Selasa, 19 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Features

Faqih Ghozali Cs Temukan Inovasi Cangkang Telur untuk Campuran Beton 

15 Maret 2019, 14: 58: 35 WIB | editor : Perdana

INOVASI: Temuan Faqih Ghozali bersama rekan-rekannya mendapat apresiasi.

INOVASI: Temuan Faqih Ghozali bersama rekan-rekannya mendapat apresiasi.

Cangkang telur yang biasanya menjadi limbah rumah tangga, kini bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan beton. Bahkan diklaim memiliki kandungan yang baik untuk membuat beton lebih kuat. Seperti apa inovasi temuan tersebut?

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo.

ADALAH Muhammad Faqih Ghozali, Nihayatus Sailir Rohma, dan Retno Trica Maharani yang mempersembahkan inovasi pembuatan beton ringan menggunakan limbah berupa genteng, hebel (bata ringan), cangkang telur, dan abu sekam padi. Penambahan serbuk cangkang telur serta abu sekam padi dalam campuran beton karena limbah tersebut memiliki kandungan yang baik dalam pembuatan beton.

“Limbah genteng sebagai pengganti kerikil, hebel atau bata ringan sebagai pengganti pasir, sementara serbuk cangkang telur dan abu sekam padi sebagai pengganti semen," beber Ketua Tim 1, Muhammad Faqih Ghozali kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Penggunaan limbah-limbah tersebut dalam pembuatan beton ini juga berguna untuk mengurangi permasalahan lingkungan hidup karena biasanya material tersebut hanya dibuang begitu saja. Dengan penggunaan material itu, beton akan menjadi lebih ringan tetapi tetap memiliki kuat tekan yang lebih tinggi dibanding beton konvensional.

“Saat berumur tiga hari, beton mereka memiliki berat 9,5 kilogram (kg) dengan rata-rata kuat tekan 15,93 MPa. Kemudian saat berumur tujuh hari, berat beton bertambah menjadi 9,6 kg dengan rata-rata kuat tekan 25,04 MPa. Karena ringan, beton buatan kami cocok untuk pengaplikasian plat lantai karena dapat mengurangi beban tanah,” jelas Faqih.

Biasanya berat beton biasa bisa mencapai 15 kg. Beton buatan Faqih dan tim lebih ringan sehingga mengurangi berat struktur bangunan. Juga dapat mengurangi ukuran pondasi karena beban yang ditampung lebih kecil. Beton ringan juga sekaligus menekan biaya pembuatan.

Sementara tim lainnya, yang terdiri atas Rezal Muis Pratomo, Farizka Alriansyah, dan Naimatun Mutmainah menciptakan beton ringan dengan bahan campuran cangkang keong dan fly ash (abu terbang). Fly ash merupakan limbah dari pembakaran batu bara yang dipakai sebagai sumber energi dalam tenaga pembangkit listrik.

“Cangkang keong dijadikan serbuk terlebih dahulu sebagai pengganti sebagian semen. Cangkang keong memiliki senyawa Kalsium (Ca) sebesar 93 persen dan 43 persen untuk penyusun semen. Kemudian baru ditambahkan, fly ash tipe C yang memiliki kandungan silika dan kalsium cukup tinggi,” terang Ketua Tim 2, Rezal Muis Pratomo.

Mereka juga memanfaatkan limbah keramik sebagai pengganti agregat kasar dalam campuran pembuatan beton karena memiliki berat jenis lebih kecil daripada kerikil dan nilai abrasinya rendah. Ditambahkan juga abu apung sebagai pengganti parsial agregat halus. 

“Bahan-bahannya sangat mudah dicari. Misalnya keramik, di Surakarta, ada 64 home industri keramik yang setiap harinya paling tidak menghasilkan limbah keramik mencapai 1 meter kubik (m3),” sambungnya.

Hasilnya, pembuatan beton dapat menghemat semen antara 10-20 persen. Sedangkan, kuat tekannya sebesar 40kN pada umur 4 hari dan berat 10,2 kilogram (kg).  “Keunggulan beton kami yaitu biaya relatif lebih murah dari beton biasa karena memanfaatkan limbah daerah yang ada. Kira menghemat biaya pembuatan sekitar 10 persen,” ungkap Muis.

Dengan adanya inovasi beton ciptaan mereka, kedua tim berharap dapat berkontribusi dalam mengatasi permasalahan limbah yang masih momok bagi Indonesia. “Kami bersyukur kepada Allah Swt, karya kami dapat bermanfaat untuk Indonesia dalam mengurangi limbah. Harapannya, semoga dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur ke depannya,” ujarnya. (aya/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia