Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Berbagi Rezeki di Hari Cap Go Meh 

20 Februari 2019, 12: 08: 39 WIB | editor : Perdana

IMLEK: Liong dan barongsai Tri Pusaka beraksi di deretan pertokoan kawasan Coyudan, Solo.

IMLEK: Liong dan barongsai Tri Pusaka beraksi di deretan pertokoan kawasan Coyudan, Solo. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Hari ke-15 Imlek menjadi hari terakhir berlangsungnya perayaan tahun baru bagi masyarakat keturunan Tionghoa di berbagai belahan dunia. Yang paling unik, pentas barongsai dan pemberian amplop merah selalu menjadi kegiatan penutup tradisi leluhur yang telah berjalan ribuan tahun tersebut.

Tabuhan genderang mengiringi aksi barongsai Tri Pusaka di sudut Jalan Dr Radjiman Selasa (19/2) kemarin. Aksi ini sempat mengundang rasa penasaran dari para pengguna jalan yang melintas di kawasan pertokoan padat tersebut. 

Tak lama kemudian, pasukan naga liong mulai memamerkan aksi akrobatik mereka disusul oleh kelincahan beberapa ekor barongsai di kanan-kirinya. Seperti tahun sebelumnya, tradisi satu ini memang rutin dilakukan sejak 2003 silam. Sejumlah grup barongsai di Kota Bengawan memiliki rutenya masing-masing seperti yang dilakukan Grup Barongsai Tri Pusaka di bawah asuhan Adjie Candra, Selasa (19/2) pagi kemarin. 

“Pada penanggalan Hari ke-15 Imlek atau Cap Go Meh ini, sesuai tradisi seluruh perayaan Imlek sudah selesai. Di Kota Solo, sejak 2003 ada kirab barongsai yang melalui sejumlah ruas jalan yang memiliki kelenteng,” jelas Adjie Chandra di sela kegiatan di kawasan Coyudan, kemarin. 

Puluhan orang itu lantas memamerkan kebolehannya di depan sejumlah pertokoan yang ada di kawasan itu. Di mulai dari Kelenteng Poo An Kiong di sudut jalan itu, rombongan liong dan barongsai itu mulai menyapa satu per satu hunian dan pertokoan di ruas jalan tersebut. Konon, rombongan baru akan berhenti usai mengitari rute mulai dari kawasan Coyudan, Kalirangan, Baluwarti, dan Pasar Klewer sebelum akhirnya kembali ke titik awal pentas barongsai di kelenteng setempat. 

“Kepercayaannya, rumah yang dilewati akan mendapatkan berkah. Lepas dari itu, kami memberi hiburan pada masyarakat dengan tujuan untuk melestarikan kesenian liong dan barongsai,” jelas dia. 

Yang cukup menarik diperhatikan, aksi atraktif liong dan barongsai makin menjadi-jadi saat mereka berada di sejumlah toko yang di depannya digantungi amplop merah berisi uang. Kepala liong dan barongsai akan mendongak ke atas untuk mengambil amplop-amplop tersebut.

“Soal amplop merah, ini biasa disebut dengan angpao. Jadi itu wujud berbagi rezeki pada sesama agar setahun ke depan usaha atau karir dan kehidupan yang dijalani bisa lebih baik,” kata dia.

Bagi masyarakat sekitar, Cap Go Meh selalu dimaknai sebagai lambang keselamatan. Maka jangan heran jika banyak pemilik toko sengaja menggantung sejumlah amplop merah untuk direbut barongsai. 

“Ini tradisi, jadi tiap tahun pasti diperingati untuk tolak bala dan lancar rezeki. Angpao sengaja dibagikan sebagai wujud berbagi pada sesama atas rezeki yang sudah diterima selama setahun lamanya. Harapnnya ke depan rezekinya makin lancar,” kata Ny Sugiyarto, 65, salah seorang pemilik toko di Jl Yos Sudarso Solo kemarin.

Di lokasi lain, puluhan pasukan liong dan barongsai juga beraksi menyapa rumah dan pertokoan di sekitar kelenteng di Kota Bengawan. Di kawasan Pasar Gede, barongsai dan liong digawangi oleh Grup Macan Putih Sudiroprajan. Sementara di Kepatihan, ada Grup Budi Dharma. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia