Kamis, 25 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Features

Melihat Karya Kolase Buatan Seniman Sigit Purnomo Adi

17 Maret 2019, 22: 22: 56 WIB | editor : Perdana

BERNILAI SENI: Ragam kolase karya Sigit Purnomo Adi diminati sampai luar negeri.

BERNILAI SENI: Ragam kolase karya Sigit Purnomo Adi diminati sampai luar negeri. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Memanfaatkan barang bekas menjadi karya seni kolase sudah dilakukan Sigit Purnomo Adi sejak 2011 silam. Butuh keahlian dan ketelitian hingga muncul karya seni bernilai tinggi. Hasil karyanya pun diakui hingga negara lain. 

A. Christian, Sukoharjo

DITEMUI Jawa Pos Radar Solo di rumahnya di Dusun Kebakan, Desa Sapen, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Sigit sedang sibuk membuat karya seni dua dimensi. Memang terkesan simpel. Sekadar menempel beberapa gambar menjadi satu gambar baru. Namun butuh ketelitian. Sebab apabila dilakukan secara tidak benar, maka karya yang dihasilkan tidak terlihat indah. Malah terkesan acak-acakan. 

Dosen Prodi Seni Rupa Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain UNS ini mengatakan, sebelum membuat karya, biasanya dia mengimajinasikan apa yang akan dituangkan dalam media kertas daur ulang.

“Jadi saya reka-reka dulu, kira-kira mau buat apa. Setelah gambaran kasar terlihat kemudian saya mulai kerjakan. Biasanya yang saya buat itu tema-tema kebudayana Jawa, misalnya tokoh pewayangan, kemudian seni abstrak,” ujarnya.

Untuk menghasilkan karya, lanjut Sigit, dia menggunakan kertas dan plastik bekas. Kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dari pengepul barang bekas. “Jadi tidak terlalu sulit untuk mencari bahan baku. Selain itu saya juga mencari dari rumah-rumah tetangga. Saya kumpulkan kemudian saya bersihkan,” katanya.

Untuk kertas sebelumnya direndam kemudian dijadikan bubur kertas untuk diolah menjadi kertas daur ulang. Setelah itu diberi cat sesuai kebutuhan, baru ditempel. “Khusus yang plastik nanti saya potong-potong sesuai kebutuhan baru ditempel. Ada juga yang saya bakar kemudian diteteskan ke kertasnya, tergantung estetikanya seperti apa,” katanya.

Sigit sendiri mulai mengerjakan seni ini sejak 2011 silam. Kala itu dia melihat banyak makalah yang menumpuk di rumah. Kemudian dia iseng membuat karya dari barang bekas tersebut. “Kemudian karena saya juga aktivis go green, dan memiliki dasar di seni rupa, akhirnya keduanya saya jadikan satu jadilah karya seni ini,” paparnya.

Hasil karya Sigit ini sudah diakui. Terbukti beberapa kali dia mengikuti pameran, baik kelas nasional hingga internasional. Seperti yang terbaru pameran di Printmaking And Paper Group Exhibition di Bandung serta Pameran Drawing Internasional di Macedonia. “Tahun ini rencananya mau pameran di empat negara berbeda, yaitu Filipina, Sebu, Thailand dan Spanyol,” ujar Sigit.

Selain itu, beberapa penghargaan di bidang seni rupa sudah berhasil disabet pria kelahiran Solo 16 Maret 1982 ini. Seperti menjadi semifinasil diajang International Printmaking and Paper Art Show, Penghargaan dari Unimas Sarawak Malaysia, Best Artwork di Pameran Internasional IVCE#1 2017, dan masih banyak lagi.

Meski sudah berkelas internasional, namun dia menjual dengan harga standar. Untuk satu figura berukuran 50x50 centimeter dipatok Rp 500 ribu sampai Rp `1,5 juta, tergantung tingkat kedetailan. Ada juga karya yang dijual dengan harga tinggi dengan  harga sekitar Rp 5 juta. “Kalau yang Rp 5 juta medianya saya buat dari kanvas,” katanya.

Untuk mempromosikan karyanya, dia menuturkan tidak pernah menjual lewat online maupun reseller. Namun dia menjual saat karyanya ini dipamerkan di muka umum. “Karena menurut saya kalau dijual secara online atau di-reseller itu kerajinan bukan karya seni,” ujarnya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia