Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Inflasi Februari Diprediksi Tipis

26 Februari 2019, 16: 44: 40 WIB | editor : Perdana

IKUT ANDIL: Pesawat maskapai penerbangan swasta nasional parkir di apron Bandara Adi Soemarmo.

IKUT ANDIL: Pesawat maskapai penerbangan swasta nasional parkir di apron Bandara Adi Soemarmo. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Di awal tahun, inflasi yang terjadi di Kota Solo terbilang cukup rendah. Bahkan pada Februari nanti, Bank Indonesia memprediksi nilai inflasi sangat tipis. Meskipun belum mencapai deflasi.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Surakarta, Bandoe Widiarto mengatakan, prediksi ini seiring terkendalinya daya beli di masyarakat sepanjang Februari. Biasanya pertumbuhan cukup landai. Bandoe menilai angka inflasi tidak berbeda jauh dengan Januari 2019 sebesar 0,39 persen. Sedangkan dari sisi laju inflasi year on year Januari 2019 terhadap Januari 2018 sebesar 2,29 persen.

”Perhatian saat ini tarif angkutan udara. Meskipun sudah turun, namun masih terbilang naik harganya dibanding tahun sebelumnya. Kemarin kami melihat ada komitmen dari pemerintah terkait avtur. Jika tiket angkutan udara terkendali, inflasi bisa lebih melandai,” kata Bandoe kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (25/2).

Berdasarkan data Januari 2019 angkutan udara mengalami kenaikan tarif sebesar 10,04 persen. Menyumbang inflasi 0,1034 persen. Selain itu, kelompok volatile foods juga masih menjadi permasalahan penting. Karena bawang putih menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi cukup tinggi.

Bawang putih sebagian besar masih impor. Sebagian lagi dipasok dari Surabaa, Jawa Timur.  Pengepul bawang putih Pasar Legi, Sumarno mengaku masih impor dari Tiongkok. Karena produksi dari Negeri Tirai Bambu kualitasnya bagus.

”Saat ini harganya masih di kisaran Rp 26 ribuan per kilogram. Saya tidak bisa memastikan stok per harinya berapa. Tidak berani stok banyak-banyak saat ini. Tapi tidak 100 persen ambil Tiongkok. Sebagian juga dari petani di Boyolali dan Surabaya. Porsinya 40 persen lokal, sisanya impor,” bebernya. (gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia