Selasa, 18 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Branding Pariwisata Temui Banyak Kendala

15 Februari 2019, 17: 36: 48 WIB | editor : Perdana

KURANG OPTIMAL: Anak-anak terlihat duduk di area Museum Manusia Purba Sangiran, Sragen, akhir pekan kemarin. Pengembangan wisata di Eks Karesidenan Surakarta cukup sulit.

KURANG OPTIMAL: Anak-anak terlihat duduk di area Museum Manusia Purba Sangiran, Sragen, akhir pekan kemarin. Pengembangan wisata di Eks Karesidenan Surakarta cukup sulit. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Berbicara sektor pariwisata, Museum Manusia Purba Sangiran sejatinya memiliki daya jual tinggi di mata wisatawan. Baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun dalam perkembangannya, tingkat kunjungan wisata di Sangiran tak seramai seperti yang diharapkan.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Surakarta, Bandoe Widiarto mengatakan, dalam beberapa kali focus group discussion (FGD), mencatat branding promosi belum optimal. Terutama dalam penggunaan media sosial dan social networking dengan Diaspora di luar negeri. Serta asosiasi industri jasa seperti Kadin, Asita, dan PHRI.

Selain itu sinergi antarstakeholder juga belum optimal. Moda transportasi baik darat maupun udara, juga belum ada paket yang mengkonsep Sangiran. Padahal Sangiran sudah memiliki branding “Early Man Site” dari UNESCO.

”Namun tantangan ke depan, yaitu perlunya perbaikan pada sisi atrakasi, akses, amenitas (3A), serta promosi dan pelaku usaha perlu dilakukan. Atraksi pendukung, baik di lokasi maupun di sekitar dinilai masih minim,” jelas Bandoe kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (14/2).

Bandoe menambahkan, paket wisata yang terintegrasi, baik antarklaster maupun dengan objek wisata lain di wilayah Eks Karesidenan Surakarta juga minim. Selain koordinasi antarstakeholder di wilayah Sangiran, seharusnya ada koordinasi antarwilayah. Sehingga tercipta paket wisata yang mampu menarik wisatawan dalam maupun luar negeri.

Deputi KPwBI Surakarta, M. Taufik Amrozy menambahkan, cara instan yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan pendapatan negara, yakni menggenjot sektor pariwisata. Sektor tersebut kini berada di urutan ketiga setelah ekspor batu bara dan CPO atau kelapa sawit mentah. Lagi pula di setiap daerah, banyak potensi wisata yang bisa dikembangkan.

”Ekonomi global yang masih tidak menentu tahun ini perlu diwaspadai. Karena akan berdampak pada ekonomi nasional dan lokal. Karena itu, sebagai antisipasi, pemerintah terus menekan impor. Harus mendorong ekspor untuk meningkatkan devisa negara,” tandasnya. (gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia