Selasa, 18 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Inovasi dan Pengembangan Industri Nasional

13 Maret 2019, 21: 16: 20 WIB | editor : Perdana

Inovasi dan Pengembangan Industri Nasional

Dalam debat capres kedua pada tanggal 17 Februari 2019 lalu, materi yang diperdebatkan adalah tentang pangan, energi dan lingkungan. Dalam konteks perkembangan industri juga disebutkan tentang kesiapan Indonesia dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0.

Capres petahana Joko Widodo menyebutkan bahwa Revolusi Industri 4.0 adalah sebuah keniscayaan dan Indonesia harus siap. Capres Prabowo Subianto lebih menekankan tentang pentingnya melindungi kepentingan petani, pengusaha kecil serta meningkatkan posisi tawar pemain lokal sehingga investor asing tidak membawa semua keuntungan hasil investasi mereka kembali ke negaranya. 

Isu utama dalam perkembangan industri nasional saat ini adalah tentang perkembangan Revolusi Industri 4.0. Perkembangan industri dunia sejak industri 1.0 sampai dengan 4.0 adalah sebagai berikut: Industri 1.0 adalah terjadinya proses mekanisasi dengan mesin dalam produksi, Industri 2.0 ditandai dengan produksi masal, proses asembling dan sistem elektronik dalam proses produksi.

Selanjutnya, Industri 3.0 ditandai dengan penggunaan komputer dan otomatisasi dalam proses produksi, dan Industri 4.0 ditandai dengan munculnya pabrik cerdas berdasarkan artificial intellegence, penggunaan internet dalam proses bisnis dan pengambilan keputusan mandiri dalam proses bisnis. 

Profil industri di Indonesia saat ini yang terjadi adalah industri 1.0 sampai dengan 4.0 beroperasi secara simultan, namun belum terintegrasi dalam sebuah jejaring bisnis sehingga proses bisnisnya masih parsial. Kita bisa melihat banyak UMKM dan industri manufaktur masih beroperasi berdasarkan konsep industri 1.0 dan 2.0. Beberapa manufaktur moderen berkonsep industri 3.0, sementara perusahaan-perusahaan multinasional dari Penanaman Modal Asing (PMA) sudah masuk ke konsep industri 4.0, terutama di bidang jasa.

Inovasi Adalah Kunci

Berdasarkan dokumen pengembangan industri dari Kementerian Perindustrian tahun 2018, ada lima sektor yang menjadi fokus pengembangan industri 4.0, yaitu makanan dan minuman, tekstil dan busana, otomotif, elektronik dan kimia. Mengacu dokumen tersebut kita bisa melihat bahwa pemerintah akan mengembangkan lima sektor tersebut untuk menjadi pelopor pengembangan industri 4.0 di Indonesia. 

Salah satu industri yang berpotensi untuk siap menjadi pelopor industri 4.0 adalah industri makanan dan minuman. Industri ini didukung oleh sektor primer yang kuat karena banyak bahan baku lokal yang bisa menjadi pemasok utama dari industri ini.

Hal ini penting karena pasokan dan stabilitas harga bahan baku  bisa dijaga untuk kepentingan produksi. Industri makanan dan minuman dalam periode 2016 sampai dengan 2017 mengalami pertumbuhan sebesar 9,23 persen. 

Keberpihakan

Keberpihakan pemerintah bisa diwujudkan dengan menyusun regulasi yang melindungi kepentingan perusahaan-perusahaan kecil, mikro dan menengah produk makanan ini.

Selain itu, bantuan teknis berupa pelatihan SDM, pemberian alat dan hibah modal yang selama ini sudah dilakukan harus dioptimalkan dan menjadi program berkelanjutan. 

Keberpihakan terhadap industri lokal juga termasuk melakukan perlindungan bagi perusahaan lokal dari investor asing yang akan masuk ke pasar Indonesia. Negara lebih bebas dibandingkan negara liberal seperti AS dan Eropa dalam memperlakukan investor asing sehingga mereka bisa menguasai hulu sampai hilir beberapa industri strategis.

Debat capres kedua kemarin merupakan momentum untuk memberikan perhatian yang serius bagi perkembangan industri nasional. Semoga presiden dan wakil presiden terpilih nanti mempunyai komitmen dan kebijakan yang kuat untuk membangun industri nasional dengan mengutamakan pemain lokal.

Anton A Setyawan, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia