Sabtu, 19 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Kendaraan Nekat Terobos Barikade Jalan Jensud

18 Maret 2019, 11: 05: 59 WIB | editor : Perdana

TAK TERTIB: Masih banyak kendaraan kucing-kucingan dengan petugas agar bisa menerobos barikade Jensud.

TAK TERTIB: Masih banyak kendaraan kucing-kucingan dengan petugas agar bisa menerobos barikade Jensud. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Sebagian koridor Jenderal Sudirman sudah ditutup sejak Jumat lalu. Sayangnya, meski sudah dipasang barikade, sejumlah kendaraan masih saja nekat menerobos. Kondisi ini banyak dikeluhkan sejumlah pengguna jalan lantaran rawan memicu kemacetan. 

Sebagian ruas koridor Jenderal Sudirman (Jensud) ini mengalami perubahan arus lalu lintas dan penutupan sebagian jalan. Perubahan arus lalu lintas dilakukan mulai dari Tugu Jam Pasar Gede di mana arus kendaraan dari Jalan Urip Sumoharjo dilarang masuk ke Jensud, mengingat ada perbaikan di sisi paling timur Jembatan Pasar Gede. 

Pantauan koran ini, ketika dijaga petugas lokasi itu tampak normal karena ada pengarahan dari petugas. Namun saat tidak diawasi, sejumlah kendaraan terpantau nekat menerobos ruas jembatan yang tinggal mengakomodasi dari arah tersebut (Jalan Jensud-Jalan Urip Sumoharjo). 

“Waktu siang masih tertib. Tapi ketika malam banyak kendaraan menerobos. Bisa-bisa tabrakan,” jelas Wahyu Yuwono, pedagang di sekitar Pasar Gede, Minggu (17/3).

Akibat tidak patuhnya pengendara ini, arus kendaraan kerap tersendat dan memicu kemacetan. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kecelakaan. Parahnya, pelanggar bukan berasal dari plat luar kota, namun justru plat lokal. “Padahal, ya sudah dikasih tahu oleh pedagang di sini. Mungkin karena sepi jadi nekat. Nah bahayanya kan bisa tabrakan dari arah berlawanan,” ujarnya. 

Kenekatan sejumlah pengguna jalan tak hanya terlihat pada malam hari. Pada pagi maupun siang, sejumlah kendaraan roda dua maupun kendaraan tidak bermotor juga nekad melintas di ruas jalan satu arah itu. “Kalau harus memutar rutenya panjang. Kami harap ada kelonggaran untuk becak seperti saya ini,” jelas Yanto, 48, pengayuh becak di sekitar Pasar Gede. 

Adanya fenomena tersebut memaksa Dinas Perhubungan Kota Surakarta wajib menimbang ulang manajemen dan rekayasa yang diterapkan. Oleh sebab itu, Senin (18/3) ini dishub bakal mengkaji ulang pengaturan lalu lintas tersebut. 

“Beberapa hari memang kami dapati ada yang nekat menerobos. Kalau merujuk aturannya jelas tidak boleh, tapi mungkin ini akan jadi bahan pertimbangan kami untuk evaluasi,” papar Kasi Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas, Dishub Surakarta, Mudo Priyatno. 

Kendati demikian, pertimbangan tersebut terlebih dahulu bakal dikomunikasikan dengan pihak kontraktor proyek. Mengingat pengaturan kemarin dilakukan untuk mengaomodasi pemeliharaan yang dilakukan pihak rekanan. 

“Kami komunikasikan dulu. Yang jelas roda empat tetap tidak diprioritaskan. Tapi untuk kendaraan roda dua maupun kendaraan tidak bermotor mungkin bisa diakomodasi. Apa lagi pengalihan ini membuat simpang Ketandan dan Simpang Loji Wetan pada jam masuk dan pulang kerja. Tapi nanti dilihat dulu kebutuhanya,” tegas Mudo. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia