Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Pasang Alarm untuk Tolak Penutupan Perlintasan

05 Maret 2019, 10: 15: 59 WIB | editor : Perdana

MEMBAHAYAKAN: Spanduk peringatan penutupan perlintasan KA tanpa palang di Bonorejo, Nusukan, Banjarsari. Hingga kemarin (4/3) pengendara masih melintas.

MEMBAHAYAKAN: Spanduk peringatan penutupan perlintasan KA tanpa palang di Bonorejo, Nusukan, Banjarsari. Hingga kemarin (4/3) pengendara masih melintas. (ARYADI ARMI SYAH PUTRA/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Warga Kampung Bonorejo, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari bertekad swadaya membangun markah kejut dan memasang alarm di perlintasan kereta api (KA) tanpa palang pintu di kampung setempat. Termasuk melakukan penjagaan secara sukarela.

Itu agar PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengevaluasi rencana penutupan perlintasan ilegal tersebut. “Sempat ada petugas datang untuk menutup (perlintasan ilegal, Red). Namun, setelah dilakukan mediasi, rencana (penutupan, Red) ditunda,” terang Ketua RT 05 RW 17 Kelurahan Nusukan Sarjuni kemarin (4/3).

“Kita juga akan memasang alarm. Jadi, ketika ada KA melintas, alarm kita bunyikan sebagai penanda bagi warga yang hendak melintas,” imbuhnya.

Setelah markah kejut rampung dibangun, lanjut Sarjuni, segera dilaporkan ke PT KAI sebagai bentuk tanggung jawab. Soal biaya pembangunan, warga akan urunan dan meminta sumbangan pengendara yang melintas secara sukarela.

Sarjuni menyadari, pembuatan markah dan pemasangan alarm tidak menjamin keselamatan 100 persen. Tapi, warga berupaya maksimal menjaga keamanan perlintasan ilegal. Dia mencontohkan di perlintasan resmi pun beberapa kali terjadi kecelakaan.

Kenapa ngotot menolak penutupan perlintasan tanpa pintu? Sarjuni menilai, perlintasan tersebut merupakan jalur ekonomi dan penghubung yang sangat vital. Diklaim dapat mengurangi kepadatan kendaraan di simpang Joglo dan Ngemplak.

Manajer Humas PT KAI Daop 6 Jogjakarta Eko Budiyanto menandaskan, perlintasan ilegal di kilometer 193 Nusukan itu sangat membahayakan sehingga harus ditutup. “Rel akan ditinggikan sekitar 15 sentimeter. Itu akan menyulitkan pengendara melintas,” ucapnya.

Dia berharap masyarakat dapat memahami penutupan perlintasan KA tanpa palang pintu demi keselamatan bersama. Hal tersebut juga telah diatur Undang-Undang (UU) Nomor 23/2007 tentang Perkeretaapian. Yakni, seluruh perlintasan yang berpotensi rawan kecelakaan harus ditutup.

Perlintasan sebidang KA yang telah memiliki jalan alternatif lainnya juga wajib segera dihilangkan. Termasuk perlintasan dengan jarak kurang dari 800 meter dari perlintasan lainnya. (atn/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia