Jumat, 26 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Features

Rumah Cerdas Indonesia Bertahan di Bekas Garasi

Peralatan Belajar Mulai Usang, Atap pun Bocor

17 Maret 2019, 11: 05: 59 WIB | editor : Perdana

PENUHI HAK PENDIDIKAN: Kegiatan belajar anak putus sekolah di RCI. Foto kanan, penggagas RCI Baharudddin Ussudullah.

PENUHI HAK PENDIDIKAN: Kegiatan belajar anak putus sekolah di RCI. Foto kanan, penggagas RCI Baharudddin Ussudullah. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Tak perlu menunggu kaya untuk bisa membantu sesama. Itu menjadi prinsip Baharuddin Ussudullah. Pria yang berprofesi sebagai guru SD swasta ini membentuk kelompok belajar gratis untuk anak putus sekolah.

SILVESTER KURNIAWAN, Solo

Bahar, begitu dia akrab disapa. Warga Kampung Kedungtungkul, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres ini sehari-hari mengajar di SDIT Ulil Albab Gondangrejo, Karanganyar. Pulang dari sekolah, giliran mengajar di Rumah Cerdas Indonesia (RCI) yang memanfaatkan garasi rumah kerabatnya. 

“Kalau lelah sih tidak. Karena RCI kelasnya hanya Jumat sampai Minggu dari pukul 16.00-17.30," jelas dia.

RCI didirikan Bahar sekitar dua tahun lalu. Bertepatan dengan dirinya menekuni profesi sebagai guru. Kala itu, pria murah senyum ini prihatin cukup banyak anak putus sekolah di lingkungannya. Dia kemudian curhat dengan remaja masjid kampung setempat. Dari situ, lahirlah ide mendirikan RCI. 

Tantangan tidak berhenti di sini. RCI tentu saja butuh tempat untuk anak-anak belajar dan berteduh dari hujan dan panas. Beruntung, ada saudara Bahar yang baik hati dengan meminjamkan garasinya. 

Separo garasi berukuran 4x5 meter yang tadinya berisi benda-benda jarang dipakai dibersihkan. Dijadikan ruang belajar agar anak-anak putus sekolah lebih nyaman beraktivitas.

"Tujuan kami dari awal memang untuk menyalurkan ilmu. Tak banyak warga kami bisa kuliah. Banyak yang putus sekolah setelah lulus SMP atau SMA. Makanya arah pembelajaran kami sama dengan sekolah reguler," jelas Bahar.

Tiga bulan berjalan, RCI hampir tutup. Satu per satu murid tak betah dengan model pembelajaran formal. Setelah dievaluasi, Bahar menemukan duduk masalahnya. Anak-anak terlalu lelah jika dipaksa belajar seharian penuh.

Sejak saat itu, konsep pembelajaran RCI diubah agar lebih menyenangkan. Yakni mengadopsi metode praktik dan outing class. Ternyata, cara tersebut mampu menarik minat anak-anak giat belajar.

"Banyak yang tidak menyangka kami masih bisa bertahan. Seluruh remaja masjid juga terlibat. Sekarang kami juga menggandeng relawan mahasiswa ikut mengajar. Kalau jumlah murid sekitar 40 anak,” katanya. 

Ketika kesibukan di RCI semakin meningkat, seluruh bagian gudang dijadikan ruang belajar. Sarana prasarana pendukung belajar ditambah. Namun, seiring berjalannya waktu, ruang belajar dan peralatan pendukungnya mulai kusam. Ada pula bagian yang bocor. 

"Pernah ada bantuan dari pemerintah. Tapi, hanya untuk pengadaan barang. Sementara operasional masih kami sokong bersama-sama," jelas dia.

Bahar berharap, RCI bisa berkembang sehingga dapat lebih banyak membantu anak putus sekolah. Tidak kalah pentingnya menjaga semangat relawan pengajar. "Cita-cita saya pengen sekolah ini tetap ada dan diteruskan oleh adik-adik atau generasi setelahnya," terang dia. (*/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia