Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Dinkes: Kasus Demam Berdarah Turun

22 Februari 2019, 21: 09: 28 WIB | editor : Perdana

Dinkes: Kasus Demam Berdarah Turun

BOYOLALI – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jawa Tengah terpantau turun. Seiring berkurangnya intensitas hujan. Seperti diungkapkan kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah, Yulianto Prabowo saat kunjungan ke Boyolali, Kamis (21/2).

”Selain penyakit demam berdarah, penyakit leptospirosis juga perlu diwaspadai. Itu juga bisa terjadi pada waktu-waktu musim penghujan. Selain itu juga ISPA dan diare. Karena sampah-sampah betebaran banyak lalat,” kata Yulianto kepada Jawa Pos Radar Solo.

Terkait kasus DBD, imbuh Yulianto, saat ini di Jateng sudah mulai menurun. Bulan Januari hingga Februari, terjadi sekitar 1.400 kasus se-Jateng. Sedangkan korban meninggal dunia sebanyak 12 orang.

”DBD itu kan dipengaruhi musim. Jadi setiap musim penghujan itu meningkat kasusnya. Kenapa begitu, karena tempat perindukan nyamuk-nyamuk itu membutuhkan genangan air. Setiap tahun selalu begitu. Februari masih, tapi sudah mulai turun dan biasanya Maret turun,” ungkapnya.

Di Jateng kasus DBD yang tinggi antara lain terjadi di Kabupaten Sragen, grobogan, Jepara, Rembang, Pati, Demak. Kemudian di Cilacap dan Banjarnegara. Selain DBD, lanjut dia, penyakit yang perlu diwaspadai di musim penghujan yakni penyakit leptospirosis atau penyakit kencing tikus. Karena penyakit itu juga meningkat di musim-musim penghujan.

Jumlah kasus penyakit leptospirosis menang tidak sebanyak DBD. Namun tingkat kematiannya lebih tinggi. ”Kalau demam berdarah itu yang meninggal di bawah 1 persen dari jumlah kasus,. Leptospirosis bisa 30 persen. Harus hati-hati. Kasusnya tidak begitu banyak tetapi kematiannya tinggi,” terangnya. (wid/fer)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia