempo. 

Kedua, dia juga akan meletakkan PLTSa dalam konteks pembangunan ramah lingkungan. Bambang percaya program tersebut mampu menjadikan Kota Solo bersih dari sampah serta membuat energi listrik yang terbarukan.

“Kita juga apresiasi teknologi yang dikembangkan di sini. Karena selama ini masih ada kritikan soal insenerator, jadi listrik yang katanya ramah lingkungan tapi masih mengandung emisi. Tentu dengan teknologi gasifikasi, emisi bisa dihilangkan. Dan kami akan upayakan yang terbaik supaya fungsi PLTSa ini bisa 100 persen,” beber Bambang.

Sebagai kota pertama yang mengembangkan PLTSa, dia berharap segera muncul contoh konsep bisnis dalam pengelolaan PLTSa di Putri Cempo. “Kota lain yang mengeluhkan teknologinya maupun tipping fee tinggal menjadikan Solo ini sebagai bisnis model yang bisa dicontoh,” kata dia.

Pembangunan infrastruktur PLTSa Putri Cempo diperkirakan menghabiskan waktu satu tahun. Baru setelah itu, PLTSa Putri Cempo beroperasi secara komersial. “Sesuai rencana, paling lambat 28 Maret 2019 kami akan mulai bangun infrastruktur. Selesai maksimal 28 Maret 2020. Kontrak PJBL (proses jual beli listrik, Red) sendiri berakhir hingga 28 September 2041,” terang Direktur Utama Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP) Elan Suherlan, selaku pengelola PLTSa Putri Cempo.

SCMPP, lanjut Elan, menggunakan teknologi gasifikasi. Sebuah sistem yang diklaim pertama di Indonesia dan tidak menyebabkan pencemaran lingkungan.

Menurutnya, metode gasifikasi telah digunakan bertahun-tahun untuk mengubah batubara menjadi gas sintetik. Gas sintetik itulah yang dapat dikonversi menjadi bentuk energi lain, salah satunya adalah energi listrik.

Proses dimulai dengan memilah sampah dari material yang tidak dapat diproses seperti kaca, logam dan beton. Setelah itu, dimasukkan dalam reactor wet pyrolysis untuk diolah menjadi slurry selama 45 menit dengan suhu 250 derajat celcius dan tekanan 23 Bar. Selanjutnya, dikeringkan dan di-press kemudian dicetak menjadi briket biochar sesuai dengan ukuran.

Briket itulah yang menjadi bahan baku gasifikasi sampah untuk dikonversi menjadi energi listrik. Biochar yang dihasilkan dari proses ini akan memiliki nilai kalor sekitar 5.000 kkal/kilogram dengan kadar air sepuluh hingga 15 persen.

Di tempat yang sama, Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo mendesak Menteri PPN/Kepala Bappenas mempercepat proses administrasi PLTSa yang saat ini dipegang Kementerian Keuangan.

“Kalau diizinkan, saya diberi waktu bisa paparan ke Bappenas. Nanti saya kirim surat ke bapak (menteri) supaya antara DLH (dinas lingkungan hidup), menteri keuangan, dan Bappenas bisa sambung. Karena saya juga harus buat perda untuk ini,” papar Rudy. (irw/wa)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia