Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Wali Kota: TSTJ Ramai Jangan karena Diskon

08 Maret 2019, 17: 04: 54 WIB | editor : Perdana

TERBESAR DI JATENG: Pengunjung menikmati suasana TSTJ. Pucuk pimpinan lokasi konservasi satwa tersebut segera berganti.

TERBESAR DI JATENG: Pengunjung menikmati suasana TSTJ. Pucuk pimpinan lokasi konservasi satwa tersebut segera berganti. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Jabatan Direktur Utama Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso bakal berakhir awal Mei tahun ini. Pemkot menyiapkan beberapa mekanisme untuk menentukan nakhoda baru TSTJ. Pejabat baru dituntut berprestasi lebih baik.

Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo menjelaskan, masa bakti direktur perusahaan umum daerah (perumda) hanya empat tahun. Selanjutnya diadakan pergantian sesusai dengan mekanisme yang berlaku. 

Seorang direktur yang pernah menjabat memiliki kesempatan kembali memimpin pada periode selanjutnya. Bimo sendiri didapuk sebagai direktur untuk periode 2015-2019. Wali kota memberi sinyal posisi direktur incumbent tidak sepenuhnya aman.  

“Kami bisa menggelar seleksi internal maupun eksternal. Karena Pak Bimo baru satu periode, maka bisa kita pilih lagi tentu dengan evaluasi dan seleksi secara internal,” katanya kemarin (7/3).

Evaluasi dilakukan bersama beberapa instansi dan pejabat yang berhubungan dengan TSTJ. Di antaranya sekretaris daerah, kepala Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD), asisten wali kota, serta bisa pula melibatkan unsur di luar pemkot.

Wali kota mengaku tidak memiliki tuntutan terlalu muluk untuk posisi direktur TSTJ. “Saya itu gampang. Yang paling penting bekerja. Nggak hanya menjadi direktur atau pengelola kebun binatang, tapi bagaimana melayani masyarakat di dunia wisata itu harus konkret,” tegasnya.

Di mata Rudy, Bimo sudah bekerja dengan baik. Meski demikian, dia ingin ada prestasi yang lebih agar kebun binatang terbesar di Jawa Tengah itu lebih maju. Salah satu indikatornya adalah tingkat kunjungan wisatawan. 

Rudy mengakui selama empat tahun terakhir TSTJ memiliki neraca kunjungan yang selalu meningkat. Namun, hal itu dianggap belum maksimal lantaran tiket disertai diskon cukup besar.

“Saya sudah bilang Pak Bimo, kalau mendatangkan pengunjung satu juta dengan diskon 30 persen itu bukan prestasi. Tapi, bagaimana caranya dengan diskon minimal bisa mendatangkan lebih banyak orang atau sampai 1,3 juta orang. Cara ngitungnya sederhana gitu,” paparnya.

TSTJ merilis keuntungan pada 2018 sebesar Rp 1,487 miliar. Laba bersih itu naik 37,51 persen dari tahun sebelumnya. Pada 2017 keuntungan TSTJ tercatat 1,081 miliar. Capaian di tahun itu menjadi yang terbesar sepanjang sejarah. 

“Dulu 2015 laba bersih TSTJ hanya Rp 223 juta. Perlahan kita perbaiki kinerja dan hasilnya mulai tampak. Tahun 2016 laba bersih naik 4,83 persen menjadi Rp 234 persen,” paparnya. (irw/wa)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia