alexametrics
Selasa, 02 Mar 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features
Sangkar Paralon Tembus Pasar Luar Negeri

Bagi-bagikan Ilmu, Tak Pikir Persaingan

10 Maret 2019, 10: 55: 59 WIB | editor : Perdana

ULET: Eko menyiapkan tebok sangkar burung berbahan pipa paralon.

ULET: Eko menyiapkan tebok sangkar burung berbahan pipa paralon. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

Biasanya, orang yang dalam kondisi kepepet menjadi lebih kreatif. Itu dirasakan Eko Sri Muryanto. Dari yang tadinya bergelut dengan onderdil mobil bekas, kini menjadi perajin sangkar berbahan akrilik dan pipa paralon.

SILVESTER KURNIAWAN, Solo 

PRIA bertubuh gempal ini dilahirkan di Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres yang sempat menjadi sentra kerajinan sangkar. Namun, dirinya tak pernah bermimpi menekuni profesi serupa. 

"Limbah-limbah ini (bekas pipa paralon, Red) saya temukan tidak sengaja. Saya iseng membuat beberapa benda termasuk sangkar burung. Lha kok ternyata diminati,” jelas Eko di hadapan para mahasiswa yang berkunjung ke lokasi workshopnya di Kampung Debegan RT 02 RW 03 Mojosongo, Jebres. 

Profesi barunya itu mulai digeluti ketika Eko mengalami kesulitan ekonomi akibat pengetatan pengawasan onderdil mobil bekas dari Singapura ke Indonesia. Omzet dagangannya terjun bebas. 

"Saya tekuni jual beli suku cadang mobil bekas selama delapan tahun. Tapi, setelah 2011 jadi makin susah cari barang," katanya.

Di masa-masa sulit itu, Eko menemukan bambu dan kayu sisa mebel. Dia kemudian mencoba membuat sangkar burung. Tapi, kualitasnya tidak awet dan ingin diganti bahan lain. 

Gayung bersambut, Eko melihat mobil mengangkut akrilik tak terpakai datang ke tempat pembuangan sampah akhir Putri Cempo. Kebetulan dia kenal dengan sopirnya. Akrilik satu mobil tersebut lalu dibeli senilai Rp 50 ribu.

Lho untuk apa? Ternyata Eko menjadikan akrilik tersebut pengganti kayu dan bambu sebagai bahan pembuat sangkar.  "Setelah jadi, bentuknya jauh berbeda dari sangkar lain. Seperti sangkar burung dari kaca. Kebetulan ada teman yang minat dan sering dipakai saat lomba burung berkicau. Dari situ mulai banyak yang tahu,” terangnya.

Layaknya kayu dan bambu, sangkar akrilik juga memiliki kelemahan, yakni rawan patah. Sebab itu, Eko mengombinasikannya dengan pipa paralon. Soal harga, sangkar akrilik berbentuk lingkaran berdiameter 16 sentimeter dibandrol Rp 950 ribu. Sedangkan untuk pasar luar negeri lebih mahal, Rp 1,6 juta. 

Sangkar berbahan pipa paralon dijual lebih murah. Sekitar Rp 550 ribu untuk pasar dalam negeri dan Rp 1 juta untuk luar negeri. "Harga itu untuk ukuran paling kecil,” katanya. 

Di tangan Eko, tidak ada paralon yang terbuang. Sisa membuat sangkar dia utak-atik menjadi akuarium dan cukup diminati pasar. Meski karyanya sudah menembus pasar internasional, Eko tak pelit berbagi ilmu. Dia membuka kelas pelatihan bagi siapa saja. 

"Buat saya berbagi ilmu itu sama dengan ibadah. Rezeki itu sudah ada yang mengatur. Jadi saya tak begitu memikirkan masalah persaingan. Yang jelas kalau ada yang minta bantuan akan saya bantu," pungkas dia. (*/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news