Minggu, 17 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Klarifikasi Keluarga: Usai Operasi,Ahsan Belum Siuman sampai Meninggal

14 Maret 2019, 19: 40: 39 WIB | editor : Perdana

Rumah orang tua Muhammad Ahsan masih ramai usai pemakaman Rabu (13/3)

Rumah orang tua Muhammad Ahsan masih ramai usai pemakaman Rabu (13/3)

Share this      

BOYOLALI – Fakta baru diungkapkan keluarga Muhammad Ahsan Arrosyid, 8, bocah yang meninggal dunia sesaat setelah menjalani operasi amandel di Rumah Sakit (RS) Hidayah Desa Kragilan. Ternyata sejak dibius untuk menjalani operasi, Ahsan belum sempat siuman sampai dia meninggal sesaat setelah dipindah dari meja bedah. 

Fajar Saefudin, kakak kandung Ahsan mengatakan, informasi yang tersebar jika adiknya sempat siuman saat dipindah ke bangsal perawatan setelah menjalani operasi, itu tidak benar.  

”Kami ingin menegaskan bahwa adik saya belum sempat siuman. Adik saya belum sadar sejak keluar ruang operasi hingga masuk lagi ke ruang ICU beberapa saat kemudian,” papar Fajar Kamis (14/3).

Sementara itu, pihak RS Hidayah telah memberikan keterangan pada Rabu (13/3) atau sehari pasca-meninggalnya Ahsan. Direktur RS Hidayah dr Ida Wulandari menyatakan, tindakan medis yang dilakukan rumah sakit sudah sesuai standar operasi prosedur (SOP) medis yang benar. Dia ditangani dua dokter sepsialis.

Tak adanya permasalahan pada kondisi pasien membuat operasi berjalan cepat. Pasien masuk ke ruang operasi pada pukul 17.30 dan keluar pukul 18.00. Operasi sederhana ini tak memunculkan pendaharan berat pada organ tenggorokan pasien.

”Kalau terjadi pendarahan kecil, itu ya wajar. Itu amandel diambil dengan pisau.  Pendaharan kecil itu wajar,” terang Ida. 

Namun, pasca-observasi di ruang recovery, tubuh pasien mengalami perubahan kondisi yang sangat cepat. Tim medis pun melakukan tindakan perawatan intensif di ruang ICU. ”Rumah sakit sudah menjalankan proses A sampai Z untuk semua proses operasi pasien,” terang Ida.

Operasi sederhana yang mengakibatkan pasien meninggal dunia itu, lanjut Ida, di luar prediksi rumah sakit. Untuk itu, pihaknya bakal melakukan audit medis guna mengetahui penyebab pasti kematian pasien.

Seluruh tim yang terlibat bakal dikumpulkan, mulai dokter operator, dokter spesialis THT, tim bius, perawat, hingga perawat bangsal. Sebab, sang pasien memang memiliki riwayat pengobatan Tuberkulosis (TBC).

”Seberapa berpengaruh (pengobatan Tuberkulosis) ini terhadap kondisi klinis pasien, sekarang ini masih butuh ditelusuri,” jelas Ida. (wid/ria)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia