Selasa, 10 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Waspada Hoax, Jaga Keamanan Bersama

18 Februari 2019, 15: 45: 52 WIB | editor : Perdana

Prof Dr Tjipto Subadi M.Si gemas

Prof Dr Tjipto Subadi M.Si gemas

Share this      

SEMAKIN dekat dengan Pemilu 17 April 2019 kondisi perpolitikan semakin memanas. Banyak bermunculan juga berita tak bertanggung jawab alias Hoax yang berpotensi memecah belah kesatuan bangsa Indonesia. 

Fenomena tersebut membuat Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bidang ilmu Pendidikan dan Ilmu Sosial Fakultas Keguruan damn Ilmu Pendidikan UMS, Prof Dr Tjipto Subadi M.Si gemas. Dia berpesan agar masyarakat tidak mudah menyebarkan berita atau informasi yang tidak jelas kebenarannya. ”Apalagi yang menciptakan berita hoax dan fitnah,” katanya. 

Sebab, dampaknya dapat menyebabkan kegaduhan suatu wilayah. Terkait hal tersebut dia meminta agar seluruh masyarakat bisa menjaga kondusifitas masing-masing daerah. Memerangi hoax adalah tugas bersama dan bukan hanya tugas aparat semata. Semuanya harus bisa mendinginkan daerah masing – masing agar tidak mudah termakan berita hoax. 

Momentum politik 2019 ini harusnya dimaknai sebagai bentuk kebebasan dan kedaulatan masyarakat untuk menentukan langkah Bangsa Indonesia kedepan. Bukan sebagai ajang saling menjatuhkan salah satu Paslon, unjuk kekuatan, hingga menyebar kebencian sesama warga negara Indonesia. 

”Apapun pilihannya, pilihlah dengan hati nurani masing-masing. Jangan saling menjatuhkan, menjelek-jelekan sesama warga Bangsa Indonesia apalagi sampai membuat renggang kehidupan antar sesama tetangga di dalam tatanan masyarakat,” kata Ptof Tjipto. 

Prof Tjipto juga berpesan agar setiap warga Negara Indonesia memberikan hak pilihnya dalam Pemilu yang jatuh tanggal 17 April mendatang. Dengan begitu, kesadaran politik untuk membangun Indonesia ke arah yang lebih baik akan tercipta. Berbeda, dengan mereka yang tidak memberikan hak pilihnya merupakan sosok yang apatis dengan kelangsungan negeri ini. 

Dirinya berharap siapapun pemenang dalam kontestasi politik ini mampu memaknai hal itu sebagai kemenangan bersama Bangsa Indonesia. Sehingga, tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan dan membuat poros oposisi melawan kebijakan pemerintah. Melainkan bekerja sama untuk memajukan Bangsa Indonesia lebih Sejahtera. ”Yang menang harusnya bersyukur, dan yang kalah harus legowo. Jangan sampai, karena kekalahan dalam politik membuat disintegrasi bangsa. Syukur, yang menang mau merangkul yang kalah dan yang kalah juga memberikan support untuk turut membangun Bangsa Indonesia,” pungkas Prof Tjipto.  (isw/yan/sct)

(rs/isw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia