Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Klaten

Bappenas Ingatkan Petani Rempah Jauhi Tengkulak

07 Maret 2019, 07: 10: 59 WIB | editor : Perdana

KUNJUNGAN: Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro (berdiri dua dari kanan) saat meninjau proses produksi di PT Agri Spice Indonesia, Selasa (5/3).

KUNJUNGAN: Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro (berdiri dua dari kanan) saat meninjau proses produksi di PT Agri Spice Indonesia, Selasa (5/3). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) terus mendorong meningkatkan produk rempah-rempah kualitas ekspor. Melalui pemberdayaan petani oleh perusahaan bersangkutan. Termasuk mengimbau petani agar tidak menjual hasil panen rempah-rempah ke tengkulak.

Hal ini disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro. Saat berkunjung ke PT Agri Spice Indonesia, Selasa malam (5/3). Di sana, menteri melihat lebih dekat pengolahan rempah-rempah kualitas ekspor.

”Jadi tujuan kami datang ke sini berkaitan erat dengan proyek Bappenas. Khususnya produk pertanian rempah-rempah seperti vanilla dan cengkeh ini. Bagaimana memberikan kemudahan bagi petani dapat menjual tanpa melalui perantara (tengkulak). Di sisi lain, petani mendapatkan bantuan teknis terkait proses dan pemeliharaan tanamannya,” kata Bambang kepada Jawa Pos Radar Solo.

Pengolahan rempah-rempah di PT Agri Spice Indonesia mayoritas diekspor. Kementerian sedang fokus meningkatkan nilai neraca perdagangan ekspor. Termasuk potensi komoditas rempah-rempah. Seluruh produk rempah-rempah yang dikelola PT Agri Spice Indonesia memiliki pasar di Amerika dan Eropa.

”Rempah-rempah di Indonesia banyak. Cengkeh kita menjadi eksporter terbesar di dunia. Kalau lada masih kalah dengan Vietnam. Tetapi bukan pada berapa besar kecilnya, tetapi apa pun yang bisa diekspor bisa kita ekspor,” tandas Bambang.

Bambang mendorong petani rempah-rempah untuk tidak menjual hasil panen melalui tengkulak. Apabila dipaksakan, yang memperoleh keuntungan besar tengkulak itu sendiri. ”Salah satu pembeli utamanya PT Agri Spice Indonesia. Menjadi suplaier perusahaan raksasa di Amerika, khusus untuk bumbu-bumbu. Saya harap model seperti ini dapat direplikasi untuk komoditas petani lainnya. Terutama produk kualitas ekspor,” urainya.

Direktur PT Agri Spice Indonesia, Ahmad Ruslianto menambahkan, perusahaannya mengelola beberapa jenis rempah-rempah. Mulai dari cengkeh, vanilla, pala, dan lainnya. ”Perlu diketahui, kami bermitra dengan pihak ketiga yang membina petani. Sampai saat ini ada lebih dari 15 ribu petani rempah-rempah menjual ke kami. Tersebar di Sumatera, Sulawesi, NTT, bahkan Papua,” bebernya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia