Kamis, 19 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Features

Jejak Pasukan Elit Legiun Mangkunegaran

Pernah Disegani Dunia, Tersisa Satu Seragam

18 Maret 2019, 19: 20: 42 WIB | editor : Perdana

Jejak Pasukan Elit Legiun Mangkunegaran

Jauh sebelum Tentara Nasional Indonesia (TNI) terbentuk, kerajaan-kerajaan di Nusantara memiliki angkatan perang masing-masing untuk menjaga wilayah kerajaannya. Seperti halnya Pura Mangkunegaran. Meski berlingkup kadipaten, mereka  tetap memiliki pasukan elit militer dinamakan legiun. Namun sayang saat ini bukti fisik sejarah keberadaan pasukan ini sangat minim. Seperti apa masa kejayaan pasukan ini dan kondisi saat ini

SALAH satu bukti fisik tersisa yang dipakai Legiun Mangkunegaran ini adalah seragam yang saat ini tersimpan di Perpusatakan Mangkunegaran. Pakaian berwarna hitam ini merupakan milik Sri Paduka Mangkungaran VII.  Kondisinya memang sudah lapuk. Bagian bahu kanan seragam militer ini telah rusak. Meski begitu pangkat kolonel kehormatan masih tersematkan di kerah baju tersebut.

“Ini yang memberikan pangkat dari Ratu Kerajaan Belanda. Pelantikannya juga di Belanda, karena merupakan perwira tinggi KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) sebagai komandan tertinggi legiun,” kata Humas Pura Mangkunegaran Joko Pramudya kepada koran ini.

Lalu di mana seragam lainnya? Joko mengatakan hingga saat ini pihak Mangkunegaran juga masih mencari. Karena benar-benar hilang tak tersisa. Dia menduga seragam dibawa oleh para anggota legiun pasca pasukan ini dibubarkan oleh Sri Paduka Mangkunegaran VIII pasca Indonesia merdeka.

“Ini kami masih dalam proses pencarian. Senjatanya, seragamnya, dan pangkat-pangkatnya. Kami juga berharap apabila ada keluarga yang menyimpan seragam tersebut diminta mengembalikan kepada kami, karena itu merupakan  aset bukti sejarah yang tidak ternilai. Peninggalan leluhur untuk generasi selanjutnya,” katanya

Terlepas dari bukti sejarah yang saat ini sudah banyak yang hilang, Joko mengatakan, Legiun Mangkungaran merupakan salah satu pasukan elit militer yang mumpuni waktu itu. Embrio dari sudah terlihat sejak era Pangeran Sambernyawa atau Sri Paduka Mangkunegara I. 

“Mereka adalah pasukan gerilya yang berjuang selama belasan tahun bersama Pangeran Sambernyawa,” katanya.

Setelah Pangeran Sambernyawa berkuasa pada 1757, pasukan tersebut menjadi satuan militer Praja Mangkunegaran. Sebanyak 12 kesatuan yang berpengalaman bergerilya tetap dipertahankan dan ditambah dengan 22 unit infanteri, kavaleri dan artileri yang terdiri dari masing-masing 44 orang.

Pasca wafat, pasukan ini terus dikembangkan oleh Sri Paduka Mangkungeran II. Pasukan Legiun Mangkunegaran sendiri resmi berdiri pada 1808. Sri Paduka Mangkunegaran II terinspirasi dari pasukan angkatan darat yang dipimpin Napoleon Bonaparte. “Karena kala itu pasukan Napoleon merupakan angkatan darat terkuat,” ujarnya.

Joko memaparkan, sebenarnya Sri Paduka Mangkunegaran II tidak menyukai Belanda, namun demi membangun angkatan militer yang kuat, maka rasa ketidaksukaan tersebut haru disingkirkan. Yaitu dengan cara mengundang perwira tinggi dari Belanda, Prancis dan Inggris yang notabennya kala itu adalah penjajah.

Setelah didiskusi, akhirnya perwira dari tiga negara tersebut berkenan melatih para sipil dari rakyat Mangkunegaran. Sejak pertama kali diumumkan, ribuan pendaftar mendatangi pura Mangkunegaran, namun hanya 1.150 orang yang terpilih setelah melalui seleksi ketat. “Jadi kalau sekarang seperti Akmil dan Akpol,” kata Joko.

Mereka yang terpilih mendapatkan beragam pelatihan kemiliteran di Soldat Sekul. Pasukan elite ini dilatih agar mahir menggunakan berbagai senjata tajam berupa keris dan pedang. Legiun Mangkunegaran juga dilatih untuk piawai menggunakan tombak, sumpit dan panah serta senjata api maupun artileri (meriam).

“Pasukan ini dilatih untuk memiliki mobilitas tinggi dengan menggunakan kuda sehingga unsur infanteri, kavaleri dan artileri tergabung di dalamnya. Legiun Mangkunegaran juga dilatih agar mampu menghadapi perang jangka panjang maupun perang gerilya,” ujarnya.

Dijelaskan Joko, dari 1.150 pasukan ini lantas dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu 800 prajurit infanteri (Fusilier), 100 prajurit penyerbu (Jagers), 200 prajurit kavaleri (berkuda), dan 50 prajurit rijdende artileri (meriam). Sedangkan untuk struktur organisasi, mereka dipimpin dua orang perwira senior berpangkat mayor.

Kemudian struktur di bawahnya ada empat letnan ajudan, sembilan kapitein, delapan letnan tua, delapan letnan muda. Selanjutnya bintara sebanyak 32 sersan, tamtama 62 kopral, flankier 900 orang, dragonder (dragoon) 200 orang, dan steffel 50 orang. 

“Untuk bintara dan prajurit seragam mereka antara lain topi syako dan jas hitam. Sedangkan untuk perwira sama, namun celananya berwarna putih,” kata Joko.

Sejak didirikan, Legiun Mangkunegara terlibat dalam berbagai pertempuran, seperti Perang Napoleon di Asia sebagai bagian dari pasukan Perancis-Belanda melawan pasukan Inggris-Sepoy  pada 1811, perang menumpas bajak laut di Bangka 1819-1820, Perang Jawa 1825-1830, Perang Aceh 1873-1904, hingga menghadapi Jepang dalam perang Pasifik tahun 1942.

“Para legiun ini digaji dan dibayar dengan Gulden (mata uang Belanda). Namun  tidak hanya itu, karena memiliki membutuhkan pemasukan, pasukan ini tidak hanya menjaga Mangkunegaran, namun juga disewakan untuk kebutuhan perang,” katanya.

Untuk fasilitas, para legiun sendiri mendapat hunian tidak jauh dari kawasan Mangkunegaran, yaitu di Pamadean serta di kawasan Kampung Ngeblokan, Kelurahan Kebrabon, Kecamatan Banjarsari (sekarang Asrama Militer Ngeblokan).

Layaknya anggota militer , para Legiun Mangkunegaran in juga menjalani pendidikan dasar bagi masyarakat sipil. Contohnya pada era Sri Paduka Mangkungeran VII, KH Ahmad Dahlan menitipkan para santrinya untuk diajarkan kedisiplinan, serta untuk membentuk karakter pemuda kala itu.

Masa kejayaan Legiun berakhir setelah dibubarkan pada 1945 oleh Sri Padukan Mangkunegaran VIII. Sebab, kala itu tidak boleh ada pasukan yang dimiliki kerajaan. Pasca proklamasi dikumandangkan Mangkunegaran secara otomatis berada di bawah NKRI. Saat itu para mantan legiun diberi kebebasan untuk bergabung menjadi anggota Mangkunegaran, pensiun atau bergabung dengan republik.

“Karena Soekarno memiliki kedekatan dengan kerajaan-kerajaan di wilayah Solo dan Jogjakarta, kemungkinan legiun yang melepaskan diri dari Mangkunegaran melebur ke TKR (Tentara Keamanan Rakyat), karena mereka sudah memiliki basik (militer), mengingat waktu itu Akmil dan Akpol belum ada,” beber Joko.

Karena sudah tidak ada seragam yang tersisa, maka pihak Mangkunegaran ketika menggelar kirab pasukan setiap 1 Sura, mereka menggunakan seragam meyerupai legiun. Meski sebenarnya mereka merupakan abdi dalem Pura Mangkunegaran. Pakaian  dan senjata yang dibawa mereka juga merupakan replika. “Untuk gerakan baris-berbaris, dan lain-lain kita adopsi dari literatur yang kita punya,” tutur Joko.

Sejarawan asal Solo Heri Priyatmoko mengatakan, Legiun Mangkunegaran memiliki catatan tersendiri dalam perkembangan sejarah kejayaan Pura Mangkunegaran. Sayangnya, relatif sedikit ditemukan sumber sejarah berupa benda yang menjadi saksi dan penjaga ingatan yang mampu bercerita panjang lebar mengenai riwayat pasukan modern pertama di Nusantara tersebut. 

Karena minimnya jejak sejarah tersebut, sampai-sampai pemandu wisata di Pura Mangkunegaran angkat tangan. Mereka mengaku kesulitan menunjukkan artefak warisan legiun yang dipamerkan di museum.  

“Detik ini yang tersisa hanyalah seongok bangunan kuno, yaitu gedung kavallerie-artillerie yang berada di pojok timur Pamedan,” katanya.

Heri mengatakan , satuan prajurit perang bentukan kolonial itu sempat menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah, sekaligus kebanggaan keluarga bangsawan Mangkunegaran tempo dulu. Namun hal tersebut sekadar cerita klasik, bahkan tidak lagi tersimpan rapi dalam memori masyarakat sekitar. Meskipun bapak atau kakek mereka  dulu mungkin berlomba mendaftarkan diri masuk serdadu legiun.

”Sangat ironis ketika warga kota tidak mengetahui peran penting legiun dalam arus besar sejarah Kota Solo dan juga sejarah modernisasi dan reformasi militer Indonesia. Padahal, di situ Legiun Mangkunegaran mempunyai keterkaitan, dan telah menjadi sumber inspirasi banyak hal. Boleh dikatakan, riwayat historis legiun sekarang telah terlupakan,” urai Heri.

Meski begitu, lanjut Hari, ada beberapa buku yang dapat dibaca perpustakaan Pura Mangkunegaran, Rekso Pustaka yang menuliskan sejarah Legiun Mangkunegaran. Seperti karya Iwan Santoso, Letnan Kolonel H.F Aukes, naskah Sarwanta Wirya Saputra. “Namun sayangnya lebih condong terhadap perspektif sejarah militer,” katanya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia