Selasa, 18 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Features

Chundakus Habsya,Ciptakan Dinding Ringan Hemat Energi dari Abu Terbang

14 Maret 2019, 20: 27: 01 WIB | editor : Perdana

TEROBOSAN: Chundakus Habsya (tengah) berhasil meraih doktor berkat penelitian abu terbang batubara.

TEROBOSAN: Chundakus Habsya (tengah) berhasil meraih doktor berkat penelitian abu terbang batubara. (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

Share this      

Batubara masih menjadi energi primer pembangkit listrik nasional yang murah dan efisien. Hanya saja limbah abu terbang atau fly ash yang dihasilkan mengandung logam berat berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. Di tangan Chundakus Habsya, limbah fly ash tersebut dapat dimanfaatkan sebagai panel dinding beton ringan foam (lightweight foamed concrete/LFC) yang dapat menghemat biaya konstruksi dan konsumsi energi gedung. Seperti apa inovasinya?

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo.

BATUBARA untuk energi pembangkit listrik menghasilkan dua jenis limbah, yakni abu dasar (bottom ash/BA) dan abu terbang (fly ash/FA). Dibandingkan BA, jumlah limbah FA mencapai 80 persen lebih banyak dan lebih berbahaya. Karena abu yang mengandung banyak logam berat ini dapat terbang di udara dan apabila terhirup dapat berdampak kepada kesehatan manusia, salah satunya yaitu menimbulkan penyakit kanker.

Sebagai dosen Pendidikan Teknik Bangunan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS), Chundakus berusaha meneliti dan merancang penggunaan limbah fly ash agar tidak berbahaya. Akhirnya dia mencoba menggunakan ini sebagai bahan panel dinding.

“Selama ini mayoritas dinding bangunan menggunakan batu bata atau batako. Padahal beban kedua material tersebut cukup besar, membuat beban komponen struktur dan konduktivitas termalnya besar pula. Hasilnya, dinding pun menjadi lebih cepat terkonduksi udara panas dari luar,” bebernya.

Chundakus menawarkan solusi berupa panel dinding beton ringan foam dengan bahan tambah FA (LFC-FA). Karena memiliki densitas rendah, kuat tekannya cukup tinggi, dan konduktivitasnya rendah yang mampu mengurangi beban struktur, dimensi struktur, biaya konstruksi dan biaya energi.

“LFC merupakan isolasi panas yang bagus, cocok dengan Indonesia yang beriklim tropis yang cenderung membutuhkan bangunan yang menyejukkan,” sambungnya.

Penelitian ini dilakukan dengan menguji komposisi campuran semen dan pasir dengan rasio sebesar 1 : 2,  foam sebesar 30-50 persen dari volume mortar, dan FA sebesar 0-60 persen dari berat pasir. Hasilnya menunjukkan, semakin besar presentase  foam di dalam LFC, maka menghasilkan densitas, kuat tekan, dan konduktivitas termal semakin kecil.

Semakin besar persentase FA dan kontribusi senyawa lain di dalam LFC dapat meningkatkan kuat tekan, densitas, dan konduktivitas termal sampai pada FA 45 persen, namun turun pada FA 60 persen. 

“Kuat tekan panel dinding LFC-FA ini memenuhi American Standard Testing and Material (ASTM) beton partisi sehingga aman untuk digunakan. Berat 1 m3 panel dinding LFC-FA lebih ringan 28,35 persen dari pada dinding batu bata. Konduktivitas termal panel dinding LFC-FA 23,3 persen lebih rendah dari dinding batu bata,” jelas Chundakus.

Berdasarkan simulasi konsumsi energi per bulan bangunan tipe 30 (T-30) menggunakan aplikasi design builder, panel dinding LFC-FA juga lebih hemat 8 persen daripada dinding batu bata. Perhitungan anggaran biaya berdasarkan standar dan perhitungan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Tengah menghasilkan penghematan 4 persen lebih daripada dinding batu bata.

Panel dinding LFC-FA ini juga diklaim memiliki kandungan zat pencemar jauh lebih rendah dari ambang batas PP.RI.no. 101 Tahun 2014.

“Secara kumulatif, penggunaan panel dinding LFC-FA memiliki banyak keuntungan. Di antaranya setiap produksi LFC-FA 1,57 ton/bulan akan mengurangi limbah FA 800 ton/bulan lebih (5 persen limbah FA PLTU Tanjung Jati Jepara), biaya konstruksi T-30 menggunakan panel dinding LFC-FA  4 persen lebih hemat dan operasional konsumsi energi  8 persen lebih hemat dari dinding batu bata,” ungkapnya.  

Chundakus menyebut penggunaan panel dinding LFC-FA ini tidak hanya akan memberikan keuntungan bagi pemilik rumah tapi juga pengembang (developer) karena pekerjaan panel dinding LFC lebih mudah dan cepat daripada menggunakan batu bata atau batako.

“Selisih biaya bangunan lebih hemat 4 persen, dan reduksi beban struktur highrise buildings menggunakan panel dinding LFC-FA sangat signifikan, karena setiap 1 meter kubik panel dinding LFC-FA lebih ringan 28,35 persen daripada dinding batu bata,” imbuhnya.

Penelitian tersebut diangkat dalam sebuah disertasi berjudul "Pemanfaatan Limbah Fly Ash Batubara untuk Panel Dinding Beton Ringan Foam ditinjau dari Sifat Fisik dan Mekanik" dan membawa Chundakus meraih gelar doktor. (*/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia