Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Diduga Praktik Aborsi, Bidan Desa Diciduk Dini Hari

02 Maret 2019, 10: 35: 59 WIB | editor : Perdana

DISELIDIKI: Poliklinik desa di Dusun Topeng, Desa Kajen, Kecamatan Ceper, Klaten dipasangi garis polisi.

DISELIDIKI: Poliklinik desa di Dusun Topeng, Desa Kajen, Kecamatan Ceper, Klaten dipasangi garis polisi.

Share this      

KLATEN - Seorang bidan desa berinisial AR diamankan polisi dari rumah dinasnya Rabu (27/2) dini hari. Diduga AR menjalankan praktik aborsi terhadap pasiennya. 

Malam itu juga sekitar pukul 00.00, AR langsung dibawa polisi ke tempat pratiknya di poliklinik desa (polindes) di Dusun Topeng, Desa Kajen, Kecamatan Ceper. Polisi kemudian melakukan olah kejadian perkara (TKP dengan membawa sejumlah barang bukti.

Salah satu perangkat desa yang menyaksikan olah TKP itu adalah Kaur Tata Usaha dan Umum Desa Kajen, Bondan Ari Sungkawa. Dia saat itu bersama Sekretaris Desa Sidik Purnawan sedang mengerjakan tugas di kantor desa. Tiba-tiba didatangi beberapa personel polisi dan diminta menjadi saksi dalam olah TKP tersebut.

“Tetapi saat itu yang diminta untuk masuk dan menjadi saksi hanya satu orang saja kebetulan Pak Sekdes. Olah TKP sendiri berlangsung selama setengah jam saja. Tapi posisi saat itu ibu bidan sudah dibawa polisi di lokasi polindes itu,” jelas Bondan saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di rumahnya, Jumat (1/3).

Lebih lanjut, Bondan mengetahui jika polisi membawa sejumlah barang bukti dari dalam ruangan polindes. Seperti gunting, baskom, plastik yang berisikan obat-obat serta gunting khusus yang diketahui untuk menarik bayi. 

Ia melihat jika peralatan yang diambil oleh pihak kepolisian tersebut masih terdapat bercak darah dan berbau anyir. Tetapi saat itu dirinya belum mengetahui pasti maksud olah TKP yang dilakukan kepolisian tersebut.

“Saat olah TKP itu selesai, saya dengan Pak Sekdes baru dikasih tahu jika olah TKP itu kaitannya dengan dugaan kasus aborsi. Tentu saya kaget dengan informasi itu karena selama ini ibu bidan dikenal baik oleh masyarakat. Bahkan masyarakat di sini sudah merasa cocok dengan dia,” jelasnya.

Bondan menjelaskan, sebelum adanya penangkapan tersebut, aktivitas di polindes masih berjalan seperti biasanya. Bahkan dua hari sebelumnya juga masih diadakan kelas balita.

Diketahui AR sudah praktik di polindes itu selama 10 tahun melayani masyarakat sekitar.

Jam praktik mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Di sisi lain, AR tidak tinggal di Polindes lagi karena satu tahun belakangan ini menetap di rumah dinasnya di kota Kecamatan Ceper.

Sementara itu, saat Jawa Pos Radar Solo mendatangi lokasi polindes yang dimaksud tampak garis polisi masih terpasang. Berdasarkan informasi yang dihimpun jika pemasangan sudah dilakukan seusai olah TKP tersebut. Sedangkan AR langsung dibawa ke Polres Klaten untuk diperiksa lebih lanjut.

Kapolres Klaten AKBP Aries Andhi mengungkapkan jika pemeriksaan kepada yang bersangkutan belum selesai. Karena itu belum ada penetapkan tersangka. “Minggu depan akan kami informasikan lebih lanjut untuk penetapan tersangkanya. Karena ini masih diperiksa. Ada lima orang yang kami periksa dalam kasus ini,” jelasnya singkat.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten Cahyono Widodo mengaku malah belum tahu secara mendalam terkait kasus yang menjerat salah satu bidannya itu. Ia lebih memilih menunggu dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Polres Klaten.

“Jika nantinya benar melanggar pasti ada sanksi tegas dari keprofesiannya. Sedangkan kami akan bertindak lebih ke sisi kepegawaiannya,” ungkapnya. (ren/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia