Jumat, 15 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Triana Rahmawati, Aktivis yang Bergelut dengan Orang Gangguan Kejiwaan

07 Maret 2019, 12: 15: 59 WIB | editor : Perdana

TELATEN: Triana Rahmawati bersama “pasiennya” yang dibimbing dengan sabar.

TELATEN: Triana Rahmawati bersama “pasiennya” yang dibimbing dengan sabar. (IRAWAN WIBISONO/RADAR SOLO)

Share this      

Ada banyak jalan untuk bermanfaat bagi sesama. Seperti yang ditempuh Triana Rahmawati. Meski usianya masih muda, namun jiwanya merasa terpanggil untuk terjun mengurusi orang gangguan jiwa. Seperti kisahnya? 

IRAWAN WIBISONO, Solo

SENYUM lebar Triana Rahmawati tak lepas dari bibir saat mengisahkan tentang Griya Schizofren, komunitas sukarelawan muda peduli pada masalah kejiwaan asal Solo. Tria, sapaan akrabnya, mengaku ide Griya Schizofren sebenarnya telah muncul pada 2012 silam. Baru setahun setelahnya ia mewujudkannya berbentuk komunitas yang berlanjut berkegiatan sampai sekarang.

Perempuan kelahiran 1992 tersebut menjelaskan, griya berarti wadah atau rumah untuk menampung kepedulian terhadap orang dengan masalah kejiwaan (ODMK). Sedangkan Schizofren merupakan singkatan dari Social, Humanity and Friendly.

“ODMK atau kerap disebut orang gila oleh masyarakat punya stigma untuk dijauhi. Saya dan sejumlah teman lain punya pikiran untuk memanusiakan mereka. Mendorong agar mereka bisa kembali ke tengah masyarakat untuk berkarya dan punya kehidupan sosial. Maka kami juga berusaha mengedukasi masyarakat untuk menerima mereka lewat anak-anak mudanya” katanya. 

Di awal komunitas berdiri, jumlah sukarelawan yang bergabung bisa dihitung jari. Lambat laun, pasca kampanye demi kampanye, angkanya pun bertambah. Terus bertambah lalu menyusut tak lama setelahnya.

“Dulu angka ini begitu penting di mata saya. Tapi lama kelamaan saya lebih mementingkan kinerjanya. Sekarang jumlah sukarelawan dibatasi hanya 20 orang. Selain memudahkan koordinasi, kami juga memiliki benefit lebih bagi mereka. Sehingga volunteer tak hanya memberikan tenaga tapi juga mendapat manfaat dari komunitas ini” terangnya.

Sepintas tugas sukarelawan tersebut tampak mudah. Mereka hanya melakukan pendampingan pada warga di Griya PMI Peduli Solo (rumah penampung ODMK) dan di CoHouse milik Tria, tempat ODMK dititipkan keluarganya untuk  beraktivitas tapi tidak menginap. Kegiatan pendampingannya seperti aktivitas sosial bersama dengan kegiatan menyanyi, menggambar, mewarnai, mendongeng, dan bercerita. 

Namun tugas itu sebenarnya tidak mudah lantaran harus dilakukan di sore hari dari Senin-Jumat secara bergantian. Mereka juga harus belajar bekerjasama dengan komunitas atau lembaga lain untuk menggelar pelatihan. Pelatihan dimaksudkan agar volunteer dapat membantu ODMK bisa beraktualisasi diri dengan kegiatan yang bernilai ekonomi. 

“Sama seperti penyandang disabilitas, kami ingin mereka bisa mandiri setelah kembali ke masyarakat” kata alumnus Jurusan Sosiologi, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo itu.

Berjalan selama enam tahun lebih membuat Griya Schizofren ini makin dikenal masyarakat dan lembaga sosial. Kendati saat ini mayoritas pendanaan berasal dari pembiayaan pribadi seperti kegiatan bisnis serta hibah.

Sejak dulu pendanaan Griya Schizofren mayoritas memang berasal dari kantong pribadi Tria. Inilah yang membuat Tria terbiasa mencari beasiswa untuk mendanai kegiatan sosialnya. Selepas lulus, ia mendanai dari kegiatan bisnis (socialenterpreneur). Dana tersebut juga digunakan untuk menyewa tempat sebagai base camp, memberikan bantuan kepada para orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) yang membutuhkan, dan memberikan beasiswa untuk anak-anak muda yang masih aktif kuliah dengan totalnya penerima manfaatnya sejak 2016 sampai sekarang adalah 20 orang. Beasiswa ini berupa asrama tempat tinggal, modal usaha, mentoring akademis dan kepemimpinan, dan exchange ke luar negeri.

“Sejak awal berdiri ketuanya  saya sendiri. Kemudian 2016 mulai regenerasi hingga sekarang. Merekalah yang membuat gerakan kami lebih semangat dan terpadu. Tentunya ini semua tak mungkin berjalan tanpa kesempatan dari Griya PMI Peduli Surakarta tempat belajar kami menjadi sukarelawan muda” ungkapnya.

Selain dari donatur, Tria juga menghimpun dana dari berbagai proyek bisnis. Dari belasan bisnis, tiga di antaranya menjual kerajinan tangan kreasi mahasiswa di bawah program Youthproject.id, Solve dan Givo. Proyek itu tak hanya memberi sokongan dana untuk Griya Schizofren, tapi juga beasiswa bagi para sukarelawannya.

“Beasiswa ini sifatnya penggerak. Totalnya sejak 2016 sampai sekarang ada 20 penerima, beberapa sudah ada yang lulus. Mereka adalah mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Muhammadiyah Solo (UMS). Imbal baliknya penerima beasiswa harus punya proyek sosial. Mereka juga harus berprestasi dalam akademis, agar menjadi teladan yang membimbing adik-adik tingkatnya untuk mengikuti jejaknya dalam kebaikan,” jelas Tria.

Tak cukup sampai beasiswa, Griya Schizofren juga punya lima rumah asrama yang juga bertujuan untuk memberikan tempat tinggal gratis bagi penerima manfaat dan anak-anak muda yang berkunjung ke Solo namun tak punya penginapan. Tempat-tempat itu yakni tiga asrama putri, satu asrama putra, dan satu vila sosial untuk tempat pelatihan dan camp bagi anak-anak muda di Tawangmangu, Karanganyar. (*/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia