Minggu, 16 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

21 Kecamatan Total Lawan DBD

16 Februari 2019, 17: 20: 01 WIB | editor : Perdana

PENYISIRAN: Anggota TNI dilibatkan memantau jentik nyamuk aedes aegypti di tempat penampungan air warga.

PENYISIRAN: Anggota TNI dilibatkan memantau jentik nyamuk aedes aegypti di tempat penampungan air warga. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Seiring datangnya musim penghujan, kasus demam berdarah dengue (DBD) ikut menjadi ancaman. Masyarakat diminta ekstrawaspada dengan cara menjaga kebersihan lingkungan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Wonogiri Adhi Dharma menerangkan, dari Januari hingga 15 Februari 2019, ada sebanyak 19 penderita DBD dengan satu pasien meninggal dunia. 

Selanjutnya, tercatat dua pasien dengue shock syndrome (DSS) dengan satu pasien meninggal dunia. "Hari ini (kemarin, Red) serentak di seluruh kecamatan menggelar kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN)," jelasnya.

Sedikitnya 21 kecamatan juga mengaktifkan kelompok kerja operasional (pokjanal) DBD di melibatkan masyarakat dan kader atau juru pemantau jentik (Jumantik). Selain itu, dinkes telah melakukan tujuh fogging focus. "Saat ini statusnya waspada demam berdarah," kata Adhi. 

Ditambahkannya, ada beberapa tahapan sebelum pasien dinyatakan terserang DBD. Yakni demam dengue. Artinya baru menunjukan gejala terinfeksi virus dengue. Belum ada tanda-tanda pendarahan.

“Kalaupun ada manifestasi pendarahan yang sifatnya spontan, seperti bercak merah pada kulit maupun mudah mimisan, itu masih masuk dalam katagori demam dengue,” paparnya.

Untuk pasien DBD, lanjut Adhi, sudah terjadi pembesaran hati dan limpa. Juga ada kebocoran plasma yang disebabkan menurunnya trombosit dan peningkatan hematokrit yang signifikan. (kwl/wa)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia