Sabtu, 19 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Features
Selenoid Solo, Wadah Pehobi Kamera Analog

Ada Kenikmatan di Setiap Jepretan

17 Maret 2019, 16: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Ada Kenikmatan di Setiap Jepretan

Di tengah majunya perkembangan kamera digital, kamera analog masih diminati. Ada rasa tersendiri dalam mengabadikan moment menggunakan kamera analog.

Mayoritas fotografer hidup soliter dalam berkarya. Saat membuat karya kolaborasi pun pasti memotret hasil karyanya sendiri. Mereka tidak mungkin membentuk grup duet. Terlebih fotografer dengan kamera analog. Inilah yang menjadi alasan utama Selenoid Solo terbentuk.

”Peminat kamera analog jangan dibandingkan dengan kamera digital. Sebenarnya banyak yang main analog. Tapi masih sendiri, masih ndelik-ndelik. Makanya kami mencoba ngumpulin nih para fotografer kamera analog. Ibarat kampanye, komunitas ini tidak berjanji muluk. Tapi jalanin aja dulu,” kata Founder Selenoid Solo, Ade Rizal kepada Jawa Pos Radar Solo.

Niat ini sejalan dengan keinginan Ade mempertemukan orang-orang yang mau melestarikan kamera analog di tengah zaman yang serbadigital. Tren kamera analog dari tahun ke tahun sama. Jalan terus meski tidak ramai, juga tidak sepi peminat. Berbeda dengan tren kamera digital yang semakin ramai peminat dari masa ke masa.

”Tapi geliat ketertarikan terhadap kamera analog saat ini agak lumayan. Public figure banyak yang mulai motret pakai kamera analog. Mereka menjadi influencer bagi kalangan muda. Ini sedikit banyak mempengaruhi minat anak muda terhadap kamera analog,” jelasnya.

Ade yang membuka kios kamera analog sedikitnya menerima tiga sampai empat pelanggan yang datang untuk cuci scan film dalam seharinya. Tiap hari pula ia menerima pelanggan yang berbeda. Dari situ, Ade menilai bahwa sebenarnya masih ada orang yang berminat dengan kamera analog.

”Ada juga yang usianya masih belasan tahun. Anak-anak SMA mau motret pakai analog itu sudah termasuk geliat yang positif. Kalau dilihat 17 tahun silam, orang tua mereka sudah mengenal kamera digital dan meninggalkan kamera film. Seharusnya, seusia mereka sudah tidak mengenal bentuk negatif film,” bebernya.

”Nah, kamera analog risiko gagal lebih tinggi. Padahal pengguna kamera analog ini lebih menikmati kejutan di tiap hasilnya. Ada yang ditunggu tiap kali mencuci scan film. Inilah momen yang sebenarnya menjadi candu,” sambungnya.

Salah satu member Selenoid Solo, SJ Wardhana membenarkan hal itu. Menurutnya, kamera analog memberikan tantangan tersendiri bagi penggunanya. Setiap frame sangat berharga. Sehingga memotret pun harus dengan perhitungan.

”Tidak bisa seroyal kalau pakai kamera digital. Bisa main pencet sana-sini,” kataya.

Member lainnya, Fajar W menambahkan kamera analog bisa menjadi solusi bagi fotografer yang mulai bosan menggunakan kamera digital. Atau bisa juga mengenang masa kecil dengan mengumpulkan arsip foto.

”Saya pernah kehilangan klise foto masa kecil. Jadi pengen punya arsip fisik setiap kali motret sesuatu. Itu jadi motivasi utama saya mulai beralih ke kamera analog,” pungkasnya. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia