Jumat, 26 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Keunikan Pasar Pinggul Minggu Legi di Desa Melikan, Wedi

Gunakan Koin Keramik sebagai Alat Pembayaran

18 Maret 2019, 10: 15: 59 WIB | editor : Perdana

TRADISIONAL: Pasar Pinggul Minggu Legi di Desa Melikan, Kecamatan Wedi.

TRADISIONAL: Pasar Pinggul Minggu Legi di Desa Melikan, Kecamatan Wedi. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Bosan dengan pasar tradisional yang itu-itu saja? Tak ada salahnya datang ke Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Klaten, tiap Minggu Legi. Ada pasar yang transaksinya pakai koin dari keramik.

ANGGA PURENDA, Klaten

CUACA mendung tidak menghentikan keriuhan pembukaan Pasar Pinggul Minggu Legi, kemarin (17/3). Suasana pedesaan kental terasa. Sengaja digelar di tepian Sungai Ujung, berhias rerimbunan pepohonan.

Di pasar ini, para pedagang menjajakan aneka jajanan pasar tempo dulu. Menambah kental suasana pedesaan, pedagang perempuan mengenakan kebaya dan jarit. Sedangkan laki-laki mengenakan surjan khas adat Jawa.

Menariknya lagi, transaksi jual-beli tidak menggunakan rupiah. Digantikan koin keramik produk khas Desa Melikan. Sebagai pengingat, desa setempat dikenal sebagai sentra produksi keramik dan gerabah.

Pasar Pinggul Minggu Legi diinisiasi ibu-ibu yang masuk dalam program keluarga harapan (PKH). Terinspirasi Pasar Dhoplang di Kabupaten Wonogiri. ”Dagangannya kue lupis, gemblong, plencing, tape goreng, soto, hingga produk kerajinan gerabah. Tapi uniknya ya kalau bayar pakai koin keramik,” kata Pendamping PKH Desa Melikan, Dany Utomo kepada Jawa Pos Radar Solo.

Baru pertama kali digelar, pasar langsung diserbu pengunjung. Sebanyak 1.000 biji koin keramik yang disediakan, ludes dipakai. Sebiji koin keramik setara Rp 2.000. Ditukarkan di meja panitia. Bahkan ada banyak pengunjung yang mengaku kekurangan koin. Panitia terpaksa mengambil lagi dari tempat persediaan.

”Saya datang bersama keluarga. Tukar Rp 50 ribu dapat 25 biji koin keramik. Saya pakai buat beli ketan, es dawet, soto, dan jajanan pasar. Rasa makanannya sama saja. Tapi bedanya ya suasana pedesaannya itu kental sekali,” kata Kabiyanto, 30, pengunjung Pasar Pinggul.

Pasar Pinggul buka pukul 06.00-11.00 WIB. Mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa setempat. ”Selama ini melalui APBDes, pelaku usaha kami pihaki sesuai kebutuhannya masing-masing. Harapannya pasar tradisional ini membuat kesejahteraan warga berkembang. Tetapi tetap mempertahankan transaksi uniknya,” papar Kepala Desa Melikan, Eko Purwadi.

Salah satu jajanan yang diserbu yakni kuliner soto. Nampak pengunjung sampe antre demi mendapat semangkuk soto segar.

”Harganya Rp 4.000 sudah dapat tempe goreng dan minuman jeruk hangat. Sudah laku 300 mangkuk. Semoga bisa digelar rutin tiap Minggu Legi dan pengunjungnya tambah banyak,” kata Sriayem, 46, pedagang Pasar Pinggul.

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia