Kamis, 25 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

BPBD Usul Pengadaan Tiga Unit EWS

12 Maret 2019, 17: 44: 20 WIB | editor : Perdana

BUTUH PENANGANAN:  Warga bersepeda melintasi jembatan yang melintang di atas Sungai Dengkeng saat meluap di perbatasan Kecamatan Cawas dan Trucuk, akhir pekan lalu.

BUTUH PENANGANAN:  Warga bersepeda melintasi jembatan yang melintang di atas Sungai Dengkeng saat meluap di perbatasan Kecamatan Cawas dan Trucuk, akhir pekan lalu. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Bencana banjir yang terjadi di empat kecamatan di Klaten, pekan lalu harus segera ditangani. Salah satunya pengadaan peralatan early warning system (EWS). Usulan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten ini akan dipasang di sejumlah sungai langganan banjir.

Sejatinya, BPBD punya EWS namun rusak. Nah, tahun ini diusulkan pengadaan. Tujuannya memberi peringatan dini kepada warga sekitar kawasan sungai akan adanya potensi bencana banjir.

Pengadaan EWS diklaim tak menyedot banyak anggaran. Rencananya, akan membeli EWS bikinan BPBD daerah lain. Berupa EWS sederhana, tetapi dianggap mumpuni memberikan peringatan dini.

”Rencananya pengadaaan tiga unit EWS. Akan kami pasang di Sungai Dengkeng dan sungai lainnya di sekitarnya. Harapannya ketika debit air sungai mulai naik, sudah ada tanda peringatan berupa serine,” kata Pelaksana Tugas (Plt) BPBD Klaten, Dodhy Hermanu kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (11/2).

BPBD saat ini fokus perbaikan tanggul jebol di tiga titik. Mulai dari Desa Japanan dan Desa Karangasem, Kecamatan Cawas, dan Desa Melikan, Kecamatan Wedi. Tanggul di Desa Karangasem dan Desa Melikan sudah selesai dikerjakan. Perbaikan terus dikebut karena musim penghujan diprediksi masih terjadi.

”Tanggul di Desa Japanan dengan aliran Sungai Dengkengnya masih 50 persen. Medan menuju tanggul cukup berat. Alat berat tidak bisa masuk. Terpaksa dilakukan dengan gotong royong bersama warga dan relawan,” beber Dodhy.

Camat Cawas, Sofyan menyebut pembenahan tanggul harusnya permanen. Menggunakan kawat bronjong agar lebih kuat menahan derasnya arus Sungai Dengkeng. ”Sementara ini perbaikan tanggul darurat pakai karung isi tanah dan bambu. Ya jelas tidak awet dan sewaktu-waktu bisa jebol lagi,” keluhnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia